Jelang Muktamar NU, Dzurriyah KH Bisri Syansuri Ingatkan NU Tak Jadi Kendaraan Politik

Dzurriyah atau keturunan salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri, Lathifah Shohib (Wabup Malang) menyampaikan pesan agar NU tetap berpijak pada tujuan awal para pendirinya (jtn/io)

Dzurriyah pendiri NU Lathifah Shohib meminta NU kembali pada cita-cita muassis dan tidak dijadikan kendaraan politik jelang Muktamar NU ke-35.

INDONESIAONLINE – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, dinamika internal organisasi keagamaan terbesar di Indonesia semakin menghangat. Selain pembahasan agenda strategis hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026, perhatian juga tertuju pada arah kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Di tengah proses tersebut, dzurriyah atau keturunan salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri, Lathifah Shohib, menyampaikan pesan agar NU tetap berpijak pada tujuan awal para pendirinya. Ia mengingatkan seluruh elemen organisasi agar tidak menjadikan NU sebagai alat untuk kepentingan politik praktis maupun keuntungan kelompok tertentu.

Pernyataan itu disampaikan Lathifah setelah rangkaian Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang berlangsung pada 20-22 Juni 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, kemudian ditutup pada 23 Juni 2026 di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan. Penutupan kegiatan tersebut turut dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto.

Menurut Lathifah, momentum menuju Muktamar NU menjadi saat yang tepat untuk mengembalikan orientasi organisasi kepada nilai-nilai yang telah diwariskan para muassis atau pendiri NU.

NU Diminta Fokus pada Keagamaan dan Keummatan

Lathifah menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki peran besar dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Karena itu, organisasi tersebut semestinya tetap menjaga independensi serta tidak terseret dalam kepentingan politik praktis.

“Kalau saya berharap, NU itu harus kembali ke cita-cita muassis NU. Ya harus dikembalikan ke sana dan jangan menjadi kendaraan politik. Jadi, untuk politik biar diurusi partai politik, NU urusan keagamaan dan keummatan,” tegas Lathifah.

Perempuan yang kini menjabat sebagai Wakil Bupati Malang itu menilai hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU telah menghasilkan sejumlah keputusan penting sebagai bekal menuju Muktamar NU ke-35.

Beberapa agenda strategis yang disepakati meliputi pengesahan peraturan perkumpulan mengenai pengelolaan aset tambang, pembahasan program Makan Bergizi Gratis (MBG), usulan perubahan mekanisme pemilihan Ketua Tanfidziyah PBNU, hingga penjadwalan Muktamar NU ke-35 yang direncanakan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026.

Menurutnya, berbagai keputusan tersebut menunjukkan bahwa NU tengah menghadapi fase penting dalam menentukan arah organisasi untuk beberapa tahun ke depan.

Lokasi Muktamar Masih Menjadi Pembahasan

Di antara berbagai keputusan yang dihasilkan, Lathifah menilai masih terdapat satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan panitia pelaksana, yakni kepastian lokasi penyelenggaraan Muktamar NU ke-35.

Dalam forum Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, Pondok Pesantren Lirboyo sempat diumumkan sebagai lokasi pelaksanaan muktamar. Namun, keputusan tersebut belum bersifat final setelah adanya perkembangan dalam forum.

“Tinggal sekarang yang menjadi PR-nya panitia adalah terkait penetapan lokasi muktamar. Yang sudah siap memang Pondok Pesantren Lirboyo. Tetapi kemarin sudah disepakati di Pondok Pesantren Lirboyo, tetapi Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menganulir. Sementara belum ditentukan tempatnya saja. Mudah-mudahan tidak bermasalah dengan tempatnya,” jelas Lathifah.

Kepastian lokasi muktamar dinilai penting karena menjadi bagian dari kesiapan teknis penyelenggaraan forum tertinggi organisasi yang akan dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah.

Selain persoalan lokasi, perhatian publik juga mengarah pada munculnya sejumlah nama yang diperkirakan akan meramaikan bursa calon Ketua Umum PBNU.

Beberapa tokoh yang disebut masuk dalam radar pencalonan antara lain KH Yahya Cholil Staquf, Prof KH Nasaruddin Umar, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, KH Yusuf Chudlori, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, serta Gus Hery Haryanto Azumi.

Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, yang juga merupakan adik kandung Lathifah Shohib.

Menanggapi peluang adiknya maju sebagai kandidat Ketua Umum PBNU, Lathifah menilai langkah tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi organisasi sekaligus keinginan untuk mengembalikan NU pada cita-cita para pendirinya.

“Kalau tentang adik saya yang nyalon, ya karena dia adalah cucunya Mbah Bisri ya. Melihat kondisi NU yang menurut pandangan banyak orang seperti ini kan juga prihatin. Maka niatnya memang untuk mengembalikan NU ke rel seperti yang dicita-citakan oleh para muassis NU,” pungkas Lathifah.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa menjelang Muktamar NU ke-35, pembahasan mengenai arah kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan pergantian figur, tetapi juga menyangkut harapan agar organisasi tetap menjaga khittahnya sebagai wadah keagamaan dan pengabdian kepada umat.

Di tengah menguatnya dinamika internal, berbagai pandangan yang muncul menjadi bagian dari proses menuju forum tertinggi NU yang akan menentukan arah organisasi pada masa mendatang (to/dnv).