AI LangYa 2.0 dari CAS China mampu prediksi 6 fenomena laut ekstrem, ungguli model konvensional, dan ubah intelijen kelautan global.
INDONESIAONLINE – “Versi 1.0 hanya memberi tahu suhu laut. Versi 2.0 memberi tahu di mana pusaran akan terbentuk dan kapan gelombang badai menghantam pantai.” Kalimat itu dilontarkan Dr. Li Wei, ketua tim pengembang LangYa 2.0 dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS), saat meluncurkan sistem kecerdasan buatan (AI) terbaru tersebut di Konferensi Bumi Digital Tiongkok yang digelar di Qingdao pada 13 Juni 2026.
CAS mengklaim LangYa 2.0 mampu memprediksi enam fenomena laut yang selama ini menjadi mimpi buruk pelaut, nelayan, operator rig minyak, hingga masyarakat pesisir: topan, hujan ekstrem, gelombang badai, gelombang soliter internal, pusaran mesoscale, dan pergerakan es laut.
Sistem ini merupakan peningkatan drastis dari LangYa 1.0 yang diluncurkan pada Desember 2024, yang hanya mampu meramalkan variabel dasar seperti suhu, salinitas, dan arus laut hingga tujuh hari ke depan.
Dari Prediksi Suhu ke Deteksi Bencana Laut Ekstrem
LangYa 2.0 tidak lagi memandang laut sebagai hamparan air statis, melainkan sistem hidup yang terus berubah dari menit ke menit. Menurut Dr. Li Wei, rahasia kemampuan sistem ini terletak pada pengolahan data masif yang menggabungkan citra satelit awan, data atmosfer, kondisi laut, hingga jejak ribuan topan yang pernah terjadi sebelumnya.
“Kami tidak hanya membangun model prediksi, tapi sistem yang memahami interaksi kompleks antara atmosfer dan lautan yang selama ini sulit dipahami manusia,” ujar Li Wei kepada Xinhua News Agency setelah peluncuran sistem tersebut.
Sistem ini mampu mendeteksi dua fenomena yang paling ditakuti ahli meteorologi: intensifikasi cepat topan dan perubahan arah mendadak. Berdasarkan asesmen dampak CAS yang dirilis pada Mei 2026, LangYa 2.0 dapat mengurangi kerugian akibat topan di Pasifik Barat hingga 18 persen jika diterapkan secara luas. Pada 2025, kerugian akibat topan di wilayah tersebut mencapai USD32 miliar, menurut basis data bencana global EM-DAT 2026.
Selain topan, LangYa 2.0 juga mampu memprediksi gelombang soliter internal—gelombang bawah laut raksasa yang tidak terlihat dari permukaan namun mampu merusak pipa bawah laut dan platform minyak. Sistem ini menghasilkan prediksi hingga 14 hari ke depan dengan resolusi tiga kilometer, jauh lebih detail dibandingkan model konvensional yang hanya memiliki resolusi 10 kilometer.
Validasi Internasional: Unggul di Prediksi Es Arktik
Sebelum resmi diluncurkan, LangYa 2.0 telah diuji dalam prediksi luas es laut Arktik pada September 2025. Hasilnya, model ini menempati peringkat pertama dalam validasi independen yang dilakukan Sea Ice Prediction Network (SIPN), jaringan internasional yang berfokus pada prakiraan es laut Arktik. LangYa 2.0 mencatat akurasi 94 persen, 12 persen lebih tinggi dibandingkan model terbaik kedua.
“LangYa 2.0 menunjukkan akurasi luar biasa dalam memprediksi penyusutan es Arktik, yang krusial untuk keselamatan navigasi di wilayah tersebut,” ujar Dr. Sarah Johnson, direktur SIPN, dalam laporan validasi yang dirilis pada Oktober 2025.
Saat ini, es Arktik menyusut rata-rata 13 persen per dekade sejak 1979, menurut laporan IPCC AR6 yang diperbarui pada 2025. LangYa 2.0 mampu memprediksi luas minimum es Arktik pada September setiap tahunnya dengan margin kesalahan hanya 2 persen, dibandingkan 5 persen pada model lainnya.
Kemampuan ini sangat dibutuhkan mengingat lalu lintas pelayaran di Jalur Laut Utara (Northern Sea Route) meningkat 32 persen pada 2025 dibandingkan 2024, menurut Lembaga Riset Arktik dan Antarktik Rusia. LangYa 2.0 membantu kapal menghindari tabrakan dengan bongkahan es dan menghemat bahan bakar dengan memilih rute paling efisien.
Perlombaan Geopolitik di Balik AI Kelautan
Di balik kemampuan teknisnya, LangYa 2.0 bukan sekadar proyek sains murni. Lautan merupakan jalur perdagangan yang mengangkut 80 persen volume dan 70 persen nilai perdagangan global, menurut laporan UNCTAD 2025. Negara yang mampu memahami kondisi laut lebih cepat dan akurat akan mendapatkan keuntungan besar dalam ekonomi, keamanan, dan teknologi.
CAS mengalokasikan dana USD217 juta untuk pengembangan LangYa 2.0 selama 2024-2026, menurut laporan anggaran Kementerian Sains dan Teknologi China 2025. Negara-negara lain juga berlomba mengembangkan sistem serupa: National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) AS memiliki model RTOFS dengan resolusi 5 kilometer dan prediksi 7 hari, sementara Uni Eropa mengembangkan sistem Copernicus Marine Service dengan resolusi 4 kilometer.
“Penguasaan data laut bukan lagi soal sains, tapi kekuatan nasional. Siapa yang tahu kondisi laut lebih cepat, dia yang menguasai jalur perdagangan dan keamanan maritim,” ujar Dr. Wang Yi, pakar kebijakan kelautan Universitas Peking, dalam wawancara dengan South China Morning Post pada 15 Juni 2026.
AI kelautan juga memiliki nilai strategis militer. Informasi tentang kondisi laut menentukan keberhasilan operasi kapal selam, pengawasan wilayah, hingga perlindungan jalur perdagangan internasional. Selain itu, sistem ini dapat membantu industri energi lepas pantai menghindari risiko gelombang ekstrem yang dapat merusak infrastruktur bernilai miliaran dolar.
Nama LangYa sendiri diambil dari ensiklopedia kuno Tiongkok Cihai, yang berarti harta berharga seperti giok. Nama itu juga merujuk pada Teras LangYa kuno, tempat para astronom Tiongkok berabad-abad lalu mengamati langit untuk membaca pergantian musim. Kini, ribuan tahun setelah para pengamat kuno menatap cakrawala dengan mata telanjang, sebuah AI sedang mencoba melakukan hal yang sama—tetapi terhadap seluruh samudra di Bumi.
Saat mesin ini semakin canggih, lautan yang selama ribuan tahun penuh misteri perlahan menjadi transparan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI dapat membantu manusia memahami lautan, melainkan siapa yang akan menguasai data paling berharga di planet ini.













