INDONESIAONLINE – Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar melalui Tim Bestari Semesta terus memperkuat pemberdayaan peternak berbasis inovasi teknologi tepat guna. Kali ini, tim mengembangkan sistem bank pakan dengan memanfaatkan hijauan, jerami padi, dan limbah ternak untuk mendukung kemandirian peternak ruminansia di Desa Tegalrejo, Kabupaten Blitar.
Inovasi tersebut diwujudkan melalui praktik langsung program Circular Farming Living Lab pada Minggu (11/10/2026). Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari tahap sosialisasi dan pengenalan teknologi yang sebelumnya dilaksanakan pada 26 Agustus 2026.
Melalui pendekatan learning by doing, peternak tidak sekadar menerima penyuluhan, tetapi terlibat langsung dalam pengolahan bahan pakan, pembuatan silase, pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik cair, hingga pengelolaan cadangan pakan menghadapi musim kemarau.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi atas persoalan tingginya biaya pakan dan ketergantungan peternak terhadap ketersediaan hijauan musiman.

Kegiatan diawali dengan demonstrasi pencacahan hijauan menggunakan mesin pencacah bermesin bensin. Hijauan segar dipotong menjadi ukuran kecil dan seragam untuk mempermudah pengolahan sekaligus meningkatkan efisiensi waktu kerja.
Hasil cacahan kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik transparan, dipadatkan, dan ditutup rapat untuk menjalani proses fermentasi menjadi silase. Teknologi silase portabel ini memungkinkan peternak skala kecil menyimpan cadangan pakan tanpa harus membangun silo permanen.
Ketua Tim Bestari Semesta Unisba Blitar, Alfan Setya Winurdana, menjelaskan bahwa pemanfaatan bahan lokal menjadi fondasi pengembangan sistem pakan mandiri.
“Praktik hari ini membuktikan bahwa kebutuhan pakan circular bisa dipenuhi dari bahan di sekitar peternak dengan teknologi sederhana dan alat tepat guna. Silase portabel, misalnya, adalah solusi cerdas untuk peternak kecil yang tidak punya silo permanen,” ujar Alfan.
Selain hijauan, peternak mempraktikkan pengumpulan jerami padi sebagai bahan pakan berserat. Jerami tersebut dapat diolah atau dikombinasikan dengan bahan lain untuk meningkatkan kualitas ransum.
Sementara itu, urine ternak difermentasi menggunakan bioaktivator menjadi pupuk organik cair (POC). Produk ini direncanakan untuk mendukung pemupukan lahan hijauan sehingga terbentuk siklus pertanian dan peternakan yang saling menopang.
Bank Pakan Jadi Solusi Menghadapi Musim Kemarau
Pengembangan bank pakan menjadi salah satu fokus utama kegiatan. Silase dan konsentrat disimpan dalam drum atau wadah tertutup sebagai persediaan ketika pasokan hijauan berkurang.

Peternak juga mempraktikkan pencampuran konsentrat dan total mixed ration (TMR) menggunakan mesin pencampur agar komposisi bahan lebih merata. “Bank pakan ini mengubah pola peternak dari mencari pakan harian menjadi mengelola persediaan. Kebutuhan pakan jadi lebih terencana,” kata Alfan.
Anggota Tim Bestari Semesta Unisba Blitar bidang ekonomi, Aris Sunandes, menilai sistem tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi usaha peternakan sekaligus memberikan nilai ekonomi pada limbah pertanian.
“Dari sisi ekonomi, rangkaian praktik ini berpotensi besar menekan biaya pakan. Jerami yang tadinya dibuang, urin yang tadinya limbah, sekarang punya nilai,” ujar Aris.
Menurut dia, pengelolaan cadangan pakan juga dapat membantu peternak menghadapi risiko kenaikan harga pakan saat musim kemarau. Namun, besaran penghematan masih perlu dihitung melalui evaluasi ekonomi.
“Tahap berikutnya kami akan menganalisis penghematan biaya pakan secara kuantitatif, sehingga dampak ekonominya bisa terukur,” katanya.
Unisba Blitar Siapkan Pendampingan dan Evaluasi Ekonomi
Anggota Tim Bestari Semesta Unisba Blitar bidang peternakan, Resty Yuliana, mengapresiasi keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh tahapan praktik. “Antusiasme peternak luar biasa. Mereka tidak hanya menonton, tapi langsung mempraktikkan pencacahan, pengemasan silase, dan pembuatan POC,” ujar Resty.

Menurut dia, keberhasilan program tidak cukup diukur dari kemampuan peternak mengikuti pelatihan. Konsistensi produksi dan mutu pakan juga menjadi perhatian dalam pendampingan berikutnya.
“Kami akan lanjutkan pendampingan dan uji kualitas produk, termasuk evaluasi konsistensi antar-peternak,” jelasnya.
Tim Bestari Semesta Unisba Blitar selanjutnya merencanakan pengujian kualitas silase, meliputi tingkat keasaman atau pH dan kandungan nutrien. Evaluasi ekonomi juga dilakukan untuk mengetahui potensi penghematan biaya produksi secara terukur.
Melalui program ini, Unisba Blitar berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi peternakan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan ekonomi pedesaan berbasis sumber daya lokal.
Kegiatan Circular Farming Living Lab didanai melalui hibah Semesta Bestari Saintek melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tim pelaksana turut menyampaikan terima kasih kepada DORP, Pemerintah Desa Tegalrejo, Indonesia Online, serta kelompok peternak yang telah berpartisipasi dan mendukung pelaksanaan program.
“Kami berharap inovasi bank pakan ini dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh peternak, sehingga mereka semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pakan, menekan biaya produksi, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar Ketua Tim Bestari Semesta Unisba Blitar, Alfan Setya Winurdana.
Pengembangan bank pakan tersebut diharapkan menjadi langkah berkelanjutan menuju sistem peternakan yang lebih mandiri, efisien, dan mampu menghadapi tantangan perubahan musim. (anr/hel)







