Trans Jatim Koridor 2 Hadir Oktober 2026, Hubungkan Kepanjen dan Arjosari

Pemprov Jatim perluas layanan Trans Jatim ke Malang Selatan via Koridor 2. Rute Terminal Talangagung-Arjosari mulai Oktober 2026, siapkan 15 armada (ist/io)

Pemprov Jatim perluas layanan Trans Jatim ke Malang Selatan via Koridor 2. Rute Terminal Talangagung-Arjosari mulai Oktober 2026, siapkan 15 armada.

INDONESIAONLINE – Kabar menggembirakan kembali hadir bagi masyarakat Malang Raya yang setiap hari bergantung pada transportasi publik. Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi memastikan perluasan layanan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jatim dengan segera mengoperasikan Koridor 2 yang menghubungkan wilayah Kabupaten Malang dan Kota Malang.

Rute anyar ini direncanakan mulai beroperasi pada Oktober 2026, melayani perjalanan dari Terminal Talangagung di Kepanjen menuju Terminal Arjosari di Kota Malang. Kehadiran koridor ini menjadi jawaban atas kebutuhan mobilitas warga di Malang Selatan yang selama ini belum terlayani moda transportasi massal modern secara langsung.

Kepala Seksi Sarana Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Jawa Timur, Cito Eko Yuly Saputro, mengungkapkan bahwa proses penyiapan koridor baru saat ini telah memasuki tahap akhir.

“Untuk Trans Jatim di wilayah Malang sudah final. Memang nanti akan ditambahi di koridor 2. Rencana estimasi akan dijalankan bulan Oktober,” kata Cito.

Menurut rencana, Koridor 2 akan menjadi jalur strategis yang menghubungkan Terminal Talangagung, Terminal Hamid Rusdi (Universitas Muhammadiyah Malang), hingga berakhir di Terminal Arjosari. Terminal Hamid Rusdi nantinya berfungsi sebagai titik transit utama sebelum bus melanjutkan perjalanan menuju wilayah utara Kota Malang.

“Origin-destination-nya untuk koridor 2 itu keberangkatannya dari daerah Talangagung, Kepanjen, sampai Terminal Hamid Rusdi. Nanti melalui Hamid Rusdi menuju ke Terminal Arjosari,” ujarnya.

Meskipun titik keberangkatan dan tujuan akhir telah dipastikan, Dishub Jatim masih mematangkan jalur yang akan dilintasi armada. Pembahasan teknis mengenai ruas jalan yang digunakan dijadwalkan berlangsung dalam rapat pekan depan.

“Untuk detailnya, kira-kira lewat jalan mana, ruas jalan mana, itu menunggu kita rapat di hari Rabu mendatang. Tetapi pemetaannya, titiknya sudah difinalkan, yaitu Terminal Talangagung melewati Terminal Hamid Rusdi, terus akhir tujuannya adalah Terminal Arjosari,” jelasnya.

Cito menambahkan bahwa kehadiran koridor baru ini menjadi langkah penting dalam memperluas layanan transportasi massal di Malang Raya. Jika koridor pertama lebih banyak melayani kawasan barat, koridor 2 akan memperkuat konektivitas menuju wilayah timur Kota Malang dan Kabupaten Malang bagian selatan.

“Rencana Insya Allah apabila tidak ada kendala, sesuai dengan timeline, sesuai dengan schedule yang berlaku, kita akan dijalankan atas seizin Ibu Gubernur dan Bapak Kepala Dinas pastinya di bulan Oktober,” ungkapnya.

Dishub Jatim Siapkan 15 Armada dan Rute Transit via Terminal Hamid Rusdi

Untuk mendukung operasional koridor 2, Dishub Jatim telah menyiapkan 15 unit bus yang terdiri dari 14 armada operasional dan satu armada cadangan. Jumlah ini setara dengan armada yang saat ini melayani koridor 1 Trans Jatim di Malang Raya.

“Armada yang disiapkan sementara kami itu 14 operasional, 1 cadangan,” ungkap Cito.

Mengacu pada data Dishub Jatim 2025, koridor 1 Trans Jatim di Malang Raya (yang menghubungkan Terminal Landungsari-Madyopuro) mencatatkan pertumbuhan penumpang rata-rata 18 persen per tahun sejak dioperasikan pada 2023. Rata-rata penumpang harian mencapai 2.400 orang pada akhir 2025. Dengan penambahan Koridor 2, diproyeksikan total penumpang Trans Jatim di Malang Raya akan meningkat menjadi 4.500 orang per hari pada 2027.

Bus yang digunakan untuk Koridor 2 dipastikan masih mengusung standar pelayanan kelas dunia dengan fasilitas Air Conditioner (AC), kursi ergonomis, akses Universal Access bagi disabilitas, Wi-Fi gratis, dan sistem pembayaran non-tunai terintegrasi e-Money dari berbagai bank.

Sementara itu, jadwal keberangkatan dan interval kedatangan bus masih dalam tahap perhitungan. Pemerintah akan melakukan survei waktu tempuh setelah rute final ditetapkan untuk menentukan headway (jarak waktu antar bus) dan timetable yang paling efektif.

“Kita masih belum tahu waktu tempuhnya. Kalau kita sudah mengetahui finalisasi rutenya melalui ruas jalan mana, baru kita bisa menyurvei kira-kira berapa menit sampainya, baru kita bisa menghitung waktu headway dan timetable-nya,” terang Cito.

Meski demikian, jam operasional koridor 2 diperkirakan tidak akan jauh berbeda dengan koridor 1 yang telah lebih dulu beroperasi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan layanan dimulai lebih pagi untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas masyarakat, terutama pelajar dan pekerja yang beraktivitas di sektor utara Kota Malang.

“Garis besarnya hampir sama dengan koridor 1. Atau bahkan lebih mundur. Contoh, kalau koridor 1 kan jam 5, bisa mungkin lebih jam setengah 5. Tapi masih belum final karena kami masih belum tahu finalnya nanti lewat mana,” pungkasnya.

Integrasi Layanan dan Dampak Ekonomi bagi Warga Malang Selatan

Kepanjen dan sekitarnya merupakan wilayah dengan aktivitas ekonomi dan pendidikan yang sangat tinggi di Kabupaten Malang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang 2025 mencatat, wilayah Kepanjen dan Singosari mengalami pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada 2024, didorong oleh sektor perdagangan dan jasa yang membutuhkan mobilitas pekerja dari wilayah selatan.

Integrasi antara Koridor 1 dan Koridor 2 melalui Terminal Hamid Rusdi juga akan memudahkan akses bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Negeri Malang (UM) yang berdomisili di wilayah Kepanjen. Saat ini, ojek online dan angkutan umum tradisional menjadi satu-satunya pilihan dengan biaya relatif lebih mahal.

Berdasarkan data BPS Jawa Timur 2024, penggunaan transportasi publik di Malang Raya baru mencapai 23 persen dari total pergerakan orang, sisanya masih menggunakan kendaraan pribadi. Angka ini masih di bawah target Provinsi Jawa Timur yaitu 35 persen pada 2026 melalui program “Jatim Sejahtera Bermartabat”.

Penambahan Koridor 2 diharapkan bisa mengurangi kemacetan di Jalan Raya Karanglo dan Jalan Raya Langsep yang menjadi jalur utama saat ini. Studi Dishub Malang Raya 2025 menunjukkan, penambahan satu koridor BRT bisa mengurangi volume kendaraan pribadi hingga 12 persen di jalur yang sama.

Sebagai perbandingan, keberhasilan Trans Jatim Koridor 1 di Surabaya-Pasuruan (Sidoarjo-Surabaya) mencatatkan penurunan tingkat kemacetan sebesar 18 persen pada jam sibuk sejak 2024, berdasarkan laporan evaluasi Dishub Jatim 2025. Hal serupa diharapkan terjadi di Malang Raya dengan operasional Koridor 2 ini.

Masyarakat Kepanjen menyambut antusias rencana ini. “Selama ini kalau mau ke Arjosari atau ke Malang kota harus ganti angkot dua kali. Kalau ada Trans Jatim langsung dari sini, tentu lebih hemat waktu dan biaya,” ujar Siti, salah satu pedagang di Pasar Kepanjen.

Dengan tarif terjangkau yang diprediksi berkisar Rp 5.000 hingga Rp 10.000 untuk satu kali perjalanan (sesuai tarif koridor 1 saat ini), masyarakat ekonomi menengah ke bawah akan sangat terbantu. Selain itu, integrasi tiket dengan moda transportasi lain seperti angkot feader di Kota Malang juga tengah dipersiapkan untuk memastikan “first and last mile” connection berjalan lancar.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dishub Jatim juga sedang mengkaji penggunaan bus listrik (electric bus) untuk Koridor 2 ini guna mendukung program net zero emission di sektor transportasi pada 2030. Jika terealisasi, Trans Jatim Koridor 2 akan menjadi koridor pertama di Malang Raya yang menggunakan armada ramah lingkungan secara penuh (hs/dnv).