Menyelami The Odyssey garapan Christopher Nolan, film termahal dalam kariernya. Adaptasi epik Homer dengan Matt Damon, teknologi IMAX revolusioner, dan anggaran 250 juta dolar AS.
INDONESIAONLINE – Langit di atas Burghead mungkin tak lagi sama. Pada suatu senja di Skotlandia, ketika angin Laut Utara berhembus kencang, seorang pria dengan jaket khasnya berdiri di samping sebuah kamera IMAX generasi baru.
Lensa itu, yang dijuluki Keighley Camera, mengarah ke perairan abu-abu. Bukan untuk merekam keindahan sinematik semata, tetapi untuk menangkap sebuah perjalanan pulang yang telah tertunda selama sepuluh tahun: perjalanan Odysseus.
Pada Juli 2026, Christopher Nolan—sang arsitek mimpi, sang penakluk waktu—mengundang dunia untuk menyelami film aksi epik The Odyssey, sebuah proyek yang ia sebut sebagai “karya paling ambisius dalam karier penyutradaraannya.”

Menantang Para Dewa
The Odyssey bukanlah sekadar film. Ia adalah deklarasi. Diadaptasi dari puisi epik monumental karya Homer yang ditulis pada abad ke-8 Sebelum Masehi, Nolan mencoba menerjemahkan salah satu fondasi peradaban sastra Barat ke dalam medium yang ia kuasai: film seluloid raksasa.
Puisi kuno ini mengisahkan Odysseus, Raja Ithaca yang cerdik, yang mengembara selama satu dekade untuk kembali ke pelukan istrinya, Penelope, setelah kehancuran Kota Troya. Jika Perang Troya adalah panggung kejantanan, maka Odyssey adalah panggung ketabahan.
Nolan tidak main-main. Ia menggelontorkan dana sebesar 250 juta dolar AS, menjadikannya film termahal dalam portofolionya, melampaui Tenet (205 juta dolar AS) dan The Dark Knight Rises (250 juta dolar AS).
Syuting yang memakan waktu 91 hari ini menjelajahi tiga benua: dari benteng kuno Aït Benhaddou di Maroko, keheningan Pulau Favignana di Sisilia yang diyakini sebagai lokasi negeri para Cyclops, hingga lanskap vulkanik Islandia yang cocok untuk menggambarkan gerbang Hades.
Sebuah Ensambel Mitologis
Untuk menghidupkan kisah yang melibatkan monster, penyihir, dan kutukan ilahi, Nolan tidak hanya mengandalkan visual computer-generated imagery (CGI) murah. Ia merakit satu armada bintang.
Matt Damon, yang sebelumnya menjadi “tentara bayaran” Nolan di Interstellar dan Oppenheimer, didapuk sebagai Odysseus. Ia bukan sekadar raja, melainkan seorang pria yang rapuh di hadapan murka Poseidon.
Di sisinya, Zendaya menjelma sebagai Athena, sang dewi kebijaksanaan bermata kelabu yang menjadi patron dan pelindung Odysseus. Sementara Tom Holland memerankan Telemachus, sang putra yang beranjak dewasa dalam bayang-bayang ketiadaan ayahnya.
Anne Hathaway menjadi Penelope, sosok kesetiaan yang menenun dan membongkar kain kafan setiap malam demi menunda para pelamar rakus di istana. Sementara itu, di pulau terpencil, Charlize Theron siap menyihir para awak kapal menjadi babi sebagai Circe.
Dan dalam peran antagonis sentral, Robert Pattinson memerankan Antinous, si pelamar paling bengis. Meski publik sempat berspekulasi ia akan berperan sebagai Poseidon, konfirmasi resmi menempatkannya sebagai ancaman yang lebih dekat—manusia yang menanti di takhta sang raja.
Lupita Nyong’o bahkan mengambil dua peran sekaligus, sementara sutradara menjahitkan kejutan: Travis Scott, raja hip-hop, akan tampil dalam peran akting pertamanya yang berskrip, menambah lapisan unik pada epik kuno ini.
Bunyi dan Kesunyian: Revolusi IMAX
Selama bertahun-tahun, kamera IMAX adalah monster yang berisik. Getarannya mengerikan, mustahil merekam adegan dialog intim. Suara desingannya akan menelan bisikan. Namun, Nolan adalah seorang obsesif.
Bersama sinematografer setianya, Hoyte van Hoytema, ia merekayasa ulang teknologi itu. Mereka menciptakan blimp baru—sebuah casing kedap suara yang inovatif—yang meredam kebisingan hingga 30 persen lebih senyap.
Hasilnya adalah revolusi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah film fitur Hollywood (wide release) diambil gambarnya secara keseluruhan menggunakan kamera IMAX 70mm. Tidak hanya untuk adegan aksi spektakuler saat kapal-kapal dihantam badai, tetapi juga untuk momen-momen sunyi: air mata yang jatuh di pipi Penelope, atau tatapan kosong Odysseus saat mendengar nyanyian mematikan para Sirene.
“Kameranya kini bisa berada hanya satu kaki dari wajah aktor dan merekam suara yang bisa digunakan,” ungkap Nolan dalam sebuah wawancara, sebuah kalimat teknis yang terdengar seperti sihir bagi para pembuat film dunia.
Pelayaran Penuh Luka
Apa yang disuguhkan Nolan bukanlah sekadar parade visual. Dalam teks aslinya, perjalanan Odysseus adalah katalog penderitaan. Di Tanah Para Pemakan Teratai, Odysseus harus menyeret paksa anak buahnya yang telah mabuk bunga dan melupakan Ithaca. Sebuah metafora tentang godaan untuk melupakan tujuan di tengah zona nyaman yang memabukkan.
Lalu ada tragedi di Pulau Cyclops. Dalam naskah Homer, Polyphemus—sang raksasa bermata satu yang diperankan melalui practical effect dan motion capture canggih—bukan sekadar monster.
Ia adalah makhluk yang tertipu oleh kecerdikan Odysseus. Ketika Odysseus menusuk satu-satunya mata Polyphemus dengan tongkat kayu panas dan kemudian dengan sombong meneriakkan nama aslinya, ia memicu petaka. Sebab, Polyphemus adalah putra Poseidon. Dan Poseidon, penguasa lautan, bersumpah akan membuat setiap inci air menjadi neraka bagi sang raja.
Nolan tampaknya akan mengeksplorasi momen lolong kesakitan Polyphemus sebagai titik balik visual yang gelap. Pasalnya, setelah insiden itu, lautan bukan lagi sekadar jalan pulang, melainkan labirin kematian.
Dan kemudian, para Sirene. Di tangan Nolan, yang dikenal dengan sound design presisi tinggi, segmen ini berpotensi menjadi salah satu rangkaian paling mencekam dalam sinema modern. Sirene bukanlah putri duyung Disney, melainkan makhluk bersayap menyeramkan yang suaranya memikat hingga para pelaut mendayung menuju kematian.
Odysseus, yang ingin mendengar keindahan suara itu, memerintahkan anak buahnya untuk menyumbat telinga mereka dengan lilin, sementara ia mengikat dirinya di tiang kapal—sebuah potret klasik tentang hasrat manusia untuk menyentuh bahaya tanpa benar-benar hancur karenanya.
Harga Sebuah Ambisi
Dengan label blockbuster seni, The Odyssey memikul beban berat. Analis box office memperkirakan film ini harus meraup sekitar 700 juta dolar AS secara global hanya untuk balik modal, mengingat biaya produksi dan pemasarannya yang masif.
Untuk menembus daftar tiga besar film terlaris Anne Hathaway, film ini harus melampaui Interstellar yang meraup 774,6 juta dolar AS. Namun, banyak yang bertaruh film ini akan menembus angka satu miliar dolar, menyusul kesuksesan Oppenheimer yang nyaris mencapai satu miliar dolar AS meski bergenre biopik dewasa.
Namun, seperti biasa, Nolan bukan hanya berburu nominal. Ia berburu keabadian. Dalam budaya yang serba cepat, di mana film sering kali menjadi konten yang terlupakan dalam dua minggu, The Odyssey adalah penolakan. Nolan memilih merakit bagian-bagian gigi resin—metafora untuk lapisan enamel raksasa—ke dalam kostum dan set, memastikan bahwa setiap detail tak hanya terlihat, tetapi terasa.
Pulang
Pada intinya, The Odyssey adalah kisah tentang “pulang.” Setelah selamat dari pusaran air Charybdis dan monster berkepala enam Scylla, setelah ditawan selama tujuh tahun oleh cinta obsesif Calypso yang abadi, Odysseus akhirnya terdampar di pantai Ithaca dengan menyamar sebagai pengemis.
Momen paling mengharukan dalam epik ini mungkin bukanlah pertempuran berdarah melawan para pelamar di istana, melainkan saat seekor anjing tua terbaring di tumpukan kotoran. Argos, anjing setia Odysseus. Setelah dua puluh tahun menanti, ia mengenali tuannya di balik lapisan debu dan lusuh, mengibaskan ekornya untuk terakhir kali, lalu mati.
Nolan, sang maesto yang mampu membuat penonton menangisi robot di Interstellar, tentu akan mengubah adegan ini menjadi sebuah requiem visual yang memilukan.
Ketika Odysseus akhirnya merangkai kembali busur Eurytus dan menembakkan panah menembus dua belas kapak, itu bukan sekadar aksi balas dendam. Itu adalah restorasi tatanan.
The Odyssey dijadwalkan berlayar ke bioskop pada 17 Juli 2026. Di era di mana manusia modern merasa tersesat di tengah banjir informasi, kisah seorang pria yang berjuang melawan para dewa hanya untuk menemukan jalan pulang ke rumahnya terasa sangat relevan.
Sebab, pada akhirnya, kita semua adalah Odysseus: lelah, terluka, namun terus berjalan, berharap ada seseorang yang menunggu di ujung perjalanan.













