Ginjal Bisa Rusak Tanpa Gejala, Hindari 3 Kebiasaan Buruk Ini

Rajin berolahraga merupakan salah satu upaya menjaga kesehatan ginjal. (istock)

INDONESIAONLINE – Kerusakan ginjal sering berkembang tanpa menimbulkan tanda-tanda yang jelas. Padahal, sejumlah kebiasaan yang dianggap sepele dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD).

Ginjal merupakan organ vital yang berfungsi menyaring sekitar 180 liter darah setiap hari untuk membuang limbah dan racun dari dalam tubuh. Karena kerusakannya kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, penyakit ginjal kronis oleh National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) dijuluki sebagai silent killer.  Gejala seperti tubuh mudah lelah atau pembengkakan umumnya baru muncul ketika fungsi ginjal telah mengalami penurunan yang cukup berat.

Direktur sekaligus Kepala Institut Nefrologi Rumah Sakit RG India Dr Suman Sethi mengatakan banyak orang mengira penyakit ginjal hanya berkaitan dengan faktor usia. Padahal, berbagai kebiasaan sehari-hari dapat perlahan merusak fungsi organ tersebut tanpa disadari.

Salah satu kebiasaan yang perlu diwaspadai adalah terlalu sering mengonsumsi obat pereda nyeri, terutama obat antiinflamasi nonsteroid (non steroidal Amanti-inflammatory drugs atau NSAID) tanpa pengawasan tenaga medis. Menurut Dr Sethi, penggunaan obat tersebut dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi ginjal secara bertahap.

Selain itu, tekanan darah tinggi dan diabetes yang tidak terkontrol juga menjadi penyebab utama penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal. Sedangkan hipertensi memberikan tekanan berlebih pada sistem penyaringan ginjal sehingga mempercepat kerusakan organ tersebut.

Faktor lain yang turut meningkatkan risiko adalah pola makan yang tidak sehat. Misalnya terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi garam dan makanan ultraolahan. Kebiasaan kurang minum air putih, merokok, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, serta minim aktivitas fisik juga dapat membebani kerja ginjal dalam jangka panjang.

Dr Sethi mengingatkan bahwa banyak orang baru memeriksakan diri setelah merasakan gejala. Padahal, penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa keluhan yang berarti pada fase awal sehingga deteksi dini menjadi sangat penting.

Ia menegaskan pemeriksaan darah dan urine secara berkala merupakan cara terbaik untuk mengetahui kondisi ginjal, khususnya bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi atau diabetes. Menurut dia, menjaga kesehatan ginjal tidak memerlukan langkah yang rumit. Mengendalikan tekanan darah dan kadar gula darah, rutin berolahraga, menerapkan pola makan seimbang, menghindari konsumsi obat maupun suplemen yang tidak diperlukan, serta menjalani pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala dapat membantu menurunkan risiko terjadinya kerusakan ginjal. (ars/hel)