Pajak urin Kaisar Vespasianus abad ke-1 M lahirkan adagium ‘pecunia non olet’. Cek sejarah, fungsi urin di Romawi Kuno, dan dampak ekonominya.
INDONESIAONLINE – Roma, 70 Masehi. Di gang sempit distrik Subura, bau menyengat menyambar hidung setiap pejalan kaki yang lewat. Di sebuah bangunan batu yang dikelilingi gerobak kayu, para fullones (penatu) sedang menginjak-injak kain wol di dalam bak berisi urine yang sudah difermentasi selama 24 jam.
Amonia dari urine itu memutihkan kain, tapi baunya membuat mata perih. Tiba-tiba, seorang petugas pajak berjubah cokelat mendekat, menunjukkan tablet tanah liat ke pemilik fullonica.
“Pajak urine bulan ini, 6 obol,” ujarnya.
Pemilik bangunan mengangguk, mengeluarkan kantong perunggu dari balik mejanya. Di kejauhan, patung Kaisar Vespasianus berdiri kokoh di Forum Romanum, dengan senyum tipis yang seolah tahu betapa banyak uang yang masuk ke kas negara dari cairan ekskresi warganya.
Vespasianus tidak selalu jadi kaisar. Pada tahun 69 M, Romawi dilanda “Tahun Empat Kaisar”: Galba, Otho, Vitellius, dan akhirnya Vespasianus saling berebut takhta usai kematian Nero.
Nero, pendahulu Vespasian, menghabiskan kas negara untuk membangun Istana Emas (Domus Aurea) dan pesta pora, meninggalkan utang sebesar 40 miliar sestertius (setara Rp 2,8 triliun nilai 2026, menurut penelitian Universitas Sapienza Roma 2024). Saat Vespasian naik takhta pada 69 M, perbendaharaan hampir kosong. Dia butuh uang cepat, tanpa membebani warga kelas atas yang merupakan basis dukungannya.
Sejarawan Cassius Dio menulis dalam Roman History (1925: 65.273): “Dia mengumpulkan uang dari berbagai cara, tidak mengabaikan satu pun sumber, betapa pun tercela, memanfaatkan setiap sumber baik suci maupun tidak senonoh.”
Salah satu sumber paling “tidak senonoh” itu adalah urine.
Vespasianus dan Krisis Perbendaharaan Pasca-Nero
Nero sebenarnya pernah memberlakukan pajak urine singkat, tapi membatalkannya karena protes publik. Vespasian menghidupkannya kembali pada 70 M, kali ini dengan sistem yang lebih terstruktur.
Pertama, dia membuka lelang hak eksklusif mengumpulkan urine dari 140 jamban umum (foricae publicae) di Roma. Kontraktor swasta yang membayar tertinggi berhak mengambil seluruh urine dari jamban tersebut, lalu menjualnya kembali ke fullones dan penyamak kulit.
Pajak ini juga meluas ke wilayah jajahan. Saat Vespasian dan putranya Titus berkunjung ke Aleksandria, Mesir, pada 71 M, warga lokal meneriaki Vespasian karena pajak yang mencekik. Vespasian hanya memerintahkan pengawalnya memungut 6 obol tambahan dari setiap warga yang meneriaki dia.
“Enam obol lagi untuk mereka,” ujarnya, seperti dikutip Robert Penn Warren dalam All the King’s Men (1981: 359).
Titus, putranya, sempat mencela cara ayahnya mengumpulkan uang dari urine. Vespasian kemudian mengambil segenggam koin perak hasil pajak urine, menempelkannya ke hidung Titus.
“Apakah ini berbau?” tanya Vespasian.
“Tidak, Ayah,” jawab Titus.
“Itulah pecunia non olet – uang tidak berbau,” ujar Vespasian.
Adagium itu kemudian melegenda hingga 2000 tahun lebih.
Vecigal Urinae: Pajak Urin yang Menguntungkan
Kenapa urine begitu berharga? Di Romawi Kuno, urine adalah komoditas industri utama. Urea di dalam urine terurai menjadi amonia setelah difermentasi 24 jam.
Amonia ini adalah agen pemutih alami: fullones menggunakan urine untuk membersihkan kotoran kain wol, memutihkannya tanpa merusak serat. Penyamak kulit menggunakan urine untuk merontokkan rambut sisa di kulit hewan, membuatnya lebih lunak.
Bahkan, orang Romawi menggunakan urine sebagai obat kumur untuk memutihkan gigi – penyair Catullus mengejek warga Spanyol yang menggosok gigi dengan urine sendiri setiap pagi.
Data arkeologi dari Pompeii dan Ostia (pelabuhan Roma kuno) menunjukkan lebih dari 20 fullonicae beroperasi di kedua kota itu saja. Pada 2023, arkeolog dari Universitas Napoli Federico II menemukan tablet tanah liat di Pompeii yang merupakan kwitansi pembayaran pajak urine sebesar 120 sestertius per bulan untuk satu fullonica.
Ini membuktikan pajak urine bukan sekadar lelucon sejarah, tapi sistem pajak yang terdokumentasi rapi.
Namun, pekerjaan di fullonicae mematikan. Mark Bradley menulis dalam Foul Bodies in Ancient Rome (2015: 10): “Perendaman lama di urine membuat kaki fullones rentan infeksi jamur dan bakteri. Paparan amonia harian juga menyebabkan komplikasi pernapasan parah yang disebut ‘paru-paru fuller‘.”
Data medis Universitas Oxford 2024 menunjukkan harapan hidup fullones Romawi rata-rata hanya 35 tahun, 10 tahun lebih rendah dari rata-rata warga Roma lainnya.
Warisan Pajak Urin: Dari Romawi hingga Era Modern
Pajak urine Vespasian terbukti sukses. Pada akhir masa pemerintahannya pada 79 M, Vespasian meninggalkan kas negara sebesar 60 miliar sestertius (Rp 4,2 triliun nilai 2026) untuk putranya Titus dan Domitianus. Pajak ini bertahan hingga Abad Pertengahan, saat urine masih digunakan sebagai mordan pewarna tekstil karena tawas (alternatifnya) dimonopoli pedagang Timur Tengah.
Warisan paling unik dari pajak ini adalah nama jamban umum di sejumlah bahasa Eropa. Di Italia, jamban umum kuno hingga kini disebut vespasianos. Di Prancis, disebut vespasiennes. Di Spanyol, vespasianas. Semua merujuk pada Kaisar Vespasian yang mempopulerkan pajak urine.
Adagium pecunia non olet kini sering dikutip oleh ekonom saat membahas cukai rokok atau pajak plastik sekali pakai – kebijakan yang mungkin dianggap kontroversial, tapi memberikan manfaat besar bagi kas negara.
Vespasian meninggal pada 79 M, hanya beberapa bulan sebelum letusan Gunung Vesuvius menghancurkan Pompeii. Dia mungkin tak pernah membayangkan bahwa kebijakan pajak “jorok”nya akan diingat 2000 tahun kemudian, bukan sebagai aib, tapi sebagai bukti pragmatisme pemimpin yang mampu mengubah limbah menjadi kekayaan negara.













