Bersenandung untuk Selamatkan Pendengaran: Tim Peneliti Fakultas Kedokteran UM Kembangkan Humming Test sebagai Skrining Dini Tuli Mendadak

Peneliti FK UM dr Andrew Halim SpTHTBKL memeriksa telinga akibat tuli sensorineural mendadak. (ist)

INDONESIAONLINE – Tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan pemanfaatan humming test sebagai metode skrining dini untuk mendeteksi sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) atau tuli sensorineural mendadak.

Inovasi ini diharapkan membantu tenaga kesehatan mengenali pasien lebih cepat sehingga dapat segera memperoleh penanganan pada masa emas atau golden period 72 jam.

SSNHL merupakan kondisi kegawatdaruratan di bidang telinga, hidung, tenggorok, kepala, dan leher (THT-KL). Apabila tidak segera ditangani, gangguan tersebut berisiko menyebabkan kehilangan pendengaran permanen yang berdampak pada kualitas hidup pasien.

Penelitian ini dipimpin oleh dr Andrew Halim SpTHTBKL bersama anggota dr Rokhmatul A. MBiomed, dr Tisnalia M.A. MKes, dr Didiek D.T.S. SpB, serta mahasiswa kedokteran Trofi Rizkitama, Dinda Salsabila Zulfa, dan Nur Iza Lailiah Ramadhani. Tim berkolaborasi dengan Klinik THT Terpadu Malang untuk mengevaluasi kembali efektivitas humming test sebagai pemeriksaan awal sebelum pasien menjalani pure tone audiometry (PTA).

Menurut dr Andrew Halim, keterbatasan alat audiometri di berbagai fasilitas kesehatan primer menjadi tantangan dalam mendeteksi kasus tuli mendadak secara cepat. Karena itu, diperlukan metode skrining yang sederhana, praktis, dan mudah diterapkan.

“Humming test bukanlah pemeriksaan baru, tetapi telah lama dikenal dalam praktik THT. Melalui penelitian ini, kami ingin memperkuat bukti ilmiahnya agar dapat kembali dimanfaatkan sebagai skrining awal oleh dokter umum maupun dokter spesialis THT, terutama di fasilitas kesehatan yang belum memiliki alat audiometri. Harapannya, pasien dapat dikenali lebih cepat dan segera dirujuk untuk mendapatkan penanganan dalam masa emas terapi,” ujar dr Andrew Halim.

Humming test dilakukan dengan meminta pasien bersenandung. Getaran suara kemudian dihantarkan melalui konduksi tulang (bone conduction), sehingga perubahan persepsi suara yang dirasakan pasien dapat menjadi petunjuk awal adanya gangguan pendengaran sensorineural.

Pemeriksaan ini tidak memerlukan alat khusus, mudah dilakukan, dan hanya membutuhkan waktu singkat.
Tim peneliti berharap metode tersebut dapat kembali menjadi bagian dari praktik klinis sehari-hari, terutama di puskesmas, klinik pratama, maupun rumah sakit yang memiliki keterbatasan fasilitas audiologi.  Dengan demikian, tenaga kesehatan memiliki alternatif skrining awal sambil menunggu pemeriksaan lanjutan menggunakan PTA.

Selain mengembangkan penelitian, tim juga mengedukasi masyarakat agar lebih waspada terhadap gejala awal SSNHL. Tanda-tanda yang perlu diperhatikan antara lain penurunan pendengaran secara tiba-tiba pada satu telinga, telinga berdenging (tinnitus), telinga terasa penuh, hingga pusing berputar pada sebagian pasien. Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat dianjurkan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis THT-KL dan tidak menunda pemeriksaan.

Penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya meningkatkan deteksi dini serta mencegah disabilitas akibat gangguan pendengaran. Kolaborasi antara Universitas Negeri Malang dan Klinik THT Terpadu Malang diharapkan mampu memperluas pemanfaatan humming test sebagai metode skrining yang sederhana, terjangkau, dan mudah diakses sehingga pasien dengan tuli mendadak dapat memperoleh diagnosis dan terapi lebih cepat sekaligus mengurangi risiko kehilangan pendengaran permanen. (hsa/hel)