Simfoni Hitam di Atas Sajadah: Kala Komunitas Gothic Metal Surabaya Mengaji

Simfoni Hitam di Atas Sajadah: Kala Komunitas Gothic Metal Surabaya Mengaji
Acara Ngaji lan Ngopi komunitas Gothic Metal di Surabaya. Habib Assegaf rangkul kaum underground lewat dakwah inklusif. (jtn/io)

Menelusuri fenomena unik ‘Ngaji Lan Ngopi’ komunitas Gothic Metal di Surabaya. Habib Assegaf rangkul kaum underground lewat dakwah inklusif.

INDONESIAONLINE – Malam di kawasan Lidah Wetan, Surabaya, biasanya didominasi oleh hiruk-pikuk mahasiswa dan aroma kopi dari deretan kedai yang menjamur. Namun, pada Minggu (10/5/2026), suasana di salah satu sudut warung kopi di wilayah tersebut terasa berbeda.

Tidak ada dentum musik pop atau indie yang biasa terdengar. Sebagai gantinya, geraman vokal berat (growl) dan distorsi gitar yang mencekam membelah udara.

Di sana, puluhan pemuda berbaju hitam dengan atribut tengkorak dan logo band metal berkumpul. Namun, mereka bukan sedang menggelar konser liar. Mereka hadir dalam forum bertajuk Ngaji Lan Ngopi Bareng Gothic Metal”. Sebuah inisiatif dakwah unik yang berusaha meruntuhkan tembok pemisah antara subkultur underground yang sering dianggap “kelam” dengan nilai-nilai spiritualitas Islam.

Melawan Stigma Lewat Distorsi dan Doa

Sekitar 80 peserta dari berbagai sudut Kota Pahlawan tampak khidmat mengikuti diskusi keagamaan yang dipandu oleh Habib Muhammad Assegaf. Formatnya santai: tanpa panggung tinggi, tanpa jarak yang kaku. Hanya ada kopi, kepulan asap rokok, dan keinginan untuk belajar.

Bagi komunitas gothic metal, stigma negatif adalah “makanan” sehari-hari. Musik mereka sering diasosiasikan dengan pemujaan setan, depresi, atau perilaku menyimpang. Namun, melalui forum ini, mereka ingin menunjukkan wajah yang berbeda.

Fredy Setyo Adi Wijaya, keyboardist dari band Innalillahi Gothic Metal, mengaku bahwa ini adalah momen bersejarah bagi karir bermusiknya. “Biasanya kami hanya tampil di konser-konser keras. Ini pertama kalinya saya ikut ngaji sekaligus tampil di hadapan jamaah yang juga kawan-kawan komunitas. Ini pengalaman tak terlupakan sekaligus cara kami meluruskan stigma,” ungkapnya.

Fredy menegaskan, lirik-lirik lagu yang dibawakan bandnya justru sarat akan pesan memento mori (pengingat akan kematian). Salah satu lagu hits mereka, “Tuhan Tak Akan Pernah Mati”, menjadi bukti bahwa distorsi musik bukan berarti distorsi iman. “Lirik kami bicara soal keesaan Tuhan dan bagaimana manusia sering terlena oleh dunia. Itu sangat religius,” tambahnya.

Pendekatan yang diambil oleh Habib Muhammad Assegaf dalam forum ini adalah bentuk nyata dari dakwah kultural. Dalam sejarah Islam di Nusantara, metode merangkul budaya lokal atau subkultur tertentu terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan konfrontatif.

“Semua orang punya hak untuk belajar agama tanpa perlu merasa dihakimi. Dakwah harus hadir di tengah siapa pun, termasuk komunitas musik metal yang selama ini mungkin merasa canggung masuk ke masjid atau majelis taklim formal,” ujar Habib Muhammad Assegaf dengan nada tenang.

Menurut beliau, esensi dari pengajian ini bukan untuk mengubah genre musik mereka, melainkan untuk memberikan fondasi akhlak dan pemahaman bahwa kreativitas seni—sekeras apa pun bentuknya—bisa menjadi jalan menuju Tuhan.

Indonesia Sebagai Episentrum Metal Dunia

Kehadiran komunitas metal dalam ruang-ruang religi sebenarnya bukan hal yang mengejutkan jika melihat data sosiologis. Indonesia, menurut laporan dari Metal Archives, memiliki salah satu konsentrasi band metal terbesar di Asia Tenggara. Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Malang, sejak era 1990-an telah menjadi kiblat musik cadas di Indonesia.

Fenomena “Metal Satu Saf” atau “Gothic Mengaji” mencerminkan tren hijrah yang lebih inklusif di Indonesia. Jika satu dekade lalu hijrah identik dengan meninggalkan profesi seni, kini para pelaku seni underground memilih untuk “membawa” seni mereka ke dalam koridor spiritual.

Andi Wahyudi dari band Negatoria menjelaskan bahwa genre gothic metal memiliki akar estetika pada kesunyian, kegelapan, dan perenungan mendalam. “Masyarakat sering salah paham. Mereka melihat luarnya saja hitam, padahal isi pesannya adalah kritik terhadap keserakahan manusia dan akhir zaman,” tuturnya.

Dalam perspektif sastra Islam, tema-tema yang diusung oleh band seperti Innalillahi sebenarnya memiliki kemiripan dengan konsep Sufisme yang menekankan pada kehampaan duniawi. Lirik tentang kematian dalam musik gothic metal berfungsi sebagai pengingat akan hari akhir, yang dalam Islam dikenal sebagai salah satu rukun iman.

Menghapus Sekat di Warung Kopi

Pemilihan warung kopi sebagai lokasi “Ngaji Lan Ngopi” juga memiliki makna strategis. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), ruang publik seperti warung kopi adalah tempat pertukaran informasi paling efektif bagi kelompok usia produktif (18-35 tahun).

Dengan membawa “meja pengajian” ke warung kopi, Habib Assegaf berhasil menciptakan zona nyaman (comfort zone) bagi komunitas yang biasanya enggan menyentuh institusi agama formal. Di sini, tidak ada tatapan sinis terhadap mereka yang berambut gondrong atau bertato. Yang ada hanyalah diskusi hangat tentang toleransi dan nilai-nilai keislaman.

“Kami ingin ke depan bisa menggelar pengajian dengan jamaah dari komunitas kami sendiri secara rutin. Agar teman-teman yang belum berani belajar agama secara terbuka bisa mulai pelan-pelan di sini,” harap Andi dari Negatoria.

Kegiatan “Ngaji Lan Ngopi Bareng Gothic Metal” di Surabaya ini bukan sekadar acara kumpul-kumpul biasa. Ia adalah simbol dari kedewasaan beragama dan berbudaya. Ketika musik metal yang garang bertemu dengan dakwah yang teduh, tercipta sebuah harmoni baru yang inklusif, adaptif, dan relevan dengan zaman.

Bagi warga Surabaya, pemandangan anak metal yang memegang tasbih sambil menyeruput kopi di samping Habib adalah bukti bahwa hidayah tidak mengenal seragam. Di bawah langit Lidah Wetan, simfoni hitam itu kini terdengar lebih bermakna—bukan sebagai ajakan menuju kegelapan, melainkan sebagai refleksi menuju cahaya yang lebih hakiki.

Upaya ini menegaskan kembali posisi Surabaya sebagai kota yang tidak hanya tangguh dalam sejarah perjuangan, tetapi juga progresif dalam merajut keberagaman identitas sosialnya (sa/dnv).