Perang Babi 1859: Seekor Babi Bawa AS dan Inggris ke Ambang Perang

Perang Babi 1859 bermula dari seekor babi yang ditembak di Pulau San Juan. Insiden kecil ini memicu krisis militer AS dan Inggris hingga 1872 (io)

Perang Babi 1859 bermula dari seekor babi yang ditembak di Pulau San Juan. Insiden kecil ini memicu krisis militer AS dan Inggris hingga 1872.

INDONESIAONLINE – Seekor babi yang mengacak-acak kebun kentang hampir menyeret dua kekuatan imperialis abad ke-19 ke dalam perang terbuka. Peristiwa yang dikenal sebagai Pig War atau Perang Babi itu terjadi di Kepulauan San Juan, Pasifik Barat Laut, pada 1859.

Di balik insiden yang terdengar sepele tersebut, tersimpan sengketa perbatasan, perebutan pengaruh geopolitik, dan ambisi teritorial Amerika Serikat serta Britania Raya.

Krisis itu tidak muncul secara tiba-tiba. Jauh sebelum seekor babi ditembak mati, kedua negara telah berselisih mengenai kepemilikan wilayah yang kini menjadi bagian dari negara bagian Washington, Amerika Serikat.

Pada pertengahan abad ke-19, Washington menjalankan ekspansi wilayah yang berkaitan dengan gagasan Manifest Destiny. Keyakinan tersebut menggambarkan perluasan Amerika sebagai misi historis yang dianggap ditakdirkan. Sementara itu, Britania Raya berusaha mempertahankan kepentingan kolonial dan jaringan perdagangan di Amerika Utara.

Salah satu wilayah yang diperebutkan adalah Oregon Country. Melalui Oregon Treaty pada 15 Juni 1846, kedua negara menyepakati garis batas di sepanjang paralel ke-49, kemudian mengikuti jalur perairan menuju Selat Juan de Fuca dan Samudra Pasifik. Namun, rumusan mengenai batas laut menyisakan persoalan: perjanjian hanya menyebut garis yang melewati “the middle of the channel”, tanpa menentukan selat mana yang dimaksud.

Ada dua kandidat utama, yakni Selat Haro di sebelah barat dan Selat Rosario di sebelah timur Kepulauan San Juan. Pilihan pertama akan menempatkan kepulauan tersebut di wilayah Amerika Serikat, sedangkan pilihan kedua menguntungkan klaim Britania Raya.

Ketika Kebun Kentang Menjadi Pemantik Krisis

Pada 1853, Hudson’s Bay Company (HBC), perusahaan perdagangan Inggris yang memiliki kepentingan ekonomi di kawasan tersebut, mendirikan Belle Vue Sheep Farm di Pulau San Juan. Peternakan itu dipimpin Charles John Griffin dan menjadi bagian dari upaya mempertahankan kehadiran Inggris di wilayah yang status kedaulatannya belum terselesaikan.

Di sisi lain, pemukim Amerika mulai berdatangan dan membuka lahan yang mereka anggap sebagai milik Amerika Serikat. Kedua kelompok hidup dalam ketegangan karena masing-masing merasa memiliki hak atas pulau tersebut.

Puncaknya terjadi pada 15 Juni 1859. Lyman Cutlar, seorang pemukim Amerika, mendapati seekor babi milik peternakan HBC merusak kebun kentangnya. Hewan itu disebut bukan kali pertama mengganggu tanaman miliknya. Dalam kemarahan, Cutlar menembak babi tersebut hingga mati.

Perselisihan kemudian bergeser dari kerusakan tanaman menjadi pertarungan mengenai hak kepemilikan dan yurisdiksi.

Cutlar menawarkan ganti rugi sebesar 10 dolar AS, tetapi Griffin meminta 100 dolar AS. Perbedaan penilaian tersebut memperuncing pertengkaran yang sejak awal telah dibebani sengketa politik antara kedua negara. Otoritas Inggris kemudian mengancam akan menangkap Cutlar, sementara para pemukim Amerika meminta perlindungan militer.

Pemerintah Amerika merespons melalui Brigadir Jenderal William S. Harney, komandan Departemen Oregon. Pada 27 Juli 1859, pasukan Amerika yang dipimpin Kapten George E. Pickett mendarat di pulau itu untuk melindungi kepentingan pemukim AS.

Kehadiran tentara Amerika memicu reaksi Britania Raya. Kapten Geoffrey Phipps Hornby diperintahkan mengerahkan kapal perang dan menekan pasukan Amerika agar meninggalkan pulau, tetapi sebisa mungkin menghindari bentrokan bersenjata.

Pada Agustus 1859, ketegangan meningkat ketika pasukan kedua negara berhadapan dengan dukungan persenjataan militer. Namun, perintah untuk menghindari tembakan membuat krisis tersebut tidak berkembang menjadi pertempuran terbuka.

Arbitrase Mengakhiri Sengketa pada 1872

Kebuntuan itu akhirnya mendorong kedua negara mencari penyelesaian diplomatik. Pada Oktober 1859, Amerika Serikat dan Britania Raya menyepakati pendudukan militer bersama sambil menunggu penentuan batas wilayah. Pada Maret 1860, marinir Inggris mendirikan kamp di bagian lain pulau, melengkapi kehadiran militer Amerika.

Kedua negara mempertahankan keberadaan pasukan selama bertahun-tahun tanpa perang terbuka. Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana ketidakjelasan perjanjian internasional dapat mempertahankan konflik, bahkan ketika para pihak berusaha menghindari penggunaan kekuatan.

Penyelesaian baru tercapai melalui Treaty of Washington pada 1871, yang membuka jalan bagi arbitrase internasional. Kaisar Jerman Wilhelm I ditunjuk sebagai arbiter untuk memutuskan batas perairan yang dipersengketakan. Setelah memeriksa argumen dan dokumen kedua negara, keputusan diumumkan pada 21 Oktober 1872.

Hasil arbitrase menetapkan Selat Haro sebagai garis batas. Dengan demikian, Kepulauan San Juan berada di bawah kedaulatan Amerika Serikat. Marinir Inggris meninggalkan kamp mereka pada November 1872, sedangkan penarikan seluruh pasukan Amerika berlangsung hingga 1874.

Perang Babi pun berakhir tanpa korban jiwa manusia akibat pertempuran. Seekor babi menjadi satu-satunya korban yang dikenal dalam krisis tersebut, sementara perselisihan wilayah diselesaikan melalui mekanisme diplomatik.

Kisah ini menyimpan pelajaran penting dalam sejarah hubungan internasional. Sengketa yang tampak kecil dapat berkembang menjadi krisis ketika persoalan lokal bertemu dengan ambisi negara, ketidakjelasan hukum, dan pengerahan kekuatan militer.

Pada akhirnya, bukan senjata yang menentukan kepemilikan Kepulauan San Juan, melainkan arbitrase. Peristiwa yang kemudian dikenang sebagai Pig War menjadi contoh bahwa negosiasi dan keputusan hukum internasional dapat mencegah konflik yang berpotensi jauh lebih besar.