Viral mirip Yesus tak ubah gaya hidup Faiq Alkatiri. Pedagang kambing Batu ini selektif terima tawaran demi menjaga niat awal berdakwah di medsos.
INDONESIAONLINE – Kemiripan wajah dengan sosok Yesus dalam lukisan klasik membawa Faiq Muhammad Alkatiri ke pusaran perhatian nasional dalam hitungan hari. Pria 38 tahun yang berprofesi sebagai pedagang kambing di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, ini mendadak menjadi magnet media sosial.
Akun Instagram pribadinya, @bangfaiq_batu, yang baru dibuat pada 17 Juli 2026, meroket dengan lebih dari 134 ribu pengikut hanya dalam rentang empat hari. Video perdananya bahkan berhasil menyedot 7,6 juta pasang mata warganet.
Kemiripan visual tersebut—berambut panjang, berjanggut, serta berpakaian putih bersorban—memantik asosiasi langsung dengan visualisasi Yesus dalam kanon seni rupa Barat, seperti karya Leonardo da Vinci atau Michelangelo.
Fenomena look-alike ini kerap menjadi katalisator virality di platform visual. Berdasarkan studi perilaku pengguna dari Pew Research Center, konten yang memicu keterikatan emosional melalui pengenalan wajah memiliki tingkat shareability tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan konten informatif biasa. Faiq, tanpa sengaja, mengetuk resonansi visual tersebut.
Fenomena ini bukan sekadar kilatan popularitas biasa. Mengutip laporan We Are Social dan DataReportal terkini, Indonesia memiliki lebih dari 139 juta pengguna media sosial dengan tingkat konsumsi konten video pendek yang masif, mencapai rata-rata dua setengah jam per hari.
Algoritma yang agresif terhadap wajah-wajah unik dan narasi humanis membuat konten Faiq meledak secara organik. Namun, di balik angka-angka fantastis tersebut, Faiq menunjukkan ketenangan yang jarang dimiliki figur viral kebanyakan.
Menavigasi Badai Virality di Era Digital
Ketika banyak pihak berlomba mencari untung dari momentum ketenaran, Faiq justru mengambil langkah mundur untuk mengevaluasi arah tujuannya. Belakangan, berbagai tawaran mengalir deras ke kediamannya. Mulai dari ajakan menjadi pembicara kajian agama di berbagai acara, hingga penawaran endorsement produk komersial di media sosial.
Namun, ayah yang tetap mengantar anaknya ke sekolah ini mengaku belum menerima mayoritas tawaran tersebut. Ia tegas membedakan antara peluang ekonomi instan dengan visi jangka panjang yang dibangunnya sejak akun tersebut aktif. Bagi Faiq, ruang digital bukan lahan untuk panen cepat, melainkan medium penyebaran nilai kebaikan.
“Saya bersyukur banyak yang memberikan kepercayaan. Tapi saya harus tahu batas kemampuan saya. Kalau diminta mengisi kajian, saya belum merasa pantas karena saya bukan ustaz ataupun penceramah. Saya tidak ingin menyampaikan sesuatu yang justru keliru,” kata Faiq saat ditemui di rumahnya.
Sikap kritis serupa ia terapkan terhadap ajakan promosi berbayar. Di tengah ekosistem creator economy Indonesia yang tahun ini bernilai triliunan rupiah, godaan untuk memonetisasi akun viral sangatlah besar. Namun, Faiq bergeming. Ia hanya akan mempertimbangkan kerja sama yang selaras dengan nilai religiusitas yang ia usung.
“Media sosial ini saya buat bukan untuk mengejar kerja sama komersial. Kalau ada tawaran yang memang tidak sesuai dengan tujuan dakwah, tentu akan saya tolak. Saya ingin menjaga niat awal agar konten yang saya buat tetap membawa manfaat,” imbuhnya.
Psikolog sosial dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam sebuah kajian terkait dampak psikologis internet fame, menyebutkan bahwa individu yang memiliki anchor atau pegangan nilai yang kuat sebelum viral cenderung lebih resisten terhadap identity crisis pasca-fame.
Faiq adalah representasi nyata dari temuan tersebut. Ia sadar betul popularitas adalah bonus, bukan tujuan. Manfaat bagi orang lain, dalam pandangannya, jauh lebih bermakna daripada sekadar views atau engagement rate.
Mengukuhkan Akar di Peternakan Keluarga
Terlepas dari statusnya sebagai salah satu wajah yang paling dicari netizen pekan ini, Faiq menolak melayang-layang meninggalkan realitas kehidupannya. Sejak 2018, ia telah menggeluti usaha peternakan keluarga yang menjadi napas perekonomiannya.
Kota Batu sendiri, berdasarkan data Dinas Pertanian Kota Batu, merupakan salah satu sentra peternakan kambing perah dan potong di Jawa Timur, dengan kontribusi signifikan terhadap sektor agribisnis daerah.
Faiq menegaskan, rutinitas paginya tidak berubah meski namanya meramaikan linimasa. Ia tetap berinteraksi dengan hewan ternaknya, melayani pembeli yang datang ke kandang, hingga terkadang turun tangan menyembelih sendiri untuk memastikan proses sesuai syariat.
“Rutinitas saya tetap sama. Pagi merawat kambing, kalau ada pembeli ya melayani, kadang ikut menyembelih juga. Di luar itu, saya tetap mengantar anak sekolah dan mengikuti kajian seperti biasanya. Viral tidak membuat saya ingin meninggalkan pekerjaan utama,” jepasnya.
Penolakannya untuk meninggalkan profesi sebagai pedagang kambing juga didasari oleh keinginan menjaga keberlangsungan usaha keluarga yang telah berdiri delapan tahun. Baginya, media sosial hanyalah sarana komunikasi, bukan pengganti identitasnya sebagai peternak dan ayah bagi anak-anaknya. Ia tidak ingin kehadirannya di dunia maya justru memutus hubungan emosionalnya dengan komunitas lokal di Ngaglik.
Penampilannya yang berambut panjang, berjanggut lebat, serta berbusana putih bersorban memang memicu perbandingan visual dengan figur Yesus. Namun, Faiq berharap masyarakat tidak terjebak pada estetika fisik semata. Melalui pendekatan yang lebih akrab dengan generasi muda, ia ingin akun @bangfaiq_batu menjadi ruang refleksi spiritual tanpa harus menggurui.
“Harapan saya sederhana. Kalau suatu hari orang mengenal saya, semoga bukan karena penampilan saja, tetapi karena ada manfaat yang bisa mereka ambil. Saya ingin keberadaan saya membuat orang lain semakin semangat berbuat baik,” tutup Faiq.
Di tengah banjir informasi yang sering kali dangkal, kisah Faiq Muhammad Alkatiri memberikan napas segar tentang bagaimana seorang individu bisa memanfaatkan algoritma tanpa terjerat olehnya. Ia membuktikan bahwa kejujuran dalam menavigasi niat adalah benteng terbaik ketika dunia digital mencoba mengubah siapa diri kita sebenarnya.
