INDONESIAONLINE – Entah apa yang ada di pikiran dua lurah di Kendari, Sulawesi Tenggara. Bayangkan, kedua ASN itu menggelar pesta minuman keras (miras) bersama dua wanita yang diduga PSK di kantor kelurahan sehingga nyaris dihajar massa.
Akibat perbuatan tak elok itu, Pemerintah Kota Kendari mencopot dua lurah tersebut. Keduanya bakal menjalani pemeriksaan untuk menentukan derajat kesalahan mereka.
Kedua pejabat itu yakni Lurah Poasia berinisial ZM (53) dan Lurah Talia berinisial RAK (41). “Menyikapi kejadian ini, kita nonaktifkan keduanya untuk menyelesaikan persoalan mereka,” kata Kepala BKPSDM Kendari, Alfian.
Menurut Alfian, pemerintah menerima laporan masyarakat terkait insiden yang terjadi pada Jumat (12/6). Setelah mendapat informasi tersebut, Pemkot Kendari langsung berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk melakukan penanganan.
“Pemkot membenarkan memang ada informasi dari masyarakat. Kami telah konfirmasi kepada camat Abeli,” ujarnya.
Pemkot Kendari memastikan pelayanan pemerintahan di Kelurahan Poasia dan Kelurahan Talia tetap berjalan normal. Untuk sementara, tugas pemerintahan akan dijalankan oleh pelaksana tugas (Plt) hingga pejabat definitif ditunjuk.
“Untuk sementara, tugas-tugas pemerintahan akan dijalankan oleh pejabat pelaksana tugas untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan di wilayahnya sampai ditunjuk pejabat definitif,” jelas Alfian.
Sebelumnya, polisi mengamankan dua oknum lurah bersama dua perempuan setelah mereka diduga menggelar pesta minuman keras di Kantor Lurah Poasia. Peristiwa tersebut nyaris berujung amukan massa setelah warga mendatangi lokasi.
Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, membenarkan pihaknya telah mengamankan kedua lurah beserta dua wanita yang berada di lokasi kejadian. “Iya betul, petugas mengamankan kedua lurah tersebut bersama dua wanita,” ujar Welliwanto.
Berdasarkan informasi, kedua wanita tersebut diduga dipesan melalui aplikasi. Keributan disebut terjadi setelah adanya perselisihan terkait pembayaran yang tidak sesuai kesepakatan.
Suara pertengkaran kemudian menarik perhatian warga sekitar. Situasi memanas setelah masyarakat mengetahui kantor pemerintahan dijadikan lokasi pesta miras dan aktivitas prostitusi.
“Dua wanita ini dipesan melalui aplikasi hijau. Sementara ini masih kita dalami,” kata Welliwanto.
Polisi saat ini masih melakukan pendalaman terkait dugaan pelanggaran yang terjadi dalam kasus tersebut. (rds/hel)













