Trump Minta Warga AS Siap Hadapi Harga BBM Akibat Perang Iran

Kapal tanker di Selat Hormuz. (reuters)

Trump meminta warga AS menerima kenaikan harga BBM saat perang Iran memicu krisis Selat Hormuz dan mengancam pasokan minyak dunia.

INDONESIAONLINE – Ketika jalur diplomasi Washington dan Tehran kembali tersendat, dampak perang Amerika Serikat dan Iran mulai terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari warga Amerika. Presiden Donald Trump bahkan meminta masyarakat bersiap menghadapi harga bensin yang lebih mahal sebagai konsekuensi dari perang yang masih berlangsung.

Pernyataan itu muncul ketika Selat Hormuz, jalur energi yang menghubungkan Teluk Persia dengan perairan internasional, nyaris kehilangan lalu lintas normalnya. Konflik yang dimulai pada akhir Februari telah membuat pengiriman minyak melalui selat tersebut terganggu dan mendorong pasar energi global berada dalam tekanan.

Dalam kampanye politik di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026), Trump menyebut kenaikan harga bensin sebagai biaya yang harus diterima masyarakat untuk menghadapi Iran.

Ia juga melontarkan klaim yang jauh lebih kontroversial mengenai masa depan Selat Hormuz.

“Setelah kita selesai mengalahkan Iran … segera saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” ujarnya, dikutip Reuters, Minggu (16/8/2026).

Pernyataan tersebut berhadapan langsung dengan sikap Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Iran tetap menganggap dirinya memiliki kendali atas selat strategis itu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga menyatakan bahwa Tehran belum mengambil keputusan untuk kembali melakukan pembicaraan dengan Washington.

Kebuntuan diplomasi tersebut membuat persoalan Selat Hormuz tidak lagi sebatas perselisihan geopolitik. Jalur sempit itu telah berubah menjadi titik tekan utama yang memengaruhi harga energi, perdagangan laut, biaya asuransi kapal, hingga inflasi.

Selat Hormuz Jadi Titik Tekan Perang

Pentingnya Selat Hormuz terletak pada posisinya sebagai pintu keluar utama bagi energi dari kawasan Teluk. Sebelum konflik kembali memanas, sekitar 130 hingga 140 kapal dapat melintas setiap hari. Angka itu kini merosot tajam.

Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut turun ke level yang sangat rendah. Reuters melaporkan hanya segelintir kapal yang tercatat melintas pada Jumat (14/8), setelah serangkaian insiden terhadap kapal membuat operator semakin berhati-hati.

Kondisi itu memperlihatkan bagaimana ancaman keamanan dapat mengubah fungsi sebuah jalur perdagangan dalam waktu singkat. Kapal yang secara teknis masih dapat melewati selat harus memperhitungkan risiko serangan, kemungkinan penahanan, serta meningkatnya biaya perlindungan dan asuransi.

Pada Jumat, Uni Emirat Arab menuduh Iran menyerang kapal ketiga milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dalam waktu kurang dari sepekan. Dua kapal ADNOC sebelumnya juga mengalami insiden serupa. Iran belum memberikan tanggapan langsung atas tuduhan tersebut.

Amerika Serikat sendiri mengatakan memiliki kemampuan untuk mempertahankan blokade laut terhadap Iran dalam jangka panjang. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan kemampuan militer AS memungkinkan keberadaan angkatan laut dipertahankan di kawasan tersebut, sementara Menteri Keuangan Scott Bessent menjanjikan tekanan ekonomi tambahan terhadap Tehran.

Di pasar minyak, dampaknya langsung terlihat. Harga minyak mentah naik lebih dari 1 dolar per barel pada Jumat setelah muncul laporan serangan terhadap kapal dan semakin kecilnya peluang tercapainya kesepakatan damai.

Situasi ini menjadi semakin rumit karena Selat Hormuz bukan satu-satunya titik rawan. Di sisi lain kawasan, Laut Merah dan pelabuhan Mocha di Yaman juga kembali menjadi arena serangan.

Dari Pompa Bensin AS hingga Krisis di Yaman

Kenaikan harga energi menjadi konsekuensi yang paling mudah dirasakan masyarakat Amerika. Reuters melaporkan harga rata-rata bensin di AS telah mencapai sekitar 4,08 dolar AS per galon dan meningkat 29 persen dibandingkan setahun sebelumnya.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa konflik Timur Tengah telah bergerak dari layar televisi ke biaya mobilitas masyarakat. Setiap kenaikan harga minyak mentah berpotensi diteruskan ke harga bahan bakar, transportasi, distribusi barang, hingga biaya produksi.

Data American Automobile Association (AAA) juga menunjukkan betapa cepat harga bensin dapat berubah ketika pasar minyak mengalami tekanan. Pada musim semi 2026, rata-rata nasional bensin sempat mencapai 4,56 dolar AS per galon pada 21 Mei sebelum turun menjadi sekitar 3,83 dolar pada awal Juli.

Karena itu, pernyataan Trump agar warga menerima harga BBM yang lebih tinggi memiliki konsekuensi politik tersendiri. Pemerintah AS harus meyakinkan masyarakat bahwa kenaikan biaya tersebut merupakan konsekuensi strategis yang diperlukan, bukan kegagalan dalam mengendalikan dampak perang.

Di Iran, persoalannya bahkan lebih berat. Presiden Masoud Pezeshkian menuding blokade AS terhadap pelabuhan dan pembatasan ekspor minyak sebagai salah satu penyebab tekanan inflasi.

Sementara itu, eskalasi konflik merembet ke Yaman. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menembakkan enam rudal balistik ke wilayah pelabuhan Mocha pada Jumat. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya empat warga sipil.

Sehari kemudian, situasi di Mocha semakin memburuk. Pengelola pelabuhan mengatakan lebih dari 25 rudal telah menghantam kawasan tersebut dalam beberapa hari dan aktivitas komersial serta maritim akhirnya dihentikan. Laporan terbaru menyebut serangkaian serangan itu telah menyebabkan tujuh orang meninggal dunia dan kerugian sekitar 16 juta dolar AS.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perang AS-Iran telah berkembang menjadi persoalan yang melampaui hubungan dua negara. Selat Hormuz menghadapi gangguan pelayaran, Laut Merah kembali berisiko, kapal-kapal komersial menjadi sasaran, sementara harga energi terus berfluktuasi.

Bagi Washington dan Tehran, persoalannya kini bukan hanya siapa yang memenangkan perang. Pertarungan juga berlangsung di jalur diplomasi, pasar energi dan ekonomi domestik masing-masing negara.

Kesepakatan damai sementara yang sempat menjadi harapan pada Juni kini kehilangan pijakan. Tehran menyatakan tidak ada gencatan senjata yang hendak diperpanjang, melainkan perang telah berakhir dan memasuki fase baru. Washington, sebaliknya, terus mengancam tekanan ekonomi tambahan.

Selama kedua pihak belum menemukan formula untuk kembali ke meja perundingan, Selat Hormuz akan tetap menjadi salah satu titik paling menentukan. Bagi dunia, pertanyaan terbesarnya bukan hanya kapan perang berakhir, tetapi berapa lama pasokan energi global mampu bertahan jika salah satu jalur minyak paling penting di planet ini terus tersendat.

Dan bagi warga Amerika, jawaban atas pertanyaan itu kemungkinan akan terlihat terlebih dahulu di papan harga pompa bensin.