Kisah heroik Moan Teka Iku, jenderal buta huruf dari Flores yang mengguncang Belanda karena pajak kelapa, namun diabaikan sebagai Pahlawan Nasional.
INDONESIAONLINE – Sejarah perlawanan anti-kolonialisme di Nusantara sering kali didominasi oleh kisah kaum bangsawan, kaum terpelajar, atau tokoh agama. Namun, dari rahim tanah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), lahir sebuah anomali sejarah yang memukau: Moan Teka Iku.
Ia bukan raja, tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah Portugis maupun Belanda, buta huruf, dan tidak memeluk agama samawi pada masanya. Namun, pria berperawakan pendek, kekar, berkulit gelap, dan selalu berbalut sarung hitam serta parang ini berhasil membuat militer Hindia Belanda kelimpungan.
Oleh penjajah, ia dijuluki “Jenderal Teka“. Sebuah gelar kehormatan militer yang disematkan musuh kepada seorang pejuang desa yang memimpin pemberontakan terbesar di Sikka pada awal abad ke-20. Ironisnya, hingga pergantian rezim dari masa ke masa, nama Jenderal Teka masih tenggelam di laci birokrasi, menanti pengakuan sebagai Pahlawan Nasional.

Petaka Pajak Kelapa dan Kemarahan Sang Kapitan
Kisah ini bermula di Desa Hubin-Wolomude, Kabupaten Sikka, pada era 1800-an. Lahir dari pasangan Dua (Ibu) Kotin dan Moan (Bapak) Mitan, seorang kepala kampung dan tana puan (tuan tanah), Moan Teka Iku tumbuh melihat ketidakadilan. Meski diangkat menjadi “Kapitan” (pejabat militer hierarki kerajaan lokal), nuraninya berontak.
Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda, setelah mengambil alih kekuasaan dari Portugis di Sunda Kecil, memberlakukan kebijakan yang mencekik leher rakyat miskin: Pajak 4 Buah Kelapa per Pohon di setiap musim panen. Kebijakan ini tidak hanya diawasi oleh serdadu kulit putih, tetapi juga dieksekusi oleh raja-raja lokal Sikka, Nita, dan Kangae yang menjadi perpanjangan tangan Belanda.
Bagi Moan Teka, penindasan oleh sesama pribumi sama hinanya dengan penjajahan asing. Ia menolak undangan raja untuk berdamai. Di depan para loyalisnya, Teka mengobarkan sumpah revolusioner yang mengerikan bagi musuh: “Daging Hitam saya sudah makan, saya mau makan lagi daging putih.”
Pernyataan metaforis ini bermakna: setelah ia menumpas antek-antek pribumi pengkhianat bangsa (daging hitam), target utamanya adalah menghancurkan tentara kolonial Belanda (daging putih).
Kecerdasan Militer Tanpa Buku Teks
Fakta sejarah yang membuat takjub para peneliti adalah bagaimana seorang buta huruf mampu membangun infrastruktur gerilya yang masif.
Moan Teka Iku menunggang kuda dari desa ke desa, memprovokasi rakyat untuk memboikot pajak kelapa. Ia menempatkan orang-orang kepercayaannya di setiap distrik. Strategi konsolidasinya sangat sosiologis: ia menikahi beberapa perempuan dari berbagai wilayah, sehingga ikatan kawin-mawin menciptakan jaringan intelijen dan logistik berbasis kekeluargaan yang mustahil ditembus Belanda.
Puncaknya, ia membumihanguskan kampung-kampung basis pendukung pajak kelapa—seperti Nita, Koting, dan Beru.
Dalam hal taktik tempur, Jenderal Teka membuktikan bahwa pengalaman menyatu dengan alam (Lamen Tawa Tana – pemuda yang lahir dari bumi) lebih mematikan daripada teori militer Eropa.
Untuk menahan gempuran meriam Belanda, ia dan pasukannya membangun benteng beton berlapis bambu yang diisi air. Taktik bambu air ini terbukti mampu meredam energi kinetik peluru dan meriam. Markas-markas pertahanannya tersebar di dataran tinggi Hubin-Wolomude, Baluele, hingga lereng Gunung Iligai.
Perang Kompeni 1904: Belanda Turunkan Armada Perang
Kesombongan Belanda di Flores runtuh pada Mei 1904. Pecah Perang Kompeni I. Serdadu kolonial dibantu laskar raja-raja lokal menyerbu benteng Jenderal Teka. Hasilnya? Pasukan Belanda kalah akibat medan pegunungan yang sulit dan jebakan parit mematikan buatan laskar akar rumput. Jenderal Teka lolos.
Panik melihat skala pemberontakan, Belanda menyadari Moan Teka bukan sekadar bandit, melainkan ancaman eksistensial. Pada Juni 1904, meletuslah Perang Kompeni II—perang terbesar dalam sejarah Flores.
Untuk menghadapi satu orang buta huruf, Belanda harus mendatangkan 11 kapal perang dari Makassar, bantuan pasukan Bugis, Residen Timor, hingga Residen Flores Timur. Ribuan peluru meriam berhulu ledak tinggi menghujani benteng Hubin-Wolomude.
Korban jiwa berjatuhan di kedua belah pihak. Secara perlengkapan, laskar Teka kalah, namun secara fisik, Belanda gagal menangkap Jenderal Teka hidup atau mati. Ia lenyap ke dalam hutan.
Karena frustrasi tidak bisa memenangkan pertempuran secara ksatria, Belanda meniru taktik licik yang pernah mereka gunakan kepada Pangeran Diponegoro pada 1830.
Belanda memanfaatkan orang dekat Teka, Moan Pitang, dalam sebuah acara pernikahan. Jenderal Teka, yang memiliki keluguan dan kejujuran seorang pahlawan, bersedia memenuhi undangan perundingan damai di atas kapal perang Belanda yang bersandar di Teluk Maumere.
Nahas, negosiasi itu adalah jebakan. Begitu menginjakkan kaki di dek kapal, tubuh kokohnya dipasung dan dirantai.
Meskipun ditangkap dan didenda pampasan perang sebesar 3.000 gulden, nama Jenderal Teka tetap memenangkan aspirasi rakyatnya. Takut akan pemberontakan susulan, Belanda terpaksa menurunkan beban pajak kelapa yang selama ini mencekik rakyat Sikka.
Moan Teka Iku kemudian dibuang ke bui di Makassar (Sulawesi Selatan), sebelum akhirnya diasingkan ke Sawahlunto, Sumatera Barat, hingga menghembuskan napas terakhirnya di sana. Sama seperti Tan Malaka, makam dan tulang belulang pahlawan kemanusiaan ini tak pernah teridentifikasi secara pasti hingga kini.
Hari ini, yang tersisa dari Sang Jenderal hanyalah sebuah patung gagah di pintu masuk Kota Maumere. Pertanyaan besarnya: Mengapa tokoh dengan impact sehebat ini belum bergelar Pahlawan Nasional?
Sejak tahun 2005, melalui Yayasan Moan Teka Iku yang dipelopori Paulus J. Gesing (keturunan langsung Teka), upaya pengangkatan gelar telah dilakukan. Seminar besar digelar, dan buku seperti Perang Rakyat Flores Moan Teka Iku 1900-1904 telah diterbitkan oleh Dinas Sosial Kabupaten Sikka. Dokumen persyaratan telah lengkap.
Namun, berkas tersebut seakan membeku dalam birokrasi pemerintahan Provinsi NTT. Dari era Gubernur Piet A. Tallo, Frans Lebu Raya, Viktor Laiskodat, hingga kini, nama Moan Teka Iku tak kunjung masuk radar utama Kementerian Sosial di era pemerintahan pusat terbaru.
Di saat banyak tokoh pasca-kemerdekaan dengan mudah dinobatkan sebagai pahlawan berkat lobi politik masa kini, pahlawan otentik yang berdarah-darah di garis depan seperti Moan Teka Iku, Marilonga (Ende), dan Sonbay (Timor) sering kali dianaktirikan.
Sudah saatnya negara melihat sejarah tidak hanya dari kacamata elite berpendidikan. Moan Teka Iku membuktikan bahwa untuk mencintai Nusantara dan membela rakyat dari penindasan, seseorang tidak butuh ijazah. Negara memiliki utang sejarah untuk menjemput kehormatan “Jenderal Buta Huruf” ini dari pengasingannya yang sunyi di Sawahlunto, dan menempatkannya di tempat paling terhormat dalam etalase sejarah bangsa.
Sumber:
- Gesing, Paulus J. (2005). Perang Rakyat Flores Moan Teka Iku 1900-1904. Penerbitan Dinas Sosial Kabupaten Sikka.
- Arsip Sejarah Kolonial Belanda (Nationaal Archief). Laporan militer Hindia Belanda terkait Pacification of Flores (1904) dan penggunaan armada laut Makassar.
- Dokumen Pemkab Sikka. Rekomendasi Pengajuan Gelar Pahlawan Nasional Moan Teka Iku.













