Beranda

Keberadaan Macan Tutul Jawa di Bromo-Semeru Jadi Sinyal Kelestarian Alam

Keberadaan Macan Tutul Jawa di Bromo-Semeru Jadi Sinyal Kelestarian Alam
Dua macan tutul Jawa yang terekam kamera jebak di kawasan Bromo Tengger Semeru. (tnbts)

INDONESIAONLINE – Terekamnya keberadaan macan tutul di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi sinyal positif bagi kelestarian satwa liar di Pulau Jawa. Satwa langka ini kembali mencuri perhatian publik setelah dua macan tutul tertangkap kamera pemantau pada akhir 2024 lalu.

Dua  macan tutul itu tertangkap kamera jebak (camera trap) yang dipasang di sejumlah titik di kawasan TNBTS pada Desember 2024. Temuan ini memunculkan kembali pertanyaan di kalangan masyarakat: apakah macan tutul yang hidup di Bromo merupakan macan kumbang?

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menjelaskan bahwa satwa yang hidup di kawasan Bromo merupakan macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), spesies endemik Pulau Jawa yang kini berstatus terancam punah.

Macan tutul Jawa memiliki dua variasi warna, yakni tipe terang dan tipe gelap. Perbedaannya terletak pada warna bulu. Macan tutul Jawa terang memiliki bulu berwarna kecokelatan hingga jingga dengan corak tutul hitam yang jelas. Sementara, macan tutul Jawa gelap memiliki bulu berwarna hitam pekat akibat mutasi genetik.

Macan tutul berwarna gelap inilah yang kerap disebut sebagai macan kumbang. Meski tampak hitam, pola tutul khas macan tutul tetap ada dan dapat terlihat samar ketika terkena cahaya tertentu.

Di kawasan TNBTS, macan tutul Jawa menghuni hutan pegunungan, lereng terjal, serta wilayah yang relatif jauh dari aktivitas manusia. Sifatnya yang pemalu, hidup menyendiri, dan aktif pada malam hari membuat satwa ini sangat jarang terlihat secara langsung.

Berikut sejumlah fakta menarik tentang macan tutul Jawa penghuni kawasan Bromo:

Satwa Endemik Pulau Jawa

Mengacu pada Cat Specialist Group, macan tutul Jawa merupakan satu-satunya subspesies macan tutul yang hidup alami di Pulau Jawa serta beberapa pulau kecil di sekitarnya, seperti Nusakambangan, Kangean, dan Sempu. Keberadaannya yang terbatas menjadikan satwa ini sangat unik sekaligus rentan.

Populasi macan tutul Jawa saat ini terus menurun dan telah masuk dalam daftar merah IUCN dengan status terancam punah. Total populasinya diperkirakan hanya sekitar 324 ekor, dengan 24 di antaranya pernah terekam kamera di kawasan TNBTS sepanjang 2024.

Dalam penilaian status hijau IUCN Spesies, macan tutul Jawa berada pada kategori kritis depleted dengan tingkat pemulihan populasi hanya sekitar 20 persen. Kondisi ini menunjukkan ancaman serius terhadap kelangsungan hidup spesies tersebut.

Berbagai upaya konservasi terus dilakukan, mulai dari pemantauan populasi, mitigasi konflik dengan manusia, hingga penguatan kebijakan perlindungan satwa liar. Sejak 2018, pemerintah juga telah menetapkan lima lanskap prioritas konservasi macan tutul Jawa, termasuk TNBTS.

Predator Puncak Ekosistem

Mengutip Universitas Gadjah Mada, macan tutul Jawa merupakan karnivora yang menempati posisi puncak rantai makanan di Pulau Jawa, terutama setelah punahnya harimau Jawa. Perannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Keberadaan macan tutul sering dijadikan indikator kesehatan lingkungan, karena satwa ini hanya dapat bertahan di habitat dengan rantai makanan yang stabil dan kualitas ekosistem yang baik.

Mampu Beradaptasi di Beragam Habitat

Macan tutul Jawa dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Selain hutan tropis dan pegunungan, satwa ini juga pernah tercatat hidup di hutan pinus, hutan jati, perkebunan campuran, hingga kawasan pesisir dan mangrove. Bahkan, macan tutul Jawa mampu bertahan di ketinggian hingga 2.540 meter di atas permukaan laut.

Hidup Soliter dan Menjaga Wilayah

Dalam kehidupan alaminya, macan tutul Jawa hidup menyendiri dan memiliki wilayah teritorial yang jelas. Untuk menandai kekuasaannya, satwa ini menggunakan bau urine atau cairan dari kelenjar khusus guna menghindari pertemuan dengan individu lain.

Aktif di Malam Hari

Macan tutul Jawa dikenal juga sebagai hewan nokturnal, yaitu hewan yang melakukan aktivitas saat senja atau malam. Pada jam-jam ini, kondisi lingkungan lebih tenang dan peluang berburu mangsa menjadi lebih besar. Hal inilah yang menyebabkan macan tutul Jawa jarang ditemui di siang hari.

Ahli Memanjat Pohon

Kemampuan memanjat menjadi salah satu keunggulan macan tutul Jawa. Satwa ini kerap membawa hasil buruannya ke atas pohon untuk menghindari gangguan hewan lain serta menyimpan makanan dengan aman.

Tidak Menyukai Air

Berbeda dengan sebagian satwa liar lainnya, macan tutul Jawa cenderung menghindari air. Hewan ini jarang berburu di sekitar sumber air dan tidak menyukai bulunya basah.

Untuk membersihkan tubuh, macan tutul lebih sering berguling di tanah guna menghilangkan kotoran yang menempel. (rds/hel)

 

Exit mobile version