200 becak listrik pribadi Presiden Prabowo ganti wajah transportasi Malang. Solusi humanis bagi lansia dan ekonomi hijau tanpa beban APBN.
INDONESIAONLINE – Di pelataran Pendapa Kabupaten Malang, Jalan Panji, Kecamatan Kepanjen, Selasa (20/1/2026), suasana berbeda terasa kental. Ratusan lelaki paruh baya hingga lanjut usia (lansia) berkumpul dengan wajah penuh harap. Kulit mereka yang legam terbakar matahari menjadi saksi bisu puluhan tahun mengayuh pedal demi rupiah. Namun, hari itu menandai akhir dari era “otot dan keringat” bagi mereka, digantikan oleh era baru: elektrifikasi yang memanusiakan.
Kabupaten Malang menjadi titik strategis penyaluran bantuan 200 unit becak listrik yang diinisiasi langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN). Langkah ini bukan sekadar seremonial pembagian alat transportasi, melainkan sebuah intervensi sosial yang menargetkan kelompok pekerja informal paling rentan: pengayuh becak lansia.
Humanisasi Profesi di Usia Senja
Ketua Yayasan GSN, Letjen TNI (Purn) Teguh Arief Indratmoko, menegaskan bahwa bantuan ini memiliki skala prioritas yang ketat. Target utamanya adalah mereka yang berusia senja.
“Sekarang yang diberikan adalah 200 becak listrik. Insya Allah tahapannya adalah mereka-mereka yang sudah sepuh dulu. Mulai usia 70 tahun ke atas, nanti turun lagi 60 tahun, 50 tahun dan seterusnya,” ungkap Teguh.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren fenomena aging workforce di sektor informal. Banyak lansia di Indonesia terpaksa tetap bekerja karena ketiadaan jaminan pensiun yang memadai. Dalam konteks ini, becak listrik bukan sekadar alat, melainkan “penyambung napas” ekonomi.
Secara teknis, mengayuh becak konvensional membutuhkan kalori dan kekuatan fisik yang tak lagi dimiliki pria 70 tahun ke atas secara optimal. Dengan beralih ke tenaga listrik, beban fisik tersebut dipangkas drastis. Ini adalah bentuk humanisasi profesi; membiarkan teknologi bekerja agar manusia di usia senja tidak perlu memeras keringat berlebih demi bertahan hidup.
Filantropi Pribadi, Bukan Beban Negara
Satu poin krusial yang digarisbawahi dalam program ini adalah sumber pendanaan. Di tengah sorotan publik terhadap penggunaan anggaran negara, Teguh memberikan klarifikasi tegas bahwa inisiatif ini murni filantropi pemimpin, bukan program negara yang membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Ini murni dari kantong pribadi Pak Presiden Prabowo Subianto. Tidak ada bantuan dari mana-mana, murni dari kantong pribadi dan bukan dari APBN,” tegas Teguh.
Pernyataan ini memberikan dimensi kepemimpinan yang personal. Presiden Prabowo memposisikan diri sebagai patron yang peduli secara langsung person-to-person tanpa birokrasi anggaran negara yang rumit.
Hal ini memperkuat ikatan emosional antara pemimpin dan rakyat kecil (wong cilik), sebuah strategi komunikasi politik yang efektif sekaligus menyentuh aspek kemanusiaan.
Spesifikasi Teknis: Perpaduan Tradisi dan Modernitas
Berdasarkan pantauan di lapangan, becak listrik ini tidak menghilangkan identitas kultural becak Indonesia. Bentuk fisik roda tiga dengan posisi penumpang di depan tetap dipertahankan. Namun, “jantung” kendaraan ini telah berevolusi.
Tidak ada lagi rantai yang berat. Bagian kemudi kini dilengkapi speedometer digital, indikator baterai, handle gas, dan rem tangan layaknya sepeda motor matic. Fitur modern seperti port charger USB disematkan di bawah kemudi, memungkinkan pengemudi mengisi daya ponsel sembari menunggu penumpang—sebuah detail kecil yang sangat relevan di era digital.
Mesin listrik dan baterai diletakkan rapi di bawah kursi penumpang, memberikan pusat gravitasi yang stabil. Sementara atap pelindung tetap ada untuk menghalau panas dan hujan. Sentuhan personal terlihat dari stiker bergambar Presiden Prabowo dan bel besi klasik yang tetap dipertahankan sebagai ciri khas suara jalanan nusantara.
Dampak Ekonomi Hijau di Akar Rumput
Program ini juga menyiratkan pesan transisi energi yang inklusif. Biasanya, kendaraan listrik (EV) identik dengan masyarakat kelas menengah ke atas. Dengan memberikan EV kepada pengayuh becak, Presiden Prabowo mendemokratisasi teknologi hijau.
Penggunaan listrik jauh lebih efisien dibandingkan biaya makan ekstra untuk tenaga mengayuh atau bahan bakar minyak jika mereka menggunakan becak motor (bentor). Dengan biaya operasional yang lebih rendah (pengisian daya listrik yang murah), pendapatan bersih para pengayuh becak diprediksi akan meningkat. Ini adalah stimulus ekonomi mikro yang nyata bagi ratusan keluarga di Kabupaten Malang.
Acara yang dihadiri Bupati Malang HM. Sanusi dan jajaran Forkopimda ini menjadi simbol sinergi antara pemerintah daerah dan pusat dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem melalui pemberdayaan aset.
Bantuan ini dijanjikan berkelanjutan hingga mencakup seluruh populasi penarik becak. Jika terealisasi penuh, Indonesia mungkin akan melihat transformasi wajah transportasi tradisionalnya: dari simbol kerja keras fisik menjadi simbol efisiensi energi yang bermartabat. Bagi 200 lansia di Malang hari ini, masa depan itu sudah tiba, berkat sebuah kepedulian yang dikirim langsung dari istana, tanpa memotong uang rakyat (al/dnv).
