Menguak misteri Sarajevo Safari, fenomena kelam di mana orang kaya membayar untuk memburu warga sipil saat Perang Bosnia. Simak investigasi lengkapnya.
INDONESIAONLINE – Dunia mengenal istilah “Safari” sebagai perjalanan prestisius di padang rumput Afrika untuk memburu singa, gajah, atau kerbau liar. Tanduk dan kepala hewan-hewan itu kemudian dipajang di dinding ruang tamu sebagai simbol status sosial kaum elite. Namun, tiga dekade silam, di jantung Benua Eropa yang beradab, istilah ini bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan dan menjijikkan: perburuan manusia.
Fenomena yang dikenal sebagai “Sarajevo Safari” bukan lagi sekadar rumor warung kopi di kawasan Balkan. Melalui riset terbaru jurnalis investigasi Kroasia, Domagoj Margetić, yang dituangkan dalam buku Plati I Pucaj! Tajne Sarajevskih Ijudskih Safarija (Bayar dan Tembak! Rahasia Safari Manusia Sarajevo), tabir gelap ini kembali tersingkap di tahun 2026.
Investigasi Margetić memperkuat temuan dokumenter Sarajevo Safari (2022) karya Miran Zupanić, yang sempat menghentak nurani publik global.
Logistik Maut: Dari Helikopter ke Bukit Penembak
Pengepungan Sarajevo (1992–1996) adalah pengepungan terlama dalam sejarah modern, berlangsung selama 1.425 hari. Di saat lebih dari 400.000 warga sipil terperangkap dalam kelaparan dan hujan peluru, muncul sebuah “celah pasar” yang dimanfaatkan oleh unit paramiliter di bawah Tentara Republika Srpska (VRS).
Margetić dalam risetnya yang merentang dari tahun 1996 hingga 2026, menemukan bahwa paket wisata maut ini diorganisir dengan rapi. Para “turis” yang berasal dari kalangan jetset Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Rusia, Jerman, Spanyol, hingga Italia, tidak datang melalui garis depan yang berlumpur. Mereka masuk melalui jalur-jalur penyelundupan yang dikelola oleh intelijen lintas negara.
Salah satu nama yang mencuat adalah Zvonko Horvatincic, mantan perwira intelijen yang diduga menjadi perantara bagi turis kaya asal Italia. Para pemburu ini biasanya mendarat di pelabuhan Zadar atau Split di Kroasia, kemudian dibawa ke kota kecil Knin sebelum akhirnya “diserahkan” kepada paramiliter Serbia di Sarajevo.
Mereka diberi fasilitas mewah di tengah kecamuk perang, termasuk transportasi helikopter dan akomodasi di Vogošća, sebuah area di barat laut Sarajevo.
Daftar Harga: Nyawa yang Dibanderol Marks
Yang membuat bulu kuduk berdiri bukan hanya keberadaan para pemburu ini, melainkan sistem “tarif” yang diberlakukan. Berdasarkan arsip yang didapat Margetić dari mendiang perwira Bosnia, Nedžad Ugljen, setiap target memiliki nilai ekonomi yang berbeda.
Ugljen mencatat bahwa jasa memandu bidikan ini dibanderol mulai dari 80.000 Deutsche Marks (mata uang Jerman saat itu). Namun, ada spesifikasi keji yang meningkatkan harga:
- Warga Sipil Dewasa: 80.000 Marks.
- Gadis Kecil/Anak-anak: 95.000 Marks.
- Ibu Hamil: 110.000 Marks.
“Ugljen menuliskan dalam berkasnya bahwa orang-orang asing ini bahkan saling bersaing untuk melihat siapa yang mampu menembak perempuan paling cantik,” tulis Margetić dalam bukunya.
Ini bukan sekadar pembunuhan; ini adalah olahraga rekreasi bagi mereka yang memiliki gangguan psikopatologi dan uang yang tak berseri.
Kesaksian dari Balik Lensa dan Senjata
Meskipun pejabat tinggi Serbia terus membantah keberadaan fenomena ini, bukti-bukti sejarah sulit untuk dihapus. Salah satu bukti visual paling nyata terekam dalam film Serbian Epics (1992) karya Paweł Pawlikowski.
Dalam satu adegan, penyair radikal Rusia, Eduard Limonov, terlihat berbincang santai dengan pemimpin Serbia, Radovan Karadžić, sebelum Limonov dengan bangga memberondongkan senapan mesin ke arah pemukiman sipil di Sarajevo dari perbukitan Trebević.
Kesaksian lain diperkuat oleh John Jordan, seorang veteran Marinir AS. Saat bersaksi di International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) di Den Haag pada 2007, Jordan menyatakan bahwa ia sering melihat individu-individu berpakaian sipil mahal dengan senjata canggih di posisi penembak runduk (sniper) Serbia.
“Cara mereka berpakaian dan senjata yang mereka bawa sangat berbeda dengan tentara reguler. Mereka dipandu oleh militer untuk mendapatkan posisi tembak yang strategis,” ungkap Jordan.
Di tahun 2026, kesaksian baru muncul dari Aleksander Licanin, seorang mantan serdadu paramiliter Serbia yang dihadirkan dalam persidangan di Milan. Licanin mengonfirmasi bahwa unit pimpinan Slavko Aleksić di Pemakaman Tua Yahudi sering menerima tamu asing.
“Mereka mengenakan jaket kulit mahal. Mereka bukan tentara, mereka adalah orang-orang gila yang membayar untuk merasakan sensasi mencabut nyawa,” ujar Licanin.
Tragedi yang Terlupakan
Untuk memahami skala kekejaman ini, kita harus melihat data Pengepungan Sarajevo. Selama hampir empat tahun, rata-rata 329 peluru jatuh di kota itu setiap harinya. Rekor tertinggi mencapai 3.777 peluru pada 22 Juli 1993.
Data resmi mencatat sekitar 11.541 orang tewas, di antaranya 1.601 adalah anak-anak. Sebagian besar dari mereka tewas akibat tembakan sniper saat sedang mengambil air atau menyeberang jalan yang kemudian dikenal sebagai “Sniper Alley”.
Investigasi Margetić menunjukkan bahwa sebagian dari ribuan nyawa yang melayang itu mungkin bukan hasil dari operasi militer resmi, melainkan hasil dari “wisata safari” yang dibayar tunai.
Upaya untuk menyeret para pemburu manusia ini ke meja hijau masih menemui jalan buntu. Walikota Sarajevo periode 2021-2024, Benjamina Karić, telah mengajukan pembukaan kasus ke Kejaksaan Bosnia, namun akses terhadap arsip militer Serbia dan identitas asli para turis asing tersebut sangat sulit ditembus.
Di Italia, jurnalis Ezio Gavazzeni melalui bukunya I checcini del weekend (Penembak Akhir Pekan), berhasil mendorong Kejaksaan Milan untuk mulai memanggil saksi pada akhir 2025. Fokusnya adalah melacak warga Italia yang terlibat dalam jaringan “Sarajevo Safari”.
Namun, setelah tiga dekade berlalu, banyak bukti fisik yang telah musnah dan para pelaku mungkin sudah hidup tenang dengan identitas baru di negara asal mereka.
Fenomena Sarajevo Safari adalah bentuk tertinggi dari apa yang disebut Hannah Arendt sebagai “banality of evil” atau kenormalan dalam kejahatan. Bagaimana mungkin seorang manusia dari negara maju, yang tumbuh dalam demokrasi dan hukum, rela terbang ribuan kilometer hanya untuk membidik ibu hamil melalui teleskop senapan?
Hingga saat ini, keadilan bagi para korban Sarajevo Safari masih menggantung di awang-awang. Namun, melalui karya-karya investigatif seperti milik Domagoj Margetić dan Miran Zupanić, dunia diingatkan bahwa ada noda hitam dalam sejarah kemanusiaan yang tidak boleh dihapus hanya karena waktu telah berlalu.
Sarajevo bukan sekadar kota yang terkepung; ia adalah saksi bisu di mana nyawa manusia pernah dihargai lebih murah daripada tiket hiburan kelas atas.













