Wafer Herbal Waboos, Inovasi Mahasiswa Dongkrak Produktivitas Ternak

Waboos, wafer herbal karya mahasiswa di Malang, hadir sebagai pakan fungsional berbahan lokal untuk meningkatkan kesehatan pencernaan kambing dan domba (ist)

Waboos, wafer herbal karya mahasiswa di Malang, hadir sebagai pakan fungsional berbahan lokal untuk meningkatkan kesehatan pencernaan kambing dan domba.

INDONESIAONLINE – Selama bertahun-tahun, peningkatan produktivitas ternak ruminansia identik dengan penambahan kualitas maupun kuantitas pakan. Ketika bobot kambing atau domba tidak kunjung bertambah, solusi yang paling sering dipilih peternak adalah membeli pakan dengan kandungan protein lebih tinggi. Namun, pendekatan tersebut tidak selalu menghasilkan pertumbuhan yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Persoalan itu menjadi titik awal lahirnya Waboos (Wafer Imunobooster), inovasi delapan mahasiswa Program Studi Peternakan salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Malang. Alih-alih menciptakan bahan pakan baru, mereka mengembangkan konsep pakan fungsional berbentuk wafer yang dirancang membantu meningkatkan kesehatan saluran pencernaan kambing dan domba sehingga penyerapan nutrisi berlangsung lebih optimal.

Pendekatan tersebut menjadi menarik karena menyasar akar persoalan yang selama ini sering luput dari perhatian peternak, yakni efisiensi pemanfaatan nutrisi di dalam tubuh ternak.

Ketua tim pengembang, Fajar Ferdiansyah, mengatakan banyak peternak masih beranggapan bahwa pertumbuhan ternak hanya ditentukan oleh tingginya kandungan protein dalam pakan. Padahal, kondisi sistem pencernaan memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menentukan keberhasilan pertumbuhan.

“Masyarakat umumnya hanya mengandalkan pakan mahal agar ternak cepat gemuk, namun mereka lupa bahwa tanpa sistem pencernaan yang sehat, penyerapan nutrisi tidak akan pernah maksimal,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai kajian nutrisi ternak yang menyebutkan kesehatan saluran pencernaan, khususnya keseimbangan mikroba rumen pada ternak ruminansia, menjadi faktor utama dalam proses fermentasi pakan dan penyerapan nutrisi. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) juga menekankan bahwa peningkatan efisiensi pakan menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan produktivitas peternakan sekaligus menekan biaya produksi.

Biaya pakan sendiri diketahui menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan ruminansia. Berbagai kajian Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menunjukkan biaya pakan dapat mencapai sekitar 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi peternakan. Karena itu, peningkatan efisiensi pemanfaatan nutrisi dinilai lebih ekonomis dibanding terus menambah jumlah pakan.

Menggabungkan Herbal Lokal dan Teknologi Pakan Modern

Keunikan Waboos tidak hanya terletak pada bentuknya yang menyerupai wafer, tetapi juga pada formulasi bahan bakunya. Produk tersebut memanfaatkan berbagai komoditas lokal seperti bungkil kopra, jagung giling, dedak padi, pollard, tetes tebu, tepung gaplek, dan bekatul sebagai sumber energi serta protein.

Seluruh bahan kemudian dipadatkan menjadi wafer sehingga memiliki ukuran seragam, mudah disimpan, tidak mudah tercecer saat distribusi, dan memudahkan peternak menghitung kebutuhan konsumsi harian ternak.

Bentuk padat tersebut juga dinilai lebih efisien dibanding pakan curah karena lebih praktis dalam pengemasan maupun distribusi apabila diproduksi dalam skala besar. Nilai tambah utama Waboos berada pada penggunaan dua bahan herbal, yakni daun kelor (Moringa oleifera) dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza).

Daun kelor telah banyak diteliti memiliki kandungan protein tinggi, vitamin A, vitamin C, vitamin E, kalsium, zat besi, serta senyawa antioksidan. Dalam berbagai penelitian bidang peternakan, daun kelor juga diketahui mampu meningkatkan kualitas pakan, membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme usus, serta mendukung sistem imun ternak.

Sementara itu, temulawak telah lama dikenal sebagai tanaman obat asli Indonesia yang mengandung kurkuminoid dan xanthorrhizol. Berbagai penelitian menunjukkan senyawa tersebut berpotensi membantu meningkatkan fungsi pencernaan, merangsang nafsu makan, serta mendukung metabolisme nutrisi pada ternak.

Melalui kombinasi tersebut, Waboos dikembangkan bukan sekadar sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai pakan fungsional yang mendukung kesehatan sistem pencernaan.

Menurut Fajar, pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan tubuh ternak dalam memanfaatkan setiap nutrisi yang dikonsumsi sehingga pertumbuhan berlangsung lebih efisien.

Uji Lapangan Tunjukkan Respons Positif Peternak

Sebelum dipasarkan, Waboos telah diuji coba di sejumlah peternakan rakyat di kawasan Bumiaji, Kota Batu, dan Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Selama pengujian, tim memperoleh respons positif dari peternak yang mengamati perubahan perilaku konsumsi pakan pada kambing maupun domba.

“Selama uji coba di peternakan, para peternak mengaku adanya peningkatan nafsu makan serta pertumbuhan kambing dan domba setelah mengonsumsi Waboos,” kata Fajar.

Meski demikian, tim pengembang menegaskan hasil tersebut masih bersifat observasi lapangan sehingga diperlukan pengujian laboratorium lanjutan untuk memperoleh bukti ilmiah yang lebih komprehensif mengenai pengaruh Waboos terhadap performa pertumbuhan, efisiensi pakan, hingga kesehatan ternak.

Langkah tersebut penting mengingat inovasi pakan modern memerlukan validasi ilmiah sebelum diterapkan secara luas di industri peternakan.

Saat ini Waboos telah dipasarkan secara lokal dalam kemasan 500 gram dengan harga Rp5.000. Harga tersebut menunjukkan bahwa inovasi berbasis riset tidak selalu identik dengan biaya produksi tinggi. Pemanfaatan bahan baku lokal justru membuka peluang menghadirkan produk pakan fungsional yang lebih terjangkau bagi peternak rakyat.

Ke depan, tim pengembang juga menyiapkan pengajuan hak paten sebagai bentuk perlindungan kekayaan intelektual sekaligus membuka jalan menuju hilirisasi produk dalam skala industri.

Inovasi tersebut hadir pada saat sektor peternakan nasional menghadapi tantangan meningkatnya harga bahan baku pakan akibat fluktuasi harga jagung dan bahan impor. Kondisi ini mendorong berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian mengembangkan alternatif pakan berbasis sumber daya lokal yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Apabila pengujian ilmiah selanjutnya mampu membuktikan efektivitasnya, Waboos berpotensi menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi sederhana dari lingkungan kampus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi peternak. Tidak hanya menawarkan formulasi nutrisi baru, tetapi juga mengubah cara pandang bahwa produktivitas ternak tidak selalu ditentukan oleh banyaknya pakan yang diberikan, melainkan oleh seberapa efektif tubuh ternak mampu menyerap setiap nutrisi yang dikonsumsi.

“Di tengah meningkatnya biaya pakan yang menjadi komponen terbesar dalam usaha ternak ruminansia, pendekatan yang berfokus pada peningkatan efisiensi penyerapan nutrisi dapat menjadi alternatif yang lebih rasional dibanding hanya menambah kuantitas pakan,” pungkasnya (as/dnv).