El Niño 2026 menguat dan berpotensi membawa kemarau lebih kering. Indonesia perlu bersiap menghadapi ancaman kekeringan, karhutla, dan krisis air.
INDONESIAONLINE – Ancaman kekeringan di Indonesia memasuki babak yang perlu diwaspadai. Suhu muka laut di kawasan Pasifik tengah terus menghangat dan mendorong penguatan fenomena El Niño. Jika perkembangan tersebut bertahan sesuai proyeksi, sebagian wilayah Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan panjang.
Sinyal itu bukan sekadar proyeksi jangka panjang. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan El Niño 2026 telah aktif. Pada dasarian II Juli, anomali suhu muka laut wilayah Niño3.4 tercatat +2,26 secara dasarian, sementara indeks bulanan berada pada +1,56. BMKG mengategorikan kondisi tersebut sebagai El Niño kuat.
BMKG juga memperkirakan fenomena tersebut berpotensi berkembang menuju kategori sangat kuat. Pada saat bersamaan, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki periode kemarau, sehingga tekanan terhadap ketersediaan air menjadi persoalan yang tidak bisa ditunda.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Talk Show Interaktif Menghadapi Ancaman Super El Niño yang digelar Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (PPI ITB) bersama Humas ITB di Kampus Ganesha, Bandung, 13 Agustus 2026.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah pakar, termasuk Kepala PPI ITB Djoko Santoso Abi Suroso, Tri Wahyu Hadi, Fikry Purwa Lugina, Elza Surmaini, serta A. Fachri Radjab dari BMKG.
Yang menjadi perhatian bukan semata-mata seberapa tinggi suhu laut di Pasifik, melainkan bagaimana perubahan tersebut diterjemahkan menjadi risiko nyata di Indonesia.
Dari Laut Pasifik Menuju Kekeringan di Indonesia
El Niño bekerja melalui perubahan besar pada sistem atmosfer dan laut di kawasan Pasifik tropis. Ketika suhu muka laut di Pasifik tengah dan timur menghangat, pola sirkulasi atmosfer ikut bergeser. Dampaknya dapat berupa berkurangnya pembentukan awan dan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Indikator yang banyak digunakan untuk memantau fenomena tersebut adalah indeks Niño3.4. Angka positif menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah tersebut lebih hangat dibanding kondisi rata-ratanya.
Data BMKG pada Juli memperlihatkan bahwa penguatan El Niño sudah berjalan. Pada awal Juli, nilai anomali Niño3.4 dasarian tercatat +1,88, sebelum meningkat menjadi +2,26 pada dasarian kedua.
Dampaknya mulai tercermin dalam prakiraan musim. BMKG memperkirakan curah hujan Indonesia pada Agustus hingga Oktober 2026 umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, dengan sifat hujan bawah normal hingga normal.
Artinya, ancaman kekeringan tidak harus menunggu sampai seluruh wilayah mengalami hujan yang benar-benar hilang. Defisit hujan yang berlangsung berulang dapat perlahan menguras cadangan air tanah, menurunkan debit sungai dan menyusutkan tampungan waduk.
Dalam ilmu kebencanaan, kekeringan termasuk bencana slow onset. Ia tidak datang seperti banjir bandang yang bisa terlihat dalam hitungan jam. Kekeringan berkembang perlahan, sering kali baru terasa ketika sumur mulai mengering, tanaman gagal tumbuh atau debit sungai turun drastis.
Tahap awalnya adalah kekeringan meteorologis, ketika curah hujan berada jauh di bawah kondisi normal. Jika berlangsung cukup lama, persoalan bergerak ke sektor pertanian. Tanah kehilangan kelembapan dan tanaman mengalami tekanan air.
Pada tahap berikutnya, kekeringan hidrologis dapat terjadi ketika sungai, waduk dan sumber air lainnya mengalami penurunan debit. Karena prosesnya bertahap, ruang untuk melakukan pencegahan sebenarnya cukup besar.
Djoko Santoso Abi Suroso menekankan pentingnya mengubah cara masyarakat memahami El Niño. “Yang ingin kami luruskan adalah cara memahami El Niño. Fenomenanya terjadi di Samudra Pasifik, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang paling penting adalah mengetahui apa dampaknya di wilayah mereka, seberapa besar risikonya, dan apa yang perlu diantisipasi,” terangnya.
Peringatan tersebut penting karena El Niño tidak otomatis menghasilkan tingkat kekeringan yang sama di seluruh Indonesia. Pengaruhnya berbeda menurut lokasi, musim, kondisi geografis, ketersediaan air, dan interaksi dengan fenomena iklim lain.
BMKG sendiri pada Juli telah menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah daerah, termasuk bagian Bali, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga wilayah lainnya.
Bahkan, BMKG pada akhir Juli menyebut El Niño 2026 berpotensi mencapai level sangat kuat dan meningkatkan risiko kekeringan, karhutla, serta gangguan pada sejumlah sektor strategis.
Krisis Air Bukan Satu-satunya Ancaman
Kekeringan panjang membawa konsekuensi berantai. Pertanian menjadi salah satu sektor paling rentan karena perubahan jadwal hujan dapat mengganggu waktu tanam dan meningkatkan risiko gagal panen.
Petani perlu mengandalkan informasi prakiraan musim, menyesuaikan kalender tanam, memilih varietas yang lebih toleran terhadap kekeringan, serta memastikan sumber air tersedia pada fase kritis pertumbuhan tanaman.
Pemerintah daerah juga harus mulai menghitung kebutuhan air berdasarkan skenario terburuk. Waduk, embung, jaringan irigasi dan sumber air baku perlu dipantau sebelum memasuki kondisi kritis.
Langkah serupa diperlukan untuk kebutuhan domestik. Distribusi air bersih harus dipersiapkan di wilayah yang memiliki sejarah kekeringan berulang. Pengiriman tangki air seharusnya menjadi bagian dari rencana kontingensi, bukan tindakan yang baru dilakukan ketika sumur warga sudah mengering.
Ancaman lain adalah kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar, sementara kondisi angin dan minimnya hujan dapat membuat api cepat meluas.
BMKG telah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hotspot dan karhutla seiring menguatnya kondisi kering. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran terbuka untuk membersihkan lahan maupun sampah, terutama di kawasan gambut, semak, hutan dan lahan kering.
Namun, El Niño tidak selalu berarti seluruh sektor mengalami kerugian. Perubahan kondisi laut di perairan barat Sumatra hingga selatan Jawa dan Nusa Tenggara dapat memicu pengangkatan massa air yang membawa nutrien ke permukaan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas perikanan tangkap.
Cuaca yang lebih kering juga dapat memberikan keuntungan bagi produksi garam karena penguapan berlangsung lebih optimal. Pada lokasi tertentu, seperti sawah rawa lebak, kondisi kering bahkan dapat menciptakan peluang peningkatan produksi apabila dikelola dengan tepat.
Karena itu, strategi menghadapi El Niño tidak seharusnya hanya berupa daftar ancaman. Pemerintah daerah perlu membuat peta dampak berdasarkan wilayah dan sektor, sehingga masyarakat dapat mengetahui kapan harus menghemat air, petani dapat menentukan waktu tanam, nelayan dapat membaca peluang produksi, dan pelaku usaha dapat mengantisipasi perubahan pasokan.
Yang paling mendesak adalah membangun sistem pemantauan yang bergerak lebih cepat daripada dampaknya. Debit sungai, tinggi muka air waduk, kelembapan tanah, kondisi tanaman dan perkembangan hotspot perlu dipantau secara berkala.
Prediksi iklim juga harus diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat. Angka Niño3.4 mungkin penting bagi ilmuwan, tetapi bagi petani pertanyaan yang jauh lebih relevan adalah kapan hujan datang, berapa lama jedanya dan apakah air akan cukup sampai masa panen.
Indonesia masih memiliki waktu untuk mengurangi risiko. Tetapi waktu tersebut harus digunakan untuk bersiap, bukan menunggu.
Jika El Niño 2026 berkembang menuju intensitas sangat kuat seperti yang diproyeksikan BMKG, persoalannya bukan sekadar apakah hujan akan berkurang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia telah menyiapkan cadangan air, pangan, energi, dan sistem pencegahan kebakaran untuk menghadapi kemungkinan musim kering yang lebih panjang.
Di tengah ketidakpastian iklim, satu hal justru semakin pasti: kekeringan tidak datang secara tiba-tiba. Ia memberi tanda jauh sebelum mencapai puncaknya.
Tantangannya adalah apakah tanda-tanda tersebut dibaca cukup cepat untuk mengubah ancaman menjadi kesiapsiagaan.







