Wounded Knee 1890: Tragedi Lakota yang Mengakhiri Perang Indian

Ilustrasi Tarian Hantu yang dipengaruhi ajaran Wovoka, seorang pemimpin spiritual dari kelompok Northern Paiute di Nevada, menjadi salah satu pemicu pembantaian Wounded Knee pada 1890 menewaskan ratusan orang Lakota (io)

Pembantaian Wounded Knee pada 1890 menewaskan ratusan orang Lakota. Ketakutan terhadap Tarian Hantu menjadi pemicu tragedi kolonialisme Amerika.

INDONESIAONLINE – Sejarah pembentukan Amerika Serikat tidak hanya berkisah tentang kemerdekaan, perluasan wilayah, dan pembangunan sebuah negara. Di balik perkembangan itu, terdapat perjalanan panjang masyarakat pribumi yang kehilangan tanah, sumber penghidupan, serta kebebasan menjalankan tradisi leluhur.

Salah satu episode paling kelam dalam sejarah tersebut adalah pembantaian Wounded Knee pada 29 Desember 1890, ketika tentara Amerika Serikat menembaki rombongan masyarakat Lakota di South Dakota.

Peristiwa itu terjadi di tengah tekanan berkepanjangan terhadap masyarakat pribumi di kawasan Great Plains. Perluasan permukiman kulit putih, penyusutan wilayah hidup, dan kebijakan pemerintah yang membatasi kehidupan masyarakat Indian menciptakan situasi penuh ketidakpastian.

Konflik yang selama puluhan tahun melibatkan berbagai kelompok pribumi dan militer AS akhirnya mencapai salah satu titik paling tragis di tepi Sungai Wounded Knee.

Menurut Library of Congress, penembakan tersebut berlangsung setelah tentara berusaha melucuti senjata rombongan Lakota yang sedang berada dalam pengawasan militer. Ketika tembakan terdengar, pasukan AS melepaskan rentetan peluru yang menewaskan ratusan orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Peristiwa yang dahulu kerap disebut sebagai pertempuran itu kemudian lebih dikenal sebagai Pembantaian Wounded Knee.

Bison Menghilang, Tanah Menyempit, dan Harapan yang Tersisa

Tekanan terhadap masyarakat Lakota tidak muncul secara tiba-tiba pada penghujung 1890. Selama beberapa dekade sebelumnya, ekspansi Amerika Serikat telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat pribumi di kawasan Great Plains. Perluasan permukiman dan pembangunan jalur transportasi memperbesar perebutan tanah, sementara kebijakan pemerintah mendorong masyarakat Indian masuk ke wilayah reservasi.

Perubahan tersebut turut mengancam sumber pangan mereka. Bison, yang menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi dan budaya banyak masyarakat pribumi di dataran luas Amerika Utara, mengalami penurunan populasi besar-besaran akibat perburuan komersial dan ekspansi kolonial. Hilangnya bison mempersempit akses masyarakat terhadap makanan, bahan pakaian, dan berbagai kebutuhan sehari-hari.

Bagi komunitas Lakota, persoalan itu bukan sekadar perubahan lingkungan. Penyusutan sumber penghidupan berjalan beriringan dengan pembatasan ruang hidup dan meningkatnya ketergantungan terhadap sistem reservasi. Ketika kemampuan mempertahankan kehidupan tradisional semakin terdesak, muncul kebutuhan untuk mencari harapan baru di tengah situasi yang tidak menentu.

Harapan tersebut menemukan bentuknya dalam gerakan spiritual Tarian Hantu atau Ghost Dance. Gerakan ini berkembang pada akhir 1880-an, dipengaruhi ajaran Wovoka, seorang pemimpin spiritual dari kelompok Northern Paiute di Nevada. Ia menyampaikan ajaran tentang pemulihan kehidupan masyarakat pribumi, kembalinya leluhur, dan perubahan besar yang akan mengakhiri penderitaan mereka.

Tarian Hantu dilakukan secara berkelompok dengan gerakan berulang dan iringan nyanyian atau ketukan yang ritmis. Bagi para pengikutnya, ritual tersebut merupakan praktik spiritual yang mengandung harapan akan pemulihan dunia mereka. Gerakan itu bukan dengan sendirinya rencana pemberontakan bersenjata.

Namun, sebagian pejabat dan penduduk kulit putih menafsirkan berkumpulnya para pengikut Tarian Hantu sebagai ancaman keamanan. Catatan National Archives Amerika Serikat menjelaskan bahwa gerakan tersebut keliru dipandang sebagai tanda kemungkinan konflik. Kekhawatiran itu mendorong peningkatan kehadiran militer dan memperburuk hubungan dengan masyarakat Lakota.

Ketegangan meningkat setelah Sitting Bull, pemimpin Hunkpapa Lakota yang terkenal, tewas pada 15 Desember 1890 ketika polisi reservasi berusaha menangkapnya. Ia bukan korban dalam pembantaian Wounded Knee, tetapi kematiannya memperbesar ketakutan para pengikutnya terhadap kemungkinan penindasan berikutnya. Sebagian dari mereka kemudian bergabung dengan rombongan Miniconjou Lakota yang dipimpin Spotted Elk, juga dikenal sebagai Big Foot.

Dari Upaya Pelucutan Senjata Menjadi Pembantaian

Pada 28 Desember 1890, pasukan Kavaleri Ketujuh AS mencegat rombongan Spotted Elk yang sedang bergerak menuju Pine Ridge. Rombongan itu kemudian dibawa ke perkemahan di dekat Wounded Knee Creek, South Dakota. Mereka terdiri atas ratusan orang, termasuk perempuan dan anak-anak, yang berada dalam situasi rentan di bawah pengawasan tentara.

Keesokan paginya, 29 Desember, tentara berusaha mengambil senjata milik anggota rombongan Lakota. Situasi menjadi tegang ketika proses pelucutan berlangsung. Dalam catatan sejarah, terdapat perbedaan keterangan mengenai bagaimana tembakan pertama terjadi. Salah satu versi menyebut senjata seorang pria Lakota bernama Black Coyote meletus ketika tentara berusaha mengambilnya. Tidak semua rincian kejadian itu dapat dipastikan secara meyakinkan.

Yang jelas, setelah tembakan terdengar, tentara AS melepaskan tembakan secara luas ke arah rombongan. Pasukan juga menggunakan empat meriam gunung Hotchkiss, senjata artileri yang mampu menembakkan proyektil berulang. Banyak orang Lakota berusaha menyelamatkan diri, tetapi tembakan terus menghantam kawasan perkemahan dan jalur pelarian.

Menurut ringkasan sejarah militer Angkatan Darat AS, penembakan utama berlangsung sekitar satu jam, meskipun suara tembakan sporadis terdengar hingga waktu berikutnya. Lebih dari 200 orang Lakota diperkirakan tewas, dan sejumlah korban lainnya terluka.

Perempuan serta anak-anak termasuk di antara mereka yang kehilangan nyawa. Militer AS juga mencatat 25 tentaranya tewas dan 39 lainnya terluka; sebagian korban dari pihak tentara diduga terkena tembakan dari rekan sendiri dalam situasi kacau.

Jumlah korban Lakota tetap menjadi persoalan dalam catatan sejarah karena tidak tersedia pendataan lengkap yang dapat memastikan angka akhirnya. Resolusi bersama Kongres AS pada 25 Oktober 1990 menyebut sekitar 350–375 orang dari rombongan Big Foot mengalami kematian atau luka-luka.

Dokumen tersebut juga menyampaikan penyesalan mendalam pemerintah Amerika Serikat kepada keturunan para korban dan komunitas Sioux atas tragedi itu.

Pembantaian Wounded Knee kerap dipandang sebagai salah satu episode terakhir dalam rangkaian besar peperangan antara militer Amerika Serikat dan masyarakat pribumi di kawasan Great Plains. Namun, berakhirnya pertempuran berskala besar tidak serta-merta menghapus dampak pengusiran, pembatasan budaya, dan hilangnya tanah leluhur.

Seratus tahun setelah tragedi tersebut, Kongres AS secara resmi mengakui makna sejarah Wounded Knee dan menyatakan penyesalan atas kematian serta penderitaan masyarakat Lakota. Pengakuan itu menjadi bagian dari upaya rekonsiliasi, meskipun tidak dapat mengembalikan nyawa yang hilang ataupun menghapus pengalaman traumatis para penyintas dan keturunannya.

Wounded Knee memperlihatkan bagaimana ketakutan, kesalahpahaman terhadap keyakinan spiritual, dan ketimpangan kekuatan dapat berujung pada kekerasan massal. Peristiwa tersebut juga mengingatkan bahwa sejarah perlu dibaca dari pengalaman masyarakat yang terdampak, bukan hanya melalui narasi kemenangan militer atau perluasan negara.