Jejak Regu Pembunuh Belanda di Revolusi Indonesia Terungkap

Jejak Regu Pembunuh Belanda di Revolusi Indonesia Terungkap
Interogasi prajurit TNI yang ditawan oleh marinir Belanda di Jawa Timur, tahun 1948 (NIMH/Brigade Marinir/Hugo Wilmar).

Sejarawan Rémy Limpach mengungkap operasi regu pembunuh Belanda dan praktik penyiksaan selama Revolusi Indonesia 1945-1950.

INDONESIAONLINE – Sisi gelap perang kemerdekaan Indonesia kembali mencuat setelah sejarawan Belanda, Rémy Limpach, mengungkap keberadaan “regu pembunuh” bentukan militer Belanda selama masa Revolusi Indonesia 1945–1950.

Dalam bukunya berjudul Tasten in het duister atau Meraba dalam Gelap, Limpach memaparkan bagaimana satuan intelijen militer Belanda secara diam-diam membentuk tim khusus untuk memburu, menyiksa, hingga membunuh pihak-pihak yang dianggap mengancam kepentingan kolonial Belanda di Indonesia.

Temuan tersebut memperkuat berbagai kajian sebelumnya yang menyebut kekerasan ekstrem bukan sekadar tindakan individual di medan perang, melainkan bagian dari pola operasi sistematis selama upaya Belanda mempertahankan kekuasaan kolonial setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Regu Rahasia Pemburu Pejuang Republik

Menurut riset Limpach, kelompok yang dikenal sebagai “regu pembunuh” itu beroperasi terutama di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur, meski jejak operasi mereka juga ditemukan di beberapa daerah lain seperti Jawa Tengah dan Sumatera Barat.

Kelompok tersebut dibentuk oleh badan intelijen dan keamanan militer Belanda, termasuk IVG serta Brigade Keamanan Laut atau VDMB.

Anggotanya terdiri dari prajurit Belanda, tentara Indo-Eropa, hingga orang Indonesia yang direkrut untuk membantu operasi lapangan. Sejumlah tentara Maluku juga disebut dilibatkan karena dianggap lebih mudah menyatu dengan lingkungan masyarakat setempat.

Tugas mereka bukan hanya memburu pejuang republik, tetapi juga mengumpulkan informasi intelijen, menangkap orang yang dicurigai melakukan sabotase, hingga mengeksekusi tokoh yang dituduh sebagai “pemimpin geng” atau penggerak perlawanan.

Limpach menyebut banyak operasi dilakukan secara independen tanpa prosedur militer resmi. Namun para perwira tinggi Belanda disebut mengetahui bahkan menyetujui aksi tersebut. Beberapa anggota regu pembunuh bahkan menerima penghargaan militer karena dianggap berhasil menjalankan operasi.

Penyiksaan Jadi Praktik Sistematis

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam penelitian Limpach adalah penggunaan penyiksaan secara luas oleh aparat intelijen dan militer Belanda. Padahal secara resmi praktik itu dilarang.

Menurutnya, bentuk penyiksaan yang dilakukan beragam, mulai dari pemukulan berat hingga penggunaan setrum listrik terhadap tahanan. Sebagian besar praktik kekerasan dilakukan oleh KNIL atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Tentara KNIL dianggap lebih memahami bahasa dan budaya lokal sehingga lebih sering dilibatkan dalam proses interogasi terhadap tahanan Indonesia. Namun para perwira Belanda disebut tetap hadir dalam sejumlah penyiksaan dan dalam beberapa kasus ikut terlibat langsung.

Ironisnya, hukuman terhadap pelaku hampir tidak pernah diberikan. Situasi itu membuat penyiksaan berkembang menjadi semacam “kebijakan tak tertulis” dalam operasi intelijen Belanda selama perang kemerdekaan.

Meski brutal, metode penyiksaan ternyata tidak selalu efektif.

Limpach mencatat sejumlah petugas intelijen Belanda sendiri menganggap tindakan kekerasan justru kontraproduktif karena banyak tahanan memilih bungkam atau memberikan informasi palsu demi menghentikan siksaan.

Belanda sebenarnya mengerahkan ribuan agen intelijen untuk menghadapi perlawanan Republik Indonesia. Namun hasilnya dinilai jauh dari harapan.

Limpach menggambarkan aparat intelijen Belanda seperti “petinju bertarung dengan mata tertutup”, menyerang tanpa arah sementara lawan sudah mengetahui langkah mereka lebih dahulu.

Kebocoran informasi menjadi masalah besar. Banyak operasi Belanda gagal karena rencana mereka lebih dulu diketahui pihak republik.

Intelijen Republik Lebih Solid

Di sisi lain, jaringan intelijen Republik Indonesia disebut jauh lebih kuat dan membumi. Tentara Nasional Indonesia membangun sistem informasi hingga ke akar masyarakat. Warga sipil memainkan peran penting dalam memantau gerak pasukan Belanda.

Perempuan Indonesia disebut memiliki kontribusi besar dalam operasi intelijen republik. Limpach mencatat beberapa pekerja rumah tangga, babu, hingga pekerja seks diam-diam menjadi mata-mata yang menyusup ke lingkungan tentara Belanda.

Salah satu kisah menarik yang diungkap dalam penelitian itu adalah penggunaan jemuran pakaian sebagai kode rahasia.

Seorang pengasuh anak disebut memberi sinyal kepada pejuang republik dengan cara menjemur pakaian berwarna tertentu saat pasukan Belanda bersiap melakukan patroli. Metode sederhana tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat sipil ikut terlibat dalam perang informasi melawan kolonialisme.

Meski penelitian Limpach banyak menyoroti kekerasan militer Belanda, ia juga mencatat bahwa aparat dan kelompok bersenjata di pihak republik tidak sepenuhnya bebas dari pelanggaran.

Penyiksaan dan pembunuhan juga dilakukan terhadap orang Indonesia yang dituduh bekerja sama dengan Belanda atau dianggap sebagai mata-mata.

Namun Limpach menegaskan bahwa secara historis perjuangan Republik Indonesia tetap merupakan perang kemerdekaan yang sah melawan upaya kolonial Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

Pandangan itu sejalan dengan pengakuan pemerintah Belanda dalam beberapa tahun terakhir yang mulai mengakui adanya kekerasan sistematis selama perang kemerdekaan Indonesia.

Kajian Limpach menambah panjang daftar penelitian mengenai kekerasan kolonial Belanda di Indonesia. Sebelumnya, pemerintah Netherlands melalui penelitian bersama sejumlah lembaga sejarah juga mengakui adanya penggunaan kekerasan ekstrem oleh tentara Belanda selama periode 1945–1949.

Pada 2022, Perdana Menteri Belanda saat itu, Mark Rutte, bahkan menyampaikan permintaan maaf resmi atas praktik kekerasan sistematis tersebut.

Meski lebih dari tujuh dekade telah berlalu sejak Revolusi Indonesia berakhir, kisah tentang regu pembunuh dan praktik penyiksaan ini menjadi pengingat bahwa perang kemerdekaan tidak hanya dipenuhi heroisme, tetapi juga luka kemanusiaan yang panjang.

Di balik narasi besar perjuangan dan diplomasi, terdapat operasi-operasi rahasia, penyiksaan, dan pembunuhan yang selama bertahun-tahun nyaris tenggelam dari catatan sejarah resmi.