Tsunami Hantam Sejumlah Wilayah NTT dan Sulawesi

Ilustrasi tsunami (istock)

INDONESIAONLINE – Gelombang tsunami terpantau di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Selatan setelah gempa berkekuatan magnitudo (M) 7 mengguncang Nagekeo, NTT, Sabtu (15/8) pagi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah menerbitkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak gempa tersebut.

Berdasarkan pembaruan data BMKG, gelombang tsunami telah tercatat di sejumlah titik. Ketinggian gelombang yang terdeteksi bervariasi, mulai dari 0,14 meter hingga mencapai 0,94 meter.

Berikut sejumlah wilayah yang mencatat adanya gelombang tsunami:

Baubau: tsunami terdeteksi sekitar pukul 05.47 WIB dengan ketinggian 0,30 meter.

Bulukumba: tercatat sekitar pukul 05.58 WIB dengan ketinggian 0,54 meter.

Kawapante: terdeteksi sekitar pukul 05.16 WIB dengan ketinggian 0,38 meter.

Flores Timur: terpantau sekitar pukul 05.24 WIB dengan ketinggian 0,25 meter.

Maurole: tercatat sekitar pukul 05.27 WIB dengan ketinggian 0,94 meter.

Bakalang: terdeteksi sekitar pukul 05.41 WIB dengan ketinggian 0,14 meter.

Sikka: tercatat sekitar pukul 05.03 WIB dengan ketinggian 0,19 meter.

Labuan Bajo: terpantau sekitar pukul 05.26 WIB dengan ketinggian 0,36 meter.

Dompu: tercatat sekitar pukul 05.29 WIB dengan ketinggian 0,17 meter.

Sebelumnya, BMKG menyatakan terdapat delapan wilayah yang berstatus siaga dan memiliki potensi terdampak tsunami. Peringatan tersebut dikeluarkan setelah gempa M7 mengguncang wilayah Nagekeo, NTT.

Gempa tersebut dirasakan dengan intensitas berbeda di sejumlah daerah. Berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI), getaran mencapai IV-V di Ruteng, V di Kota Bima dan Kabupaten Dompu, IV-V di Ende, Labuan Bajo, serta Maumere, IV-V di Sumba Timur, IV di Kupang, dan IV di Kabupaten Sumbawa Barat.

Pada intensitas MMI IV, guncangan pada siang hari dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah. Beberapa benda seperti gerabah dapat pecah, sementara pintu dan jendela terdengar berderit.

Sementara itu, intensitas MMI V membuat getaran dirasakan oleh hampir seluruh penduduk. Guncangan pada tingkat tersebut juga dapat menyebabkan banyak orang terbangun dan benda-benda di dalam rumah berjatuhan.

Selain itu, gempa dirasakan dengan intensitas MMI III-IV di Flores Timur, Lembata, dan Adonara. Getaran dengan skala MMI III tercatat di Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram, serta Kabupaten Lombok Timur.

Gempa juga dirasakan dengan intensitas II-III di Denpasar, Badung, Bulukumba, Jeneponto, Takalar, Gowa, dan Makassar.

Pada skala MMI III, getaran terasa cukup nyata di dalam rumah dan dapat dirasakan seperti adanya truk yang sedang melintas.

Adapun pada skala MMI II, guncangan hanya dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung dapat terlihat bergoyang.

BMKG terus melakukan pemutakhiran informasi terkait gempa dan potensi tsunami yang terjadi setelah gempa M7 di Nagekeo tersebut. (rds/hel)