Beranda

AS Buru 14 Petinggi Iran, Hadiah Rp177 M untuk Informasi

Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran masuk dalam daftar program Rewards for Justice (RFJ) milik Departemen Luar Negeri AS dengan imbalan 10 juta dollar AS atau sekitar Rp177 miliar (wusf)

AS menawarkan hadiah hingga Rp177 miliar untuk informasi 14 petinggi Iran, termasuk Mojtaba Khamenei, di tengah ketegangan Washington-Teheran.

INDONESIAONLINE – Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap lingkaran kekuasaan Iran. Melalui program Rewards for Justice (RFJ) milik Departemen Luar Negeri AS, Washington menawarkan imbalan hingga 10 juta dollar AS atau sekitar Rp177 miliar bagi informasi mengenai sejumlah tokoh senior Iran.

Daftar tersebut mencakup pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan sejumlah pejabat yang menurut pemerintah AS memiliki keterkaitan dengan struktur Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Langkah itu diumumkan ketika hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam bayang-bayang konflik bersenjata serta operasi keamanan yang melibatkan kedua negara. Pemerintah AS menuduh tokoh-tokoh yang masuk dalam daftar memiliki peran dalam memimpin unit yang melakukan serangan terhadap personel Amerika Serikat atau menjalankan operasi siber yang menyasar infrastruktur penting AS.

Program RFJ menyebut informasi yang dicari dapat berkaitan dengan identifikasi maupun lokasi para tokoh tersebut. Pemerintah AS juga membuka kemungkinan pemberian hadiah dan relokasi bagi pemberi informasi yang memenuhi persyaratan.

Mojtaba Khamenei Masuk Daftar Pencarian

Nama Mojtaba Khamenei menjadi sorotan terbesar. Ia merupakan putra Ayatollah Ali Khamenei dan sejak Maret 2026 menempati posisi Pemimpin Tertinggi Iran setelah ayahnya tewas dalam serangan pada fase awal perang Iran-Israel-AS.

Pada Maret lalu, RFJ memang telah mengumumkan hadiah hingga 10 juta dollar AS untuk informasi mengenai Mojtaba dan sejumlah figur senior Iran. Pengumuman terbaru pada Agustus memperluas perhatian terhadap jajaran komandan IRGC dan struktur keamanan yang berada di sekitar kepemimpinan Iran.

Dalam daftar RFJ yang dipublikasikan, selain Mojtaba terdapat Ali Asghar Hejazi yang disebut sebagai wakil kepala staf kantor Pemimpin Tertinggi Iran. Nama Yahya Rahim Safavi juga tercantum sebagai penasihat militer pemimpin tertinggi.

Figur lainnya adalah Eskandar Momeni, Menteri Dalam Negeri Iran, serta Ahmad Vahidi yang dicantumkan sebagai komandan IRGC. Ali Abdollahi juga masuk daftar dengan jabatan sebagai kepala Khatam al-Anbiya Central Headquarters.

Washington turut mencari informasi mengenai Sa’id Aghajani, komandan drone Angkatan Dirgantara IRGC, Hamidreza Lashgarian yang memimpin IRGC Cyber Electronic Command, serta Majid Khademi yang disebut sebagai komandan kantor intelijen IRGC.

Daftar resmi RFJ juga mencantumkan sejumlah posisi strategis yang tidak disertai nama lengkap, termasuk pejabat Dewan Pertahanan, kantor militer Pemimpin Tertinggi, serta Kementerian Intelijen dan Keamanan.

Namun, terdapat persoalan penting dalam daftar tersebut. Laporan Jerusalem Post pada 25 Agustus menyebut Majid Khademi, yang masih tercantum dalam daftar RFJ, telah tewas akibat serangan Israel pada April 2026. Laporan itu juga menyebut program AS menawarkan hadiah hingga 10 juta dollar untuk informasi mengenai lima tokoh senior IRGC dalam pengumuman terbaru.

Perbedaan antara daftar resmi dan perkembangan situasi di lapangan menunjukkan betapa cepat perubahan struktur keamanan Iran berlangsung sejak perang meletus. Pergantian jabatan dan kematian sejumlah komandan membuat informasi mengenai posisi serta keberadaan pejabat Iran menjadi komoditas intelijen yang sangat bernilai.

Bagi Washington, program RFJ bukan sekadar pengumuman hadiah. Program tersebut merupakan instrumen untuk memperoleh informasi dari individu yang memiliki akses terhadap struktur keamanan Iran. RFJ menyediakan sejumlah saluran komunikasi dan menyatakan informasi yang disampaikan dapat dilengkapi foto, video, dokumen, maupun keterangan pendukung.

Tekanan Washington Berjalan Bersamaan dengan Penataan Diplomasi

Pengerahan instrumen intelijen tersebut berlangsung ketika Amerika Serikat mulai menghadapi kebutuhan untuk menata kembali keberadaan diplomatiknya di Timur Tengah setelah periode evakuasi dan pengurangan personel akibat perang.

Situasi itu memperlihatkan dua jalur kebijakan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, Washington tetap mempertahankan tekanan terhadap struktur militer dan keamanan Iran. Di sisi lain, Amerika Serikat perlu memulihkan kapasitas diplomatiknya di kawasan agar dapat memantau perkembangan politik serta keamanan secara langsung.

Penawaran hadiah melalui RFJ juga memiliki dimensi psikologis. Dengan memasang nilai hingga 10 juta dollar AS, pemerintah Amerika mengirimkan pesan bahwa informasi mengenai para pemimpin dan komandan Iran memiliki nilai strategis tinggi.

Program tersebut telah lama digunakan Departemen Luar Negeri AS untuk memperoleh informasi yang dapat membantu penegakan hukum, operasi antiterorisme, maupun perlindungan terhadap kepentingan Amerika. Dalam kasus Iran, Washington secara terbuka mengaitkan tokoh-tokoh yang dicari dengan aktivitas IRGC yang dituduh melakukan serangan bersenjata dan operasi siber terhadap kepentingan AS.

IRGC sendiri bukan institusi kecil dalam sistem kekuasaan Iran. Korps tersebut memiliki struktur militer, intelijen, serta unit khusus yang memiliki pengaruh besar dalam keamanan dan politik negara. Karena itu, pemetaan terhadap komandannya memiliki arti strategis bagi negara-negara yang berhadapan langsung dengan Teheran.

Bagi Iran, daftar tersebut berpotensi dipandang sebagai bagian dari tekanan maksimum Washington terhadap pemerintahan baru Mojtaba Khamenei. Bagi Amerika Serikat, informasi dari dalam struktur Iran dapat membantu mengidentifikasi rantai komando, lokasi pejabat, serta jaringan operasional yang dianggap mengancam kepentingan Washington.

Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa perang modern antara AS dan Iran tidak hanya berlangsung melalui rudal, drone, atau operasi militer terbuka. Pertarungan informasi dan intelijen menjadi medan lain yang sama pentingnya.

Ketika Washington menawarkan imbalan ratusan miliar rupiah untuk informasi mengenai pejabat Iran, yang dipertaruhkan bukan sekadar uang. Di balik program tersebut terdapat upaya membongkar jaringan kekuasaan, mengidentifikasi aktor kunci, dan memperoleh keunggulan informasi di tengah konflik Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda.

Daftar buruan itu sekaligus memperlihatkan bahwa pergantian kepemimpinan di Teheran belum membuat tekanan Amerika Serikat surut. Justru sebaliknya, nama Mojtaba Khamenei dan jajaran elite keamanan Iran kini menjadi bagian dari pertarungan intelijen yang semakin terbuka antara Washington dan Teheran.

Exit mobile version