Beranda

Syekh Quro: Jejak Sunyi Sang Perintis Islam di Karawan

Syekh Quro: Jejak Sunyi Sang Perintis Islam di Karawan
Ilustrasi Syekh Hasanuddin atau yang lebih masyhur dengan julukan Syekh Quro (jtn/io)

Jelajahi kisah Syekh Quro, ulama perintis Islam di Karawang abad ke-15, yang jauh sebelum Wali Songo, menancapkan fondasi dakwah di Tatar Sunda. Menelusuri jejaknya yang terjalin dengan jalur rempah, armada Cheng Ho, dan perlawanan terhadap Pajajaran, membuka simpul sejarah Islam awal di Nusantara.

INDONESIAONLINE – Di antara gemuruh ombak Laut Jawa yang menghantam pesisir timur laut Karawang, tersimpan bisikan sejarah yang acap kali tenggelam di balik narasi-narasi besar. Sebuah kisah yang merambat sunyi, namun memiliki gaung yang menentukan arah peradaban Nusantara.

Jauh sebelum nama-nama agung Wali Songo bersinar di pesisir utara Jawa, ada seorang ulama dari Negeri Champa yang menabur benih-benih Islam di Tatar Sunda: Syekh Hasanuddin, atau yang lebih masyhur dengan julukan Syekh Quro. Makamnya yang sederhana di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, bukan sekadar nisan, melainkan monumen keabadian bagi sang perintis.

Melampaui citra hamparan sawah yang kita kenal hari ini, Karawang di awal abad ke-15 adalah simpul vital dalam peta dagang Kerajaan Pajajaran. Sebagai bandar laut strategis, ia menjadi urat nadi yang menghubungkan ibukota Pakuan Pajajaran dengan pelabuhan-pelabuhan penting seperti Sunda Kelapa, sekaligus gerbang menuju wilayah pedalaman Galuh Pakuan.

“Karawang saat itu berfungsi sebagai hinterland ekonomi dan budaya Pajajaran, menjadi titik temu berbagai etnis dan kepercayaan,” ungkap Dr. Agus Aris Munandar, seorang arkeolog dan sejarawan yang mendalami sejarah Sunda kuno, dalam salah satu studinya.

Inilah lanskap tempat Syekh Hasanuddin menjejakkan kakinya, di antara hiruk-pikuk pelabuhan, menara suar, dan persimpangan budaya Hindu-Buddha yang mapan dengan benih-benih Islam yang mulai menampakkan pengaruhnya.

Dari Champa Bersama Armada Cheng Ho

Narasi Nagarakretabhumi Sarga III–IV menjadi jendela kita melihat asal-usul Syekh Hasanuddin sebagai putra Syekh Yusuf Siddik dari Negeri Champa (kini Vietnam Tengah). Kedatangannya ke Jawa bukan tanpa alasan, ia mengikuti rombongan ekspedisi maritim Tiongkok di bawah panglima besar Wai Ping dan laksamana agung Te Ho, yang tak lain adalah Laksamana Cheng Ho.

“Keterkaitan penyebaran Islam dengan jaringan perdagangan dan ekspedisi maritim Tiongkok Muslim, khususnya Cheng Ho, adalah fakta historis yang tak terbantahkan. Champa sendiri adalah kantong Muslim yang aktif menjalin kontak lintas samudra,” papar Dr. Uka Tjandrasasmita, ahli arkeologi Islam, dalam buku Penelitian Arkeologi Islam di Indonesia.

Tahun 1417 M, yang dicatat sebagai masa singgah kelima armada Cheng Ho di Nusantara, menjadi titik krusial. Setahun berselang, Syekh Hasanuddin memilih bermukim di Karawang, khususnya di Tanjungpura, sebuah keputusan strategis.

Pelabuhan Tanjungpura kala itu hidup sebagai pusat transit lada, beras, rotan, dan hasil hutan yang diangkut melalui sungai, menjadikannya titik ideal untuk menancapkan dakwah.

Pesantren Tanjungpura: Fondasi Awal Pendidikan Islam

Di Tanjungpura inilah, pada tahun 1418 M, Syekh Hasanuddin mendirikan sebuah pesantren. Ini adalah salah satu pesantren terawal di Jawa Barat, menjadi cikal bakal jaringan pengajian pesisir. Metode dakwah Syekh Hasanuddin sangat meresap: menyampaikan ajaran Islam dengan uraian yang mudah dipahami dan didukung keindahan suaranya saat melantunkan Qur’an. Dari sanalah ia dijuluki Syekh Quro, sang pembaca Qur’an nan indah.

“Pesantren di masa awal penyebaran Islam bukan hanya pusat pendidikan agama, tapi juga simpul sosial dan ekonomi yang mampu mengorganisir masyarakat,” jelas Dr. Azyumardi Azra, sejarawan Islam terkemuka, dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII.

Pernikahan Syekh Hasanuddin dengan Nyi Retna Parwati, bangsawan Karawang, menjadi jembatan sosial yang menautkan Islam dengan struktur kuasa lokal. Ini bukan hanya ikatan personal, melainkan strategi dakwah yang efektif, membuka gerbang bagi transformasi ideologi di jantung kekuasaan Hindu Pajajaran.

Konflik Ideologi dan Pengusiran

Geliat dakwah Syekh Hasanuddin tentu saja tak luput dari perhatian Kerajaan Pajajaran. Prabu Anggalarang, penguasa Pajajaran kala itu, memandang pesantren Tanjungpura sebagai ancaman terhadap tatanan spiritual kerajaan.

“Setiap ideologi baru yang menumbuhkan jaringan sosial di luar kendali istana akan selalu dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan yang hegemonik,” ujar Dr. Edi S. Ekajati, ahli naskah kuno Sunda.

Syekh Hasanuddin sempat diusir dan menyingkir ke Malaka. Namun, momen ini justru menjadi takdir. Sebelum bertolak, ia singgah di Muara Jati, Cirebon, dan mempercayakan putrinya Sahbandar Ki Gedeng Tapa, Nyi Subanglarang, untuk dididik agama Islam di Malaka. Ini adalah langkah strategis dalam melatih kader dakwah melalui jalur maritim Asia Tenggara.

Subanglarang dan Jaringan Genealogi Islam Jawa

Tidak lama berselang, Syekh Hasanuddin kembali ke Karawang, mendirikan langgar yang berkembang menjadi pesantren baru. Kali ini, ketegangan dengan Pajajaran memuncak.

Prabu Anggalarang mengutus putera mahkota, Raden Pamanah Rasa, untuk membubarkan pesantren. Namun, takdir berkata lain. Raden Pamanah Rasa justru terpikat pada Nyi Subanglarang, murid kesayangan Syekh Hasanuddin, yang fasih melantunkan Qur’an.

Pernikahan Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subanglarang adalah titik balik sejarah. Ini bukan hanya kisah cinta, melainkan kompromi kuasa antara Pajajaran dan gerakan Islam pesisir.

Dari pernikahan ini lahirlah Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Nyi Lara Santang (ibu Sunan Gunung Jati), dan Kian Santang. Melalui Subanglarang, garis keturunan dakwah Syekh Quro merembet ke Cirebon dan Gunung Jati.

Lebih jauh, Nagarakretabhumi juga membuka simpul genealogi lain yang mengejutkan. Syekh Hasanuddin memiliki putera bernama Syekh Bentong, seorang saudagar kaya di Gresik. Puteri Syekh Bentong, Nay Retna Siu Ban Ci, diperisteri Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, dan menurunkan Raden Patah, Sultan Demak pertama.

Jika naskah ini valid, maka Syekh Quro Karawang adalah kakek buyut Raden Patah dari jalur ibu. “Koneksi ini menegaskan betapa jalinan spiritual, darah bangsawan, dan urat dagang bercampur menjadi jaringan genealogis Islam Jawa: dari Karawang, Muara Jati, Gresik, hingga Demak,” demikian Dr. Sartono Kartodirdjo, sejarawan terkemuka Indonesia, dalam analisisnya mengenai peran ulama dalam proses Islamisasi.

Makam Sunyi, Warisan Tak Henti

Hari ini, makam Syekh Quro di Dusun Pulobata tetap menjadi magnet ziarah. Di antara nisan-nisan tua yang diselimuti doa dan taburan bunga, kita bisa merasakan gema suara Syekh Quro: lantang menembus hegemoni Pajajaran, melintasi jalur armada Cheng Ho, dan menyalakan denting azan yang tak lagi mampu dibungkam.

Syekh Quro bukan sekadar legenda, melainkan jembatan peradaban. Ia adalah simpul dari jaringan spiritual, jalur perdagangan, genealogis bangsawan, dan ideologi Islam yang menjebol tembok kejumudan Tatar Sunda.

Bagi mereka yang masih datang menabur bunga di Pulobata, kisah Syekh Quro adalah pengingat: dakwah kerap lahir di tepi pelabuhan, di simpul jalur dagang, di ruang tempat suara merdu Qur’an pernah menembus tirai istana Pajajaran, jauh sebelum nama-nama besar Wali Songo mengukir sejarah di Jawa.

Exit mobile version