Konsumsi Pertalite Melonjak, Bahlil Buka Peluang Tambah Kuota BBM Subsidi 2026

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (@bahlillahadalia)

INDONESIAONLINE – Pemerintah membuka peluang menambah kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite pada 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut rencana tersebut muncul seiring meningkatnya konsumsi Pertalite akibat peralihan pengguna dari BBM nonsubsidi.

Bahlil mengatakan, pemerintah akan melakukan perhitungan lebih lanjut untuk menentukan kebutuhan tambahan kuota Pertalite. Evaluasi tersebut rencananya dilakukan pada akhir bulan ini dengan mempertimbangkan perkembangan konsumsi BBM di masyarakat.

“Pertalite nanti coba saya akan melakukan exercise nanti di akhir bulan ini ya. Tapi memang ada terjadi peningkatan dibandingkan dengan (target) 2026 ya. Ada kenaikan. Karena ada kenaikan, pasti akan terjadi penambahan kuota,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Terkait kemungkinan penambahan kuota tersebut, Bahlil memastikan pemerintah juga telah mempertimbangkan kebutuhan anggaran subsidi yang harus disiapkan apabila alokasi Pertalite ditingkatkan. “Ya pasti kita sudah memikirkan lah ya,” katanya.

Penyaluran Pertalite Capai 47,68 Persen dari Kuota

Sebelumnya, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas memaparkan realisasi penyaluran BBM subsidi dan BBM penugasan sepanjang 2026. Hingga 30 Juni 2026, penyaluran solar subsidi tercatat mencapai 9,48 juta kiloliter (KL), atau 50,85 persen dari kuota pemerintah sebesar 18,64 juta KL.

Sementara itu, penyaluran minyak tanah mencapai 0,26 juta KL, setara 48,91 persen dari kuota yang ditetapkan sebesar 0,53 juta KL.

Adapun realisasi penyaluran Pertalite dengan nilai oktan RON 90 tercatat sebesar 13,96 juta KL. Jumlah tersebut setara 47,68 persen dari total kuota dalam APBN 2026 yang mencapai 29,27 juta KL.
“Sementara untuk jenis Pertalite RON 90, realisasi penyaluran mencapai 13,96 juta kiloliter atau setara 47,68% dari kuota yang ditetapkan dalam APBN 29,27 juta kiloliter,” kata Wahyudi dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR, Kamis (16/7/2026).

Konsumsi Pertalite Meningkat usai Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi

Peningkatan konsumsi Pertalite juga disampaikan Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, dalam rapat yang sama. Menurut dia, penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan Pertamina sejak 18 April 2026 berdampak pada perubahan pola konsumsi masyarakat, termasuk meningkatnya permintaan Pertalite dan Biosolar.

Eko menjelaskan, pada periode Januari hingga Mei 2026, ketika harga BBM belum mengalami kenaikan, porsi konsumsi Pertalite terhadap total konsumsi BBM jenis bensin atau gasoline berada di kisaran 75 persen.

Namun, setelah terjadi penyesuaian harga, proporsi konsumsi Pertalite meningkat menjadi sekitar 80 persen.
“Dan ini mungkin salah satu lonjakan demand di berbagai wilayah khususnya di setiap MOR yang saat ini juga membuat perubahan operasi dari Pertamina Patra Niaga untuk bisa meng-cover build-up stock di semua jaringan lembaga penyalur kita khususnya SPBU,” kata Eko.

Lonjakan permintaan tersebut membuat Pertamina Patra Niaga perlu menyesuaikan operasional untuk menjaga ketersediaan stok di jaringan penyalur, terutama stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Dengan adanya tren peningkatan konsumsi tersebut, pemerintah akan mengevaluasi kebutuhan kuota Pertalite untuk 2026. Keputusan penambahan alokasi nantinya akan mempertimbangkan hasil perhitungan kebutuhan BBM sekaligus kesiapan anggaran subsidi. (hsa/hel)