INDONESIAONLINE – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Rabu (22/7/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman untuk menyerang infrastruktur strategis Iran. Kenaikan juga dipicu pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menilai Teheran tidak menunjukkan keseriusan dalam upaya mengakhiri konflik.
Mengutip CNBC, Kamis (23/7/2026), harga minyak mentah Brent ditutup naik ke level US$94,07 per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat menjadi US$86,83 per barel.
Selama Juli, harga minyak telah meningkat lebih dari 20 persen seiring memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Meski mengancam kembali menyerang, Rubio mengatakan Washington masih membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Sebelumnya, Rubio menuding Iran tidak menunjukkan komitmen untuk mencapai kesepakatan damai. Menurut dia, Teheran bahkan melanggar nota kesepahaman yang disepakati bulan lalu dalam waktu kurang dari dua pekan.
Ia menegaskan militer AS akan terus mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan mengajak negara-negara lain bergabung dalam misi tersebut. Rubio juga menyebut Presiden Trump memiliki berbagai opsi jika Iran tetap tidak bersikap kooperatif.
Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan embargo terhadap kapal-kapal yang mengangkut atau memuat kargo di pelabuhan Arab Saudi. Kebijakan itu dinilai dapat mengganggu ekspor minyak Saudi yang sebelumnya dialihkan melalui Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pihaknya kembali melancarkan serangan ke Iran untuk malam ke-11 secara berturut-turut. Target serangan meliputi pusat operasi militer, fasilitas maritim, hanggar pesawat, lokasi penyimpanan drone, serta infrastruktur logistik militer.
Analis TD Securities Ryan McKay menilai harga minyak di kisaran US$90 hingga US$100 per barel kini ditopang oleh kondisi pasar yang semakin ketat akibat melambatnya arus ekspor melalui Selat Hormuz serta meningkatnya risiko gangguan pasokan di Laut Merah. Menurut McKay, eskalasi konflik dan pembatasan distribusi minyak dari Iran berpotensi mendorong harga minyak naik lebih tinggi apabila ketegangan terus berlanjut. (ars/hel)







