Video Ai Juariah di Libya viral dengan wajah berdarah. Kemlu RI mendalami luka yang dibantah majikan dan CCTV. Proses pemulangan tertunda.
INDONESIAONLINE – Bibir sumbing dan wajah berlumuran darah. Itulah pemandangan yang menyayat hati dari sebuah video pendek yang beredar di media sosial Instagram pada Jumat (26/6/2026). Seorang tenaga kerja wanita (TKW) yang diidentifikasi sebagai Ai Juariah (AJ) terekam dengan jelas memohon agar dipulangkan ke Indonesia.
Video tersebut tidak sekadar viral, tetapi memicu keresahan nasional mengenai keselamatan pekerja migran Indonesia (PMI) di tengah wilayah konflik seperti Libya.
Namun, di balik derasnya empati publik, muncul sebuah narasi yang kontradiktif. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tripoli kini sedang terjebak dalam pusaran investigasi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di balik luka-luka yang dialami AJ.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (28/6), mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan penelusuran mendalam. AJ diketahui telah berada di Benghazi, Libya Timur, sejak Maret 2025. Namun, penjelasan mengenai asal-usul luka di wajahnya justru memunculkan tanda tanya besar.
Versi Korban vs Bukti Fisik
Ketika diwawancarai oleh pihak KBRI, AJ mengaku bahwa luka yang ia derita bermula dari insiden kecelakaan kerja. “Namun saat dikonfirmasi kepada majikan, pihaknya membantah kejadian tersebut dan berdasarkan bukti rekaman CCTV, tidak terlihat AJ terpeleset,” ujar Heni Hamidah, menyoroti adanya perbedaan keterangan yang signifikan antara korban dan pihak majikan.
Kontradiksi ini menjadi kunci utama dalam penyelidikan. Jika CCTV tidak menangkap adanya insiden terpeleset, maka publik dihadapkan pada dua kemungkinan besar: apakah ada kekerasan yang sengaja ditutupi, ataukah ada faktor lain yang belum terungkap.
“KBRI Tripoli masih terus melakukan pendalaman untuk mendapatkan gambaran utuh kronologi kejadian,” lanjut Heni.
Meski demikian, Kemlu memastikan bahwa keselamatan AJ saat ini adalah prioritas utama. Pihak KBRI telah mengunjungi AJ dan memastikan kondisinya telah stabil.
“KBRI Tripoli juga memastikan saat ini kondisi AJ dalam keadaan aman, sehat, dan tidak mengalami cedera atau luka,” tegas Heni.
Pernyataan ini seolah meredakan kekhawatiran akan adanya ancaman fisik lanjutan terhadap AJ, meski proses hukum terkait penyebab luka tersebut masih menggantung.
Bayang-bayang Jalur Nonprosedural
Kasus Ai Juariah bukan sekadar soal luka fisik, melainkan terbuka kembali rahasia duka para pekerja migran yang berangkat melalui jalur ilegal. Heni menegaskan bahwa AJ diberangkatkan oleh sponsor secara nonprosedural. Hal ini membuat proses pemulangannya kini terhambat oleh urusan administratif yang rumit.
“KBRI tengah meminta pertanggungjawaban dari pihak sponsor yang memberangkatkan AJ secara nonprosedural,” kata Heni.
Saat ini, proses pemulangan AJ ke tanah air masih menunggu penyelesaian persoalan keimigrasian serta pembayaran denda atau ganti rugi kepada pihak agensi di Libya.
Ironisnya, kondisi ini seringkali menjebak para pekerja migran dalam posisi yang rentan. Ketika mereka berangkat tanpa dokumen resmi atau melalui jalur yang tidak diawasi, perlindungan hukum negara menjadi sangat terbatas. Mereka seringkali harus berhadapan dengan sponsor dan majikan yang memiliki kuasa penuh atas dokumen perjalanan mereka.
Kemlu RI pun kembali menegaskan imbauan yang seringkali diabaikan masyarakat. “Kemlu kembali mengimbau masyarakat agar tidak bekerja ke luar negeri melalui jalur nonprosedural karena berisiko tinggi terhadap keselamatan pekerja serta dapat menyulitkan proses pelindungan apabila terjadi permasalahan di negara penempatan,” tutup Heni.
Kasus AJ menjadi pengingat pahit bahwa di balik tawaran gaji tinggi di luar negeri, ada risiko nyawa dan kebebasan yang seringkali dipertaruhkan secara sia-sia. Sementara penyelidikan terus berjalan, publik berharap agar kebenaran di balik darah yang mengering di wajah Ai Juariah segera terungkap, dan ia bisa segera menginjakkan kaki di kampung halaman tanpa beban lagi.













