Italia 61 situs, China 60 situs. Duel ketat perebutan takhta warisan dunia UNESCO 2026. Indonesia miliki 10 situs, belum tembus 10 besar. Simak peta persaingannya.
INDONESIAONLINE – Roma dan Beijing seolah terlibat dalam duel abadi yang tak hanya terjadi di arena ekonomi atau geopolitik, tetapi juga di panggung warisan peradaban dunia. Data yang dihimpun dari WorldAtlas per Rabu (20/5/2026) menunjukkan bahwa Italia masih kokoh di puncak daftar negara dengan Situs Warisan Dunia UNESCO terbanyak: 61 situs. Namun, China kini hanya terpaut satu angka—60 situs—setelah keduanya sama-sama menambah koleksi pada 2025.
Persaingan dua raksasa ini menjadi potret bagaimana sejarah panjang peradaban, ditambah strategi nominasi yang agresif, mampu mengukuhkan posisi sebuah negara dalam peta warisan global.
Sementara itu, pertanyaan yang kerap mengemuka di kalangan pelancong dan pegiat budaya Indonesia adalah: di manakah posisi Indonesia dalam pertarungan ini? Jawabannya sederhana: belum masuk 10 besar.
Puncak Takhta: Italia dan “Rumah Para Peri”
Italia telah menjadi pemimpin global dalam hal jumlah Situs Warisan Dunia UNESCO sejak awal berlakunya Konvensi Warisan Dunia. Dari 61 situs yang dimilikinya, 54 di antaranya adalah situs budaya, 6 situs alam, dan 1 situs campuran.
Angka ini lebih banyak dari seluruh situs yang dimiliki oleh satu benua tertentu—sebuah fakta yang mencengangkan mengingat luas wilayah Italia hanya sekitar 301.000 kilometer persegi, atau kira-kira seperenam luas Indonesia.
Keunggulan Italia bukan semata soal kuantitas. Situs-situsnya mencakup hampir seluruh babakan penting peradaban Barat: dari reruntuhan Pompeii dan Herculaneum yang mengabadikan kehidupan Romawi kuno, pusat bersejarah Roma dan Venesia, hingga Pantai Amalfi yang dramatis.
Situs alamnya pun tak kalah ikonik: Pegunungan Dolomit, subrange Alpen dengan formasi batuan yang menjulang vertikal, menjadi magnet bagi wisatawan petualang.
Pada 2025, Italia kembali menambah koleksinya lewat Domus de Janas di Sardinia—kompleks makam batu yang diukir antara 4000 hingga 2000 Sebelum Masehi. Dalam legenda Sardinia, struktur ini disebut sebagai “rumah para peri”.
Inskripsi ini menegaskan bahwa Italia tidak hanya mengandalkan kejayaan Romawi dan Renaisans, tetapi juga menggali akar prasejarahnya yang masih minim terekspos.
China Mengejar: Strategi Panjang Negeri Tirai Bambu
Jika Italia unggul karena akumulasi sejarah ribuan tahun yang terpusat di satu semenanjung, China memiliki keunggulan berbeda: lanskap yang luar biasa luas dan peradaban yang berkesinambungan selama lebih dari lima milenium. Dengan 60 situs—41 situs budaya, 4 situs campuran, dan sisanya alam—China kini menempel ketat di posisi kedua.
Penambahan terbaru China adalah Kompleks Makam Kekaisaran Xixia pada 2025, yang sebelumnya sempat disinggung dalam laporan Wanderlust sebagai situs yang nyaris membuat China menyamai rekor Italia.
Situs ini terdiri dari 9 mausoleum kekaisaran dan 271 makam bawahan yang membentang di kaki Pegunungan Helan di barat laut China. Lebih dari 7.000 artefak telah diekskavasi dari lokasi ini, menjadikannya salah satu penemuan arkeologi paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
China juga memiliki strategi nominasi yang agresif. Selain situs budaya ikonik seperti Tembok Besar, Pasukan Terakota, dan Kota Terlarang, China juga berhasil mendapatkan pengakuan untuk kawasan konservasi Panda Raksasa di Sichuan—sebuah situs alam yang mencakup habitat ribuan spesies endemik.
Pola ini menunjukkan bahwa China tidak hanya mengandalkan warisan budayanya, tetapi juga keanekaragaman hayatinya yang luar biasa.
Peringkat Ketiga hingga Kelima: Dominasi Eropa Berlanjut
Di belakang Italia dan China, Eropa masih mendominasi papan atas. Jerman berada di peringkat ketiga dengan 55 situs—bertambah setelah kompleks Istana Raja Ludwig II dari Bavaria resmi masuk daftar UNESCO pada 2025. Istana Neuschwanstein, yang disebut-sebut menginspirasi kastil dalam logo Disney, menjadi salah satu situs paling difoto di dunia.
Prancis menguntit di posisi keempat dengan 54 situs. Situs megalitikum Carnac di Brittany—yang kerap dijuluki “Stonehenge-nya Prancis”—menjadi tambahan terbaru pada 2025. Situs ini memiliki sekitar 3.000 menhir yang berdiri dalam 10 hingga 13 baris sepanjang 4 kilometer, berasal dari lebih dari 7.000 tahun lalu.
Spanyol melengkapi lima besar dengan 50 situs, termasuk Alhambra di Granada yang disebut oleh UNESCO sebagai “satu-satunya kota palatine periode Islam yang terlestarikan”.
Lalu, di manakah Indonesia? Hingga 2026, Indonesia memiliki 10 Situs Warisan Dunia UNESCO yang terbagi dalam kategori budaya dan alam.
Candi Borobudur, Candi Prambanan, Taman Nasional Komodo, Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra, dan Tambang Batu Bara Ombilin di Sawahlunto adalah beberapa di antaranya.
Angka 10 ini menempatkan Indonesia jauh dari 10 besar. Sebagai perbandingan, Iran yang menutup daftar 10 besar memiliki 28 situs. Artinya, Indonesia masih membutuhkan hampir tiga kali lipat dari jumlah situs yang dimilikinya saat ini untuk bisa menembus jajaran elite global.
Namun, mengejar kuantitas bukanlah strategi yang bijak tanpa kesiapan konservasi. Beberapa Situs Warisan Dunia Indonesia justru menghadapi ancaman serius. Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra, misalnya, telah berstatus “Dalam Bahaya” (In Danger) sejak 2011 akibat pembalakan liar, perambahan, dan pembangunan infrastruktur.
Ironi ini menjadi pengingat bahwa pengakuan UNESCO bukanlah sekadar prestise, melainkan tanggung jawab pelestarian yang mengikat.
Mengapa Italia dan China Bisa Sebegitu Dominan?
Ada sejumlah faktor yang menjelaskan mengapa Italia dan China begitu dominan. Pertama, panjangnya sejarah peradaban yang meninggalkan jejak arsitektural dan arkeologis dalam jumlah besar. Kedua, wilayah yang terpusat secara kultural—Italia sebagai pusat Kekaisaran Romawi dan Renaisans, China sebagai pusat peradaban Asia Timur yang berkesinambungan.
Ketiga, strategi nominasi yang terencana. Setiap negara anggota UNESCO dapat mengajukan nominasi setiap tahun melalui proses yang ketat. Italia dan China secara konsisten mengajukan situs-situs baru dengan dokumen yang lengkap dan argumentasi “Nilai Universal Luar Biasa” yang kuat.
UNESCO menggunakan 10 kriteria untuk mengevaluasi situs kandidat—enam untuk properti budaya, empat untuk alam. Sebuah situs harus memenuhi setidaknya satu kriteria untuk lolos.
Keempat, investasi dalam penelitian arkeologi dan pelestarian. Italia memiliki ribuan arkeolog aktif dan jaringan museum yang rapat. China, di sisi lain, terus menggelontorkan dana besar untuk ekskavasi dan restorasi—sebagaimana terlihat dari penemuan 7.000 artefak di Situs Makam Xixia.
Meski belum masuk 10 besar, Indonesia memiliki modal berharga. Secara geografis, Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia—sebuah keunggulan komparatif untuk nominasi situs alam. Secara kultural, Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah dan tradisi yang belum banyak dieksplorasi untuk nominasi situs warisan tak benda (intangible cultural heritage).
Langkah pertama yang krusial adalah memastikan bahwa 10 situs yang sudah ada tidak jatuh ke status “Dalam Bahaya.” Langkah kedua adalah mengidentifikasi situs-situs potensial—baik budaya maupun alam—yang memenuhi kriteria UNESCO dan belum terwakili di panggung global.
Sementara itu, duel Italia dan China dipastikan akan terus berlanjut. Dengan selisih hanya satu situs, posisi puncak bisa bergeser dalam satu atau dua tahun ke depan. Bagi para pelancong dan pencinta sejarah, persaingan ini justru menguntungkan: semakin banyak situs yang diakui, semakin kaya pilihan destinasi yang bisa dijelajahi. Bagi Indonesia, daftar 10 besar masih jauh—tapi bukan berarti tak terjangkau.













