Raden Mas Said melawan VOC dan dua kekuatan Mataram hingga Perjanjian Salatiga 1757. Dari gerilya lahir Mangkunegaran di Surakarta.
INDONESIAONLINE – Sejarah Jawa pada abad ke-18 tidak hanya ditulis oleh mereka yang duduk di singgasana. Di antara tembok keraton, perjanjian yang ditandatangani dengan tinta, dan peta kekuasaan yang digambar ulang oleh tangan kolonial, ada seorang bangsawan yang memilih jalan berbeda.
Namanya Raden Mas Said.
Ia lahir di Kartasura pada 7 April 1725. Kelak namanya lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa, lalu Mangkunegara I, pendiri Mangkunegaran. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Sebuah kajian sejarah yang tersimpan dalam pangkalan data Garuda Kementerian Pendidikan menyebut Raden Mas Said lahir di Kartasura pada 7 April 1725 dan wafat di Surakarta pada 28 Desember 1795 dalam usia 70 tahun. Julukan Sambernyawa dikaitkan dengan Gubernur VOC Nicolaas Hartingh, yang menggambarkan sepak terjangnya dalam peperangan.
Namun, keberanian Said tidak muncul dari ruang kosong.
Ia tumbuh dalam keluarga kerajaan yang mengalami pahitnya politik kekuasaan. Ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara, merupakan putra Amangkurat IV. Ketika Said masih kanak-kanak, ayahnya disingkirkan oleh kekuasaan yang saat itu telah semakin bergantung kepada VOC. Pengasingan Arya Mangkunegara menjadi salah satu luka yang membentuk perjalanan hidup Said.
Bagi seorang anak keraton, kehilangan ayah bukan sekadar kehilangan keluarga. Di Jawa abad ke-18, itu bisa berarti kehilangan hak, kedudukan, sekaligus masa depan.
Said kemudian tumbuh di tengah keraton yang politiknya semakin kusut. Mataram bukan lagi kerajaan yang berdiri sepenuhnya bebas dari pengaruh VOC. Campur tangan perusahaan dagang Belanda itu semakin dalam, terutama dalam urusan pergantian kekuasaan dan hubungan antarkerabat kerajaan.
Pada usia 19 tahun, Said memasuki gelanggang sejarah.
Tahun 1742, Kartasura diguncang Geger Pacinan. Pemberontakan orang-orang Tionghoa terhadap VOC berkembang menjadi konflik luas yang menyeret kekuatan-kekuatan Jawa. Dalam pusaran itu, Raden Mas Said bergabung dengan Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning. Kartasura bahkan berhasil diduduki, sementara Pakubuwana II menyingkir.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik besar sejarah Mataram. Ketika Pakubuwana II kembali, pusat kerajaan telah rusak. Keraton kemudian dipindahkan ke Surakarta. Perpindahan pusat kekuasaan itu menandai berakhirnya era Kartasura dan lahirnya Kasunanan Surakarta.
Tetapi bagi Said, perpindahan keraton tidak berarti berakhirnya perang. Ia justru menemukan jalan yang lebih panjang.

Dari Sekutu Menjadi Lawan
Said kemudian bersekutu dengan Pangeran Mangkubumi, saudara Pakubuwana II. Keduanya memiliki kegelisahan yang sama terhadap dominasi VOC dan kekuasaan Pakubuwana II. Mereka memilih pedalaman sebagai ruang perang, bergerak dari satu tempat ke tempat lain, menggunakan medan Jawa sebagai pelindung.
Di sinilah kemampuan Said sebagai pemimpin perang semakin terlihat.
Ia tidak memiliki istana besar untuk menjadi pusat kekuatan. Tidak pula mempunyai persenjataan sebagaimana VOC. Yang dimilikinya adalah pasukan, pengetahuan medan, keberanian dan kemampuan menjaga loyalitas pengikut.
Pemerintah melalui data cagar budaya mencatat bahwa Pura Mangkunegaran dibangun oleh Raden Mas Said setelah rangkaian konflik politik dan pembagian kekuasaan Mataram. Sumber resmi tersebut menyebut pembagian Mataram melalui Perjanjian Giyanti 1755 kemudian diikuti lahirnya wilayah Mangkunegaran setelah perlawanan Said berlanjut.
Tetapi jalan menuju Mangkunegaran tidak sederhana.
Ketika Pakubuwana II meninggal pada 1749, perebutan pengaruh semakin tajam. Mangkubumi kemudian berunding dengan VOC. Puncaknya adalah Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, yang membagi wilayah Mataram dan mengakui Mangkubumi sebagai penguasa Yogyakarta dengan gelar Hamengkubuwana I.
Said menolak hasil itu. Bagi dirinya, perjanjian tersebut bukan penyelesaian, melainkan pembelahan Jawa.
Ia pun berpisah dari Mangkubumi. Sejak saat itu, peta musuhnya berubah secara drastis. Said tidak lagi hanya berhadapan dengan VOC. Ia juga menghadapi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
Tiga kekuatan mengepung satu pasukan yang bergerak dari pedalaman ke pedalaman. Namun Said tidak memilih menyerah.
Perlawanan berlangsung melalui gerilya. Hutan, desa dan jalur-jalur pedalaman menjadi ruang pertempuran. Kajian akademik mengenai perlawanan Raden Mas Said mencatat konflik bersenjata itu berlangsung dalam rentang 1742 hingga 1757.
Julukan Sambernyawa kemudian melekat pada dirinya. Nama itu menggambarkan reputasi seorang panglima yang kehadirannya di medan perang membawa ancaman serius bagi lawan.
Di balik legenda tersebut, ada pula kenyataan bahwa perang pada masa itu meninggalkan korban dalam jumlah besar. Angka-angka dalam babad dan sumber sejarah tradisional memang perlu dibaca dengan hati-hati karena berbeda dengan metode pencatatan militer modern. Namun, sumber-sumber itu memperlihatkan satu hal yang sama: pasukan Said menjadi kekuatan yang sulit ditundukkan. Ia bahkan berhasil mempertahankan perlawanan setelah sekutu-sekutunya memilih berdamai.
Perjanjian Salatiga dan Lahirnya Mangkunegaran
Pada titik tertentu, perang yang panjang membuat semua pihak mencari jalan keluar. VOC menyadari bahwa Said tidak mudah ditangkap. Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta juga menghadapi persoalan yang sama. Akhirnya, perundingan menjadi pilihan.
Pada 17 Maret 1757, Perjanjian Salatiga ditandatangani. Perjanjian itu menjadi penutup penting bagi konflik panjang yang melibatkan Raden Mas Said. Dari perjanjian tersebut lahirlah sebuah wilayah kekuasaan baru: Mangkunegaran.
Raden Mas Said memperoleh wilayah untuk diperintah dan kemudian bergelar Mangkunegara I. Ia tidak menjadi sunan seperti penguasa Surakarta atau sultan seperti penguasa Yogyakarta. Kedudukannya berada pada tingkat adipati, tetapi wilayahnya memiliki pemerintahan dan struktur kekuasaan sendiri.
Pura Mangkunegaran di Surakarta menjadi warisan fisik paling mudah dikenali dari perjalanan tersebut. Data resmi Cagar Budaya Kementerian Pendidikan mencatat kompleks tersebut sebagai cagar budaya tingkat kabupaten/kota.
Perjanjian Salatiga dengan demikian bukan sekadar tanda berhentinya perang. Ia mengubah wajah politik Jawa. Jika sebelumnya pusat kekuasaan Mataram telah terbelah menjadi Surakarta dan Yogyakarta melalui Giyanti, maka Salatiga menambahkan satu pusat kekuasaan baru: Mangkunegaran.
Sebuah perlawanan yang pada mulanya dianggap sebagai gangguan terhadap tatanan akhirnya justru melahirkan institusi politik baru.
Di sinilah kisah Sambernyawa menjadi menarik. Ia bukan sekadar cerita tentang seorang bangsawan yang mahir mengangkat senjata. Ia adalah kisah tentang seseorang yang menolak menerima pembagian kekuasaan sebagai sesuatu yang sudah selesai.
Raden Mas Said hidup dalam zaman ketika VOC mampu memengaruhi suksesi kerajaan. Ia menyaksikan bagaimana kepentingan kolonial masuk ke ruang-ruang istana. Ia juga menyaksikan bagaimana konflik keluarga kerajaan dapat berubah menjadi perang yang panjang.
Karena itu, perjuangannya tidak bisa hanya dibaca sebagai perang antarkerajaan. Di dalamnya terdapat perebutan legitimasi, pertarungan kepentingan keluarga, serta campur tangan kekuatan kolonial.
Warisan politiknya kemudian bertahan jauh melampaui hidupnya.
Mangkunegaran berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan penting di Surakarta. Bahkan sumber resmi Warisan Budaya Indonesia mencatat bahwa perkembangan seni tari Mangkunegaran berakar dari periode setelah berdirinya kadipaten tersebut.
Artinya, jejak Raden Mas Said tidak berhenti ketika pedang disarungkan. Ia hidup dalam tembok Pura Mangkunegaran, dalam tradisi seni, dalam ingatan sejarah, dan dalam identitas kebudayaan Surakarta.
Raden Mas Said wafat pada 28 Desember 1795. Usianya mencapai 70 tahun. Tetapi usia panjang itu datang setelah puluhan tahun melewati perang, pengkhianatan, perundingan dan pergantian kekuasaan.
Sejarah kemudian memberinya nama lain: Mangkunegara I.
Namun nama Pangeran Sambernyawa tetap bertahan karena di baliknya tersimpan gambaran tentang seorang manusia yang berkali-kali berada dalam keadaan terdesak, tetapi tidak mudah menyerahkan kehendaknya.
Ia pernah kehilangan ayah.
Ia pernah kehilangan sekutu.
Ia pernah menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar.
Dan pada akhirnya, ia membangun rumah kekuasaan sendiri.
Di tanah Jawa yang berkali-kali dibelah oleh perang dan perjanjian, kisah Raden Mas Said menyisakan satu ironi: seorang lelaki yang terus berperang untuk menolak pembelahan Mataram akhirnya menjadi pendiri salah satu pusat kekuasaan baru di antara pecahan-pecahan kerajaan itu.
Sejarah memang jarang berjalan lurus.
Kadang, seorang pemberontak akhirnya menjadi raja.
Kadang, seorang yang menolak tunduk justru meninggalkan warisan yang bertahan lebih lama daripada mereka yang pernah memaksanya berlutut.






