Jejak Cengkih Sangihe dalam Catatan Spanyol Abad ke-16

Catatan Spanyol abad ke-16 menyebut Sangihe sebagai wilayah penghasil cengkih (Ist)

Catatan Spanyol abad ke-16 menyebut Sangihe sebagai wilayah penghasil cengkih. Jejak sejarah itu masih terlihat dalam perkebunan Sangihe kini.

INDONESIAONLINE –  Ketika sejarah cengkih Nusantara disebut, perhatian biasanya segera mengarah ke Ternate, Tidore, Makian, Moti, dan Bacan. Lima pulau di Maluku Utara memang menjadi pusat penting perdagangan rempah yang kemudian menarik perhatian bangsa-bangsa Eropa.

Namun, jauh di utara Maluku terdapat kepulauan yang ikut masuk dalam catatan awal mengenai tanaman bernilai tinggi tersebut: Sangihe.

Keterangan tentang cengkih Sangihe muncul dalam laporan perjalanan Francisco de Dueñas, utusan Gubernur Filipina Gonzalo Ronquillo de Peñalosa. Pada akhir abad ke-16, kawasan ini berada di jalur pelayaran yang menghubungkan Filipina selatan dengan Maluku.

Catatan tersebut penting bukan karena Sangihe disebut sebagai pusat perdagangan cengkih terbesar. Justru sebaliknya. Laporan Dueñas memberikan gambaran mengenai sebuah wilayah yang memiliki cengkih, tetapi pada saat itu belum mengembangkan tanaman tersebut sebagai komoditas perdagangan dalam skala besar.

Informasi itu membuat sejarah cengkih Nusantara menjadi lebih luas daripada sekadar kisah perebutan Ternate dan Tidore.

Ketika Sangihe Masuk Peta Pelayaran Spanyol

Jejak Sangihe dalam catatan pelayaran Eropa sebenarnya telah muncul sebelum laporan mengenai cengkih. Antonio Pigafetta, yang mengikuti pelayaran Ferdinand Magellan, mencatat nama Sanghir ketika rombongan ekspedisi berada di kawasan Filipina pada 1521. Ia menggambarkan perjalanan di sekitar pulau tersebut yang terganggu oleh arah angin.

“akhirnya, kami tiba di sebuah pulau yang sangat indah bernama Sanghir. Namun, karena angin bertiup berlawanan arah dan menghalangi kami untuk memutari tanjung, kami terpaksa berlayar bolak-balik di dekat pulau tersebut,” tulis Pigafetta.

Sekitar enam dekade kemudian, Sangihe muncul lagi dalam dokumen perjalanan Spanyol. Kali ini konteksnya lebih menarik: bukan hanya sebagai titik geografis di jalur pelayaran, melainkan sebagai wilayah yang memiliki tanaman cengkih.

Francisco de Dueñas dikirim dari Manila untuk memperoleh informasi mengenai kondisi Maluku dan kawasan sekitarnya. Perjalanan tersebut berlangsung pada 1581–1582, ketika kepentingan Spanyol di Asia Tenggara berkelindan dengan persaingan Portugis.

Dueñas mencapai Siau pada 1581 dan bertemu dengan Raja Siau, Jerónimo I Pasumah. Setahun kemudian ia telah sampai di Tidore. Dari perjalanan tersebut, pemerintah Spanyol memperoleh informasi mengenai pulau, masyarakat, sumber daya, serta jalur laut yang menghubungkan Filipina dengan pusat rempah di Maluku.

Dalam catatannya, Sangihe disebut bersama pulau-pulau lain yang menghasilkan cengkih. Ejaan nama kepulauan itu dalam sumber Eropa tidak selalu seragam. Berbagai dokumen menggunakan bentuk seperti Zanger, Sanger, Sangir, Sanguin, Sangil, hingga Sangi.

Variasi tersebut lazim ditemukan dalam sumber kolonial karena nama tempat ditulis berdasarkan pendengaran, bahasa dan sistem ejaan masing-masing penulis.

Yang lebih menarik adalah keterangan Dueñas mengenai tanaman cengkih itu sendiri.

Ia menggunakan istilah clabo, bentuk lama yang merujuk pada clavo atau cengkih. Tanaman tersebut disebut tumbuh di kawasan pegunungan. Penduduk membawa bunga cengkih dalam kondisi hijau setelah dipetik.

Musim panennya juga dicatat. Menurut laporan tersebut, panen berlangsung sekitar Februari hingga Maret dan dapat berlanjut hingga April, bertepatan dengan musim cengkih di Kepulauan Maluku.

Namun, Dueñas tidak menggambarkan Sangihe sebagai perkebunan cengkih yang telah berkembang pesat.

Sebaliknya, jumlah pohon disebut tidak banyak dan masyarakat belum secara serius membudidayakannya. Pohon cengkih bahkan masih ditebang ketika hutan dibuka untuk kebun.

Di sinilah nilai historis laporan tersebut berada.

Catatan itu tidak menunjukkan bahwa orang Spanyol menemukan cengkih di Sangihe. Ia hanya menjadi salah satu bukti tertulis Eropa bahwa cengkih tumbuh di kepulauan tersebut pada abad ke-16.

Dengan kata lain, keberadaan cengkih di Sangihe sudah menjadi bagian dari lanskap lokal ketika kekuatan Eropa mulai memetakan jalur rempah di Asia Tenggara.

Dari Catatan Rempah ke Perkebunan Sangihe

Kawasan Sangihe tidak berdiri sendiri. Kepulauan tersebut berada dalam jaringan hubungan masyarakat Sulawesi Utara, Maluku dan Filipina selatan. Perdagangan, perpindahan penduduk dan misi keagamaan ikut membentuk hubungan antarpulau sejak abad ke-16.

Bagi Spanyol di Manila, informasi semacam itu memiliki nilai strategis. Maluku merupakan pusat perdagangan cengkih, sementara pulau-pulau di utaranya menjadi bagian dari jalur menuju kawasan tersebut.

Hubungan Spanyol dengan Tidore juga memperlihatkan bagaimana perdagangan rempah berkaitan erat dengan persaingan geopolitik. Setelah Perjanjian Zaragoza 1529, posisi Spanyol dan Portugis di kawasan Maluku mengalami perubahan, tetapi kepentingan terhadap rempah tidak serta-merta hilang.

Cengkih memiliki nilai tinggi karena tidak sekadar menjadi bumbu. Dalam jaringan perdagangan global awal, rempah merupakan komoditas yang mampu menghubungkan pelabuhan-pelabuhan Asia dengan pasar yang jauh hingga Eropa.

Dalam konteks itulah informasi tentang cengkih Sangihe menjadi menarik. Pulau tersebut bukan pusat utama perdagangan sebagaimana Ternate atau Tidore, tetapi berada cukup dekat dengan jalur yang menghubungkan dua kawasan penting tersebut.

Lebih dari empat abad kemudian, cengkih masih menjadi bagian dari kehidupan ekonomi Kepulauan Sangihe.

Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat produksi perkebunan rakyat pada 2025 mencapai sekitar 700 ton cengkih. Angka tersebut menempatkan cengkih sebagai salah satu komoditas perkebunan yang masih diproduksi masyarakat setempat. Pada tahun yang sama, produksi kelapa tercatat 24.200 ton dan pala sekitar 1.100 ton.

Data tersebut memberikan konteks penting terhadap laporan Dueñas. Jika pada abad ke-16 ia menggambarkan cengkih Sangihe sebagai tanaman yang belum dikembangkan secara serius, data kontemporer memperlihatkan bahwa komoditas tersebut telah menjadi bagian dari sistem perkebunan rakyat.

Dalam lingkup Sulawesi Utara, BPS mencatat produksi cengkih perkebunan rakyat 2025 sebesar sekitar 600 ton. Data provinsi itu bersumber dari Dinas Perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi Utara.

Perbedaan angka antara tabel provinsi dan kabupaten perlu dibaca hati-hati karena publikasi statistik dapat menggunakan cakupan, pembaruan, atau metode penghitungan yang berbeda. Karena itu, angka kabupaten lebih tepat digunakan ketika membicarakan produksi di Kepulauan Sangihe secara spesifik.

Sangihe sendiri tetap memiliki posisi geografis yang khas. Kepulauan ini berada di bagian utara Sulawesi Utara, dekat dengan jalur menuju Filipina. Posisi tersebut menjelaskan mengapa nama Sangihe muncul dalam catatan pelayaran sejak masa awal ekspansi maritim Eropa.

Catatan Dueñas akhirnya meninggalkan satu potongan kecil tetapi berharga dalam sejarah rempah Nusantara.

Ia menunjukkan bahwa peta cengkih tidak berhenti di Maluku Utara. Di sebelah utara pusat perdagangan tersebut, Sangihe juga memiliki pohon cengkih, masyarakat yang mengenalnya, musim panen yang dapat diamati, serta lingkungan pegunungan yang mendukung pertumbuhannya.

Yang berubah kemudian bukan sekadar jumlah tanaman.

Cengkih yang dalam laporan abad ke-16 digambarkan belum menjadi komoditas utama perlahan menjadi bagian dari perkebunan masyarakat. Data BPS 2025 menunjukkan tanaman itu masih bertahan dalam ekonomi perkebunan rakyat Sangihe.

Dengan demikian, sejarah cengkih Sangihe bukan cerita tentang sebuah pulau yang tiba-tiba ditemukan bangsa Eropa. Ia lebih tepat dibaca sebagai kisah tentang sebuah wilayah yang telah terhubung dengan jaringan antarpulau, kemudian masuk ke dalam peta pengetahuan kolonial karena posisinya di jalur menuju pusat rempah Maluku.

Catatan Francisco de Dueñas menjadi salah satu jendela untuk melihat fase awal perjalanan itu—ketika cengkih Sangihe belum menjadi komoditas besar, tetapi keberadaannya sudah cukup penting untuk dicatat dalam laporan perjalanan menuju jantung perdagangan rempah Nusantara.