INDONESIAONLINE – Jauh sebelum masa Nabi Muhammad SAW ibadah haji sudah dijalankan. Sejarah haji tercatat dalam berbagai kitab dan buku. Pertanyaannya, siapa sosok yang pertama kali melaksanakan haji?

Menukil buku Menuju Umrah dan Haji Mabrur karya Syaiful Alim, pendapat mengenai sejarah pelaksanaan haji dapat dirujuk dari kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau-i al-Mashadir al-Ashliyah karya Mahdi Rizqullah Ahmad, Akhbar Makkah wa Ma Ja’ala min al-Atsar karya Muhammad bin Abdullah al-Azraqi, dan Tarikh Makkah al-Mukarramah Qadiman wa Haditsan karya Muhammad Ilyas Abdul Ghani.

Sejarah haji dimulai saat para malaikat menggugat kehendak Allah SWT dalam menciptakan manusia. Dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah, Allah SWT berfirman, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’

Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.

Setelah itu, para malaikat pun menyadari akan apa yang mereka lakukan merupakan hal yang salah. Mereka kemudian memohon ampunan Allah SWT dengan mengelilingi Arsy (tawaf) seraya menangis.

Allah SWT atas kuasanya kemudian membuat miniatur Arsy bernama Baitul Makmur (Ka’bah) dan digunakan para malaikat melanjutkan tawaf.

Baca Juga  Kisah Orang yang Terakhir Masuk Surga dan Terakhir Keluar Neraka

Syekh Khatib asy-Syarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj juga dijelaskan, bahwa sebuah riwayat menjelaskan Nabi Adam melakukan perjalanan dari daratan India untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah.

Ketika tiba, Malaikat Jibril mendatanginya. Kemudian malaikat Jibril mengatakan kepada Adam, bahwa para malaikat telah melakukan tawaf di Baitullah selama tujuh ribu tahun.

Menurut riwayat dari Ibnu Abbas RA, Nabi Adam AS juga melakukan tawaf. Kemudian ada malaikat mendatangi Adam malaikat itu kemudian berkata,

“Semoga hajimu mabrur, wahai Adam. Sesungguhnya kami telah melaksanakan ibadah haji di Baitullah ini sejak 2.000 tahun sebelum kamu.”

Kemudian Nabi Adam bertanya kepada malaikat, tentang apa yang dibacanya saat tawaf, “Pada zaman dahulu, apa yang kalian baca ketika tawaf?”

Malaikat kemudian menjawab, “Dahulu, kami mengucapkan Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.”

Kemudian, manusia di bumi pertama ini berkata, “Tambahkanlah dengan ucapan walaa hawla walaa quwwata illa billah”. Malaikat kemudian mengikuti saran dari Nabi Adam dengan mengamalkan bacaan itu.

Di masa Nabi Nuh, terjadi banjir besar. Ka’bah saat itu diangkat oleh Allah SWT ke langit. Hal ini dengan tujuan agar Ka’bah tidak tercemari oleh dosa-dosa para penduduk bumi.

Baca Juga  Sanksi Jemaah Haji Koboi: Denda Rp 42,8 Juta dan Deportasi

Kemudian, Nabi Ibrahim menelusuri dan membangun kembali Ka’bah. Diriwayatkan Qatadah sebagaimana dinukil al-Umari, pondasi Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim masih menggunakan pondasi bangunan yang lama.

Setelah selesai dibangunnya Kakbah, Nabi Ibrahim kemudian mendapatkan perintah dari Allah SWT tentang ibadah haji. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Tarikh Ka’bah karya Ali Husni al-Kharbuthli yang diterjemahkan Fuad Ibn Rusyd.

Al-Qur’an Surat Al Hajj ayat 27, Allah SWT berfirman, “(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

Mendapatkan perintah Allah SWT, Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Nabi Ibrahim kemudian berkata, “Wahai Tuhanku, suaraku tidak mampu memanggil hingga jauh.” Allah SWT kemudian menjawab, “Serulah! Aku yang akan menyampaikan.”

Nabi Ibrahim AS pun berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atas kamu haji ke Baitullah”. Sampai akhirnya, seluruh mahluk di bumi mendengar seruan dari Nabi Ibrahim (as/dnv).