Gelapnya Bayang Epstein: Gigi Hadid Muak Namanya Terseret Dokumen

Gelapnya Bayang Epstein: Gigi Hadid Muak Namanya Terseret Dokumen
Supermodel Gigi Hadid akhirnya angkat suara terkait namanya yang terdpat dalam dokumen Epstein (Ist)

Gigi Hadid akhirnya buka suara soal namanya di dokumen Jeffrey Epstein. Sang model tegaskan tak pernah bertemu sang predator dan merasa sangat muak.

INDONESIAONLINE – Di balik gemerlap lampu kilat runway peragaan busana dunia dan sampul majalah mode prestisius, industri hiburan Amerika Serikat menyimpan sebuah ruang bawah tanah yang gelap. Ruang itu bernama Jeffrey Epstein. Meski sang miliarder sekaligus terpidana kejahatan seksual tersebut telah tewas di sel penjaranya pada Agustus 2019, efek ledakan dari skandal yang ia tinggalkan masih terus memakan “korban” hingga hari ini.

Gelombang terbaru dari pusaran skandal ini adalah perilisan ribuan halaman dokumen pengadilan yang sebelumnya disegel oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat. Di antara deretan nama politisi, pangeran, dan ilmuwan, publik terkejut ketika menemukan nama dua supermodel papan atas dunia: Gigi Hadid dan adiknya, Bella Hadid.

Bagi seorang publik figur, terseret dalam pusaran nama Jeffrey Epstein—sekecil apa pun porsinya—adalah sebuah mimpi buruk Public Relations (PR) dan noda yang bisa menghancurkan reputasi. Sadar akan bola salju spekulasi yang terus membesar di media sosial, Gigi Hadid akhirnya memilih untuk tidak lagi bungkam.

Mual dan Mengerikan: Respons Emosional Gigi Hadid

Diamnya Gigi selama beberapa bulan terakhir sempat memancing kecurigaan netizen. Puncaknya, pada akhir Maret 2026, seorang pengguna internet menekan sang model secara daring, mempertanyakan mengapa ia seolah bersembunyi dari fakta bahwa namanya ada dalam dokumen kontroversial tersebut.

Melalui tanggapannya yang dirilis dan dikutip oleh E! News pada awal April 2026, kekasih Bradley Cooper ini memberikan jawaban yang tidak hanya tegas, tetapi juga sarat akan emosi ketidaksukaan yang mendalam.

“Membuatku mual. Mengerikan membaca seseorang yang belum pernah Anda temui berbicara tentang Anda seperti itu. Terutama dalam konteks ini,” tulis Gigi dalam pesan balasannya.

Dalam dokumen yang diungkap ke publik, yang sebagian besar berasal dari gugatan pencemaran nama baik antara korban Virginia Giuffre melawan kaki tangan Epstein, Ghislaine Maxwell, terdapat sebuah email tahun 2015. Dalam surel tersebut, Epstein secara spesifik mempertanyakan latar belakang dan mempertanyakan bagaimana karier Gigi dan Bella Hadid bisa meroket begitu pesat dalam waktu singkat.

Saat email itu ditulis oleh Epstein, Gigi baru berusia sekitar 20 atau 21 tahun. “Untuk disebutkan dalam file-file itu… itu sangat mengganggu,” ungkap ibu dari Khai tersebut. Ia dengan tegas memberikan batas demarkasi antara dirinya dan sang predator. “Dan saya ingin menyatakan dengan tegas bahwa saya tidak pernah memiliki afiliasi dengan manusia menjijikkan itu.”

Mengapa Gigi Memilih Sempat Bungkam?

Satu hal yang menarik dari klarifikasi perempuan kelahiran Los Angeles ini adalah alasannya menahan diri untuk tidak langsung memberikan klarifikasi saat dokumen itu pertama kali bocor. Dalam dunia selebritas yang reaktif, bungkam sering disalahartikan sebagai rasa bersalah. Namun, alasan Gigi justru menunjukkan kedewasaan dan empati yang tinggi terhadap para penyintas.

“Saya tidak berkomentar karena saya tidak ingin mengambil (perhatian) dari cerita korban sebenarnya dari dia (Epstein),” jelas Gigi.

Pernyataan ini menyoroti sebuah fenomena sosiologis yang sering terjadi dalam kasus besar: ketika nama selebritas terkenal terseret, media cenderung mengeksploitasi nama selebritas tersebut demi clickbait, sementara suara dan penderitaan korban asli yang disiksa bertahun-tahun justru tenggelam.

Gigi menyadari bahwa ia hanyalah collateral damage (korban tidak langsung) dari kebiasaan Epstein menyebut nama-nama terkenal (name-dropping), dan ia tidak ingin panggung keadilan bagi para korban bergeser menjadi panggung gosip selebritas.

Untuk memahami mengapa nama Gigi dan Bella Hadid bisa muncul di kepala seorang Jeffrey Epstein, kita harus melihat data dan rekam jejak hubungan sang miliarder dengan industri mode global.

Bukan rahasia lagi bahwa Epstein menjadikan industri modeling sebagai salah satu kedok utamanya untuk mencari dan mengeksploitasi perempuan-perempuan muda. Berdasarkan laporan investigasi dari The New York Times dan dokumen pengadilan yang telah dirilis sejak 2023, Epstein memiliki jaringan kuat di dunia mode.

Pertama, Epstein bersahabat karib dengan Jean-Luc Brunel, seorang pencari bakat model (modeling scout) asal Prancis pendiri agensi MC2 Model Management. Brunel, yang juga tewas gantung diri di penjara Paris pada 2022, dituduh menjadi penyuplai gadis-gadis muda dari Eropa ke rumah-rumah mewah Epstein di New York dan Florida dengan iming-iming menjadikannya model majalah hingga Victoria’s Secret.

Kedua, Epstein memiliki hubungan finansial dan personal yang sangat dekat dengan Les Wexner, miliarder pendiri L Brands yang merupakan perusahaan induk dari merek pakaian dalam Victoria’s Secret. Epstein bahkan diketahui memiliki surat kuasa penuh atas keuangan Wexner pada era 1990-an hingga awal 2000-an.

Dengan koneksi level dewa di dunia modeling tersebut, wajar jika Epstein terus memantau siapa saja “wajah-wajah baru” yang sedang naik daun di catwalk. Pada tahun 2015, Gigi Hadid memang sedang berada di puncak popularitasnya. Ia baru saja melakukan debut di panggung Victoria’s Secret Fashion Show, sebuah panggung yang bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang koneksi Epstein.

Fakta bahwa Epstein membicarakan Gigi dari jauh—tanpa pernah bertemu—menunjukkan betapa sang predator secara aktif memantau pergerakan gadis-gadis muda di industri tersebut, menjadikannya sebuah realitas yang sangat mengerikan bagi model mana pun.

Bantahan Terhadap Narasi Jalur Instan

Selain rasa muaknya dikaitkan dengan predator seksual, Gigi juga menggunakan momen ini untuk meluruskan asumsi dalam email Epstein yang mempertanyakan “pesatnya” karier dia dan adiknya.

Publik sering kali melabeli Gigi dan Bella sebagai nepo babies (anak nepotisme) karena lahir dari keluarga kaya. Ibunya, Yolanda Hadid, adalah mantan model fesyen yang juga bintang reality show The Real Housewives of Beverly Hills, sementara ayahnya, Mohamed Hadid, adalah seorang maestro properti ternama.

Namun, Gigi menolak narasi bahwa kesuksesannya didapat dari koneksi gelap atau jalan pintas, apalagi jalan pintas yang difasilitasi oleh pria-pria berkuasa seperti Epstein. Ia menegaskan bahwa etos kerjanya telah dipupuk sejak dini oleh kedua orangtuanya.

“(Mereka) melindungi saya dan mengajari saya nilai kerja keras,” tegasnya.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Gigi tidak muncul begitu saja pada 2015. Ia telah bekerja sebagai model cilik untuk Baby Guess sejak usia dua tahun, dan secara profesional menandatangani kontrak eksklusif dengan agensi raksasa IMG Models pada tahun 2012 saat ia baru berusia 17 tahun. Kesuksesannya pada 2015 adalah hasil dari audisi demi audisi dan penolakan demi penolakan yang ia jalani di tahun-tahun sebelumnya.

Sebuah Peringatan untuk Industri Hiburan

Klarifikasi Gigi Hadid ini bukan sekadar upaya membersihkan nama baik. Ini adalah jendela yang memperlihatkan betapa rentannya perempuan di industri hiburan terhadap taktik manipulasi laki-laki berkuasa. Jeffrey Epstein, seperti banyak predator lainnya, menggunakan nama-nama orang terkenal untuk memvalidasi kekuasaannya sendiri, menciptakan ilusi bahwa ia mengenal semua orang penting di dunia.

Kini, setelah dokumen demi dokumen dibuka dan berbagai institusi raksasa mulai membayar ganti rugi—seperti JPMorgan Chase dan Bank of America yang harus menggelontorkan triliunan rupiah kepada para korban karena terbukti memfasilitasi aliran dana Epstein—publik perlahan mulai bisa memisahkan mana pihak yang benar-benar terafiliasi secara kriminal, dan mana yang sekadar menjadi korban catut nama.

Sikap tegas dan empatik Gigi Hadid memberikan preseden yang baik. Ia menolak menjadi korban narasi palsu sang predator, sembari dengan rendah hati menolak untuk mencuri sorotan dari mereka yang nyawanya benar-benar dihancurkan oleh Jeffrey Epstein. Di dunia yang sering kali kehilangan kompas moralnya, ketegasan sang model adalah sebuah penyataan yang menyegarkan sekaligus menenangkan.