Malang 112 Tahun: Metamorfosis Kota Kreatif & Lompatan Ekonomi Mbois

Malang 112 Tahun: Metamorfosis Kota Kreatif & Lompatan Ekonomi Mbois
Wali Kota Wahyu Hidayat saat menyampaikan pidato di HUT ke 112 Kota Malang (jtn/io)

HUT ke-112 Kota Malang membuktikan resiliensi ekonomi. Dengan IPM 85,55 dan status Kota Kreatif UNESCO, Malang melesat jadi kota global yang inklusif.

INDONESIAONLINE – Udara sejuk yang memeluk Kota Malang di pagi hari tak lagi sekadar menjadi daya tarik wisata nostalgia peninggalan kolonial. Di balik kanopi pohon-pohon trembesi tua yang memagari Jalan Ijen, denyut nadi kota ini tengah berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Menapaki usia ke-112 tahun, Kota Malang tidak sedang menua, melainkan bermetamorfosis menjadi episentrum ekonomi kreatif dan pembangunan manusia yang patut diperhitungkan di kancah nasional maupun global.

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang pada awal tahun 2026 ini bukan sebatas seremoni pemotongan tumpeng atau pesta rakyat semata. Momentum ini menjadi titik henti sejenak untuk membedah sebuah anomali positif: Bagaimana sebuah kota di wilayah pegunungan Jawa Timur yang tidak memiliki sumber daya alam ekstraktif, mampu menorehkan kinerja makro ekonomi yang impresif di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2025 hingga 2026?

Saat Statistik Berbicara Kesejahteraan

Data seringkali menjadi indikator paling jujur untuk melihat keberhasilan sebuah pemerintahan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kota Malang melesat ke angka 5,92 persen. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas.

Jika dikomparasikan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang stagnan di kisaran 5 hingga 5,2 persen, capaian Kota Malang menunjukkan adanya geliat roda ekonomi daerah yang sangat solid dan berdaya tahan tinggi (resilient).

Lonjakan ekonomi ini berbanding lurus dengan upaya pengentasan kemiskinan. Tingkat kemiskinan di Kota Malang sukses ditekan hingga menyentuh angka 3,85 persen. Sebagai konteks, angka kemiskinan nasional masih berada di kisaran 9 persen.

Penurunan ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Malang bersifat inklusif—kue ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir elite, tetapi menetes hingga ke lapisan masyarakat bawah melalui program pemberdayaan UMKM dan ekonomi kampung.

Di sektor ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) menyusut signifikan ke angka 5,69 persen. Mengingat Malang adalah “Kota Pendidikan” yang memproduksi puluhan ribu lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya, menyerap tenaga kerja adalah tantangan struktural yang berat. Namun, menjamurnya industri kreatif, startup digital, serta sektor jasa pariwisata terbukti mampu menjadi penyerap tenaga kerja yang efektif.

Puncak dari segala indikator tersebut terefleksi pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kota Malang mencatatkan IPM di angka 85,55. Merujuk pada standar United Nations Development Programme (UNDP), angka di atas 80 masuk dalam kategori “Sangat Tinggi”.

Capaian ini menempatkan Malang di posisi tertinggi kedua di Jawa Timur, hanya terpaut tipis dari ibu kota provinsi, Surabaya. Tingginya IPM ini disokong oleh tingginya angka harapan hidup, akses pendidikan yang merata, serta daya beli masyarakat yang terus membaik.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyadari betul bahwa deretan angka tersebut bukan hasil kerja semalam. “Capaian positif ini menjadi fondasi kuat sekaligus cerminan dari berbagai upaya dan inovasi yang telah dilakukan. Ini adalah hasil orkestrasi dari kolaborasi pentahelix—pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media,” ujar Wahyu, Rabu (1/3/2026).

Dari Lokal Menuju Reputasi Global

Transformasi Kota Malang di usia 112 tahun juga ditandai dengan perubahan orientasi pembangunan, dari yang sekadar jago kandang menjadi pemain global. Hal ini dibuktikan dengan panen penghargaan yang tidak hanya di tingkat regional, melainkan diakui oleh institusi dunia.

Sepanjang periode 2025-2026, Kota Malang sukses memborong 37 penghargaan tingkat nasional, 29 penghargaan tingkat Provinsi Jawa Timur, serta dua penghargaan tingkat regional Malang Raya. Namun, mahkota dari segala apresiasi itu adalah tiga penghargaan bergengsi tingkat dunia.

Pertama, pengakuan sebagai Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network) di bidang Media Arts. Pengakuan ini melegitimasi ekosistem digital dan kreatif Malang. Kehadiran ratusan studio animasi, pengembang game lokal yang produknya mendunia, hingga komunitas seni digital membuat Malang sejajar dengan kota-kota kreatif dunia lainnya seperti Austin (AS) atau York (Inggris).

Kedua, penghargaan Clean Air for Big Cities Awards. Di tengah isu polusi udara yang mencekik kota-kota besar di Indonesia, Malang berhasil membuktikan komitmennya dalam menjaga Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan manajemen transportasi emisi rendah.

Ketiga, sertifikasi Clean Tourist City Standard. Penghargaan ini menjadi jaminan bagi wisatawan internasional bahwa tata kelola pariwisata di Malang telah memenuhi standar kebersihan, sanitasi, dan keamanan global.

Meski dihujani penghargaan, Wahyu Hidayat mewanti-wanti jajarannya agar tidak terjebak dalam euforia. “Justru sebaliknya, hal ini harus menjadi pemacu semangat bagi kita semua untuk terus melintasi berbagai tantangan serta bergerak tuntas, dengan meningkatkan kinerja, memperkuat kolaborasi, serta menghadirkan inovasi-inovasi yang lebih progresif dan berdampak luas bagi masyarakat,” tegasnya.

Tantangan Urbanisasi dan Visi “Malang Mbois”

Sebagai kota yang berkembang pesat, Malang tidak lepas dari tantangan urbanisasi klasik: kemacetan lalu lintas, manajemen tata ruang, dan pengelolaan sampah. Dengan populasi pendatang (mahasiswa dan pekerja) yang masif, infrastruktur kota kerap diuji kapasitasnya.

Sejalan dengan visi pembangunan “Menuju Malang Mbois dan Berkelas”, Pemerintah Kota Malang mencoba menjawab tantangan tersebut lewat kebijakan yang adaptif. Istilah Mbois yang dalam bahasa walikan (slang khas Malang) berarti keren atau luar biasa, bukan sekadar gimmick linguistik.

Visi ini diturunkan dalam program unggulan bernama Dasabakti, yang berfokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi inklusif, pembangunan lingkungan berkelanjutan, serta tata kelola pemerintahan yang melayani.

Salah satu implementasi nyatanya adalah intervensi infrastruktur yang humanis. Pelebaran jalur pedestrian, revitalisasi pasar-pasar tradisional menjadi lebih modern namun tetap mempertahankan kearifan lokal, hingga digitalisasi layanan publik yang memangkas birokrasi, adalah cara Pemkot Malang memastikan warganya nyaman tinggal di kota ini.

Pemerintah berkomitmen memastikan seluruh warga merasakan manfaat pembangunan secara nyata. “Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka statistik dan deretan piala di balai kota, tetapi dari sejauh mana kesejahteraan, senyum warga di pasar-pasar, dan kualitas hidup masyarakat benar-benar meningkat dari tahun ke tahun,” imbuh Wahyu dengan nada reflektif.

Merawat “Sense of Belonging”

Usia 112 tahun adalah usia yang sangat matang bagi sebuah peradaban kota. Namun, kota sejatinya bukanlah sekadar himpunan aspal, gedung bertingkat, atau deretan kafe kekinian yang menjamur di sudut-sudut jalan. Kota adalah ruh dari interaksi warganya.

Pada momentum perayaan ini, Wahyu Hidayat melontarkan pesan yang menyentuh akar sosiologis masyarakat. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat—baik warga asli Arema (Arek Malang) maupun para pendatang yang mencari penghidupan dan pendidikan di kota ini—untuk memperkuat sinergi dan rasa memiliki (sense of belonging).

“Mari kita jaga semangat kebersamaan, kita rawat rasa memiliki terhadap kota ini, dan kita wujudkan Kota Malang sebagai kota yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga unggul dalam karakter, budaya, dan kualitas hidup warganya,” terangnya.

Dengan semangat Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas, Kota Malang kini menatap cakrawala baru. Mereka tidak lagi bersaing dengan kota-kota tetangga, melainkan sedang memahat namanya di peta dunia. Memadukan warisan sejarah yang kuat dengan inovasi teknologi masa depan, Malang melangkah pasti menapaki masa depan sebagai kota inklusif yang inovatif, berprestasi, dan berdaya saing global, tanpa sedikitpun kehilangan jati dirinya.