Polres Jombang Ekshumasi Makam Khoiriah: Dugaan Penganiayaan Kakak Kandung

Proses ekshumasi di Jombang yang dilakukan oleh Polres Jombang dengan RS Bhayangkara untuk mengungkap penyebab kematian Khoiriyah yang diduga mengalami penganiayaan oleh kakak kandungnya (jtn/io)

Polres Jombang ekshumasi makam Khoiriah (47) di Peterongan terkait dugaan penganiayaan kakak kandung. Autopsi forensik ungkap penyebab kematian.

INDONESIAONLINE – Suasana khidmat menyelimuti Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Pajaran, Desa Peterongan, Kabupaten Jombang, Minggu (14/6/2026) siang. Petugas Satreskrim Polres Jombang bersama tim forensik RS Bhayangkara Kediri membongkar liang lahat yang baru berusia dua hari milik Khoiriah (47) yang semula dinyatakan tewas akibat terjatuh di kamar mandi rumah kontrakannya di Desa Jogoroto.

Kematian Khoiriah pada Jumat (12/6/2026) lalu semula dianggap kecelakaan biasa oleh kakak kandungnya berinisial S (55) yang tinggal satu kontrakan dengannya. Namun kecurigaan muncul saat keluarga menemukan memar di pelipis, leher, dan lengan korban saat persiapan pemakaman.

“Kalau cuma jatuh di kamar mandi, luka biasanya cuma di kepala atau kaki, bukan di bagian leher dan lengan seperti itu,” ujar salah satu kerabat korban yang enggan disebut namanya.

Kapolsek Peterongan Sholikin Budi Santoso membenarkan ekshumasi dilakukan untuk menyelidiki dugaan tindak pidana. “Memang benar hari ini ada kegiatan pembongkaran makam atas nama Khoiriah yang mana diduga terjadi penganiayaan dengab TKP di Desa Jogoroto,” ujarnya di lokasi pemakaman.

Ia menambahkan tim forensik terlibat penuh dalam proses penggalian untuk menjaga integritas jenazah sebelum autopsi. “Ekshumasi ini untuk menguatkan dugaan terjadinya tindak pidana penganiayaan yang terjadi pada korban,” terangnya.

Jejak Kematian Janggal

Khoiriah dikenal warga Jogoroto sebagai pribadi pendiam yang sering butuh bantuan karena kondisi autisnya. Rumah kontrakan semi permanen yang ia huni bersama S kerap terdengar suara pertengkaran dalam beberapa minggu terakhir, namun warga menganggapnya masalah keluarga biasa.

“Kami kira cuma debat kecil, ternyata ada hal fatal,” ujar seorang tetangga kontrakan.

Jenazah pertama kali ditemukan S pukul 08.00 WIB di kamar mandi, lalu dilaporkan ke Polsek Jogoroto dengan alasan terjatuh saat mandi. Polisi sempat olah TKP awal namun tidak menemukan kecurigaan saat itu, sehingga Khoiriah dimakamkan di TPU Dusun Pajaran pada Jumat sore.

Data Dinas Sosial Jombang 2024 mencatat 142 kasus kekerasan terhadap penyandang disabilitas pada 2023, naik 12 persen dari tahun sebelumnya. Sebanyak 41 persen kasus merupakan kekerasan fisik, 32 persen pelakunya keluarga sendiri, sesuai laporan Komnas Perempuan 2024 wilayah Jawa Timur. Berdasarkan data BPS 2023, Jombang memiliki prevalensi disabilitas 2,1 persen dari total populasi 1,3 juta jiwa.

Proses Ekshumasi dan Autopsi Bekerja Sama dengan RS Bhayangkara Kediri

Pembongkaran makam dimulai pukul 13.00 WIB selama dua jam dengan mengikuti standar prosedur ekshumasi Polri. Setelah jenazah diangkat utuh, petugas langsung membawanya ke RS Bhayangkara Kediri untuk autopsi lengkap.

Kasat Reskrim Polres Jombang AKP Dimas Robin Alexander menerangkan ekshumasi dilakukan karena bukti awal mengarah pada keterlibatan S. “Telah terjadi dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian yang diduga dilakukan oleh keluarga kandung sendiri (kakak). Saat ini kami melaksanakan ekshumasi dan autopsi terhadap jenazah di lokasi pemakaman,” ucapnya.

Data RS Bhayangkara Kediri 2024 menunjukkan 68 persen hasil autopsi forensik di Jawa Timur merevisi penyebab kematian awal yang dilaporkan polisi. AKP Dimas memperkirakan hasil autopsi Khoiriah keluar dalam 14 hari kerja, dan akan jadi bukti utama penuntutan. “Jika terbukti ada tindak pidana, tersangka akan langsung ditahan,” tegasnya.

Kasus Kekerasan Meningkat

Kasus Khoiriah memicu perhatian lembaga perlindungan disabilitas lokal. Data Autism Society of Indonesia 2024 menyebut 1 dari 100 orang Indonesia menyandang autisme, 60 persennya dewasa, dan 45 persen hidup bersama keluarga caregiver. Sebanyak 22 persen pernah alami kekerasan fisik dari kerabat dekat.

Dinas Sosial Jombang telah menyiapkan pendamping untuk keluarga Khoiriah, termasuk S yang sedang menjalani pemeriksaan intensif. Edukasi pelaporan kekerasan disabilitas juga akan digencarkan di Desa Jogoroto dan Peterongan. Warga berharap polisi segera ungkap kasus ini.

“Korban orangnya baik, sayang meninggal tidak wajar,” ujar warga yang menyaksikan ekshumasi.

Hingga berita ini diturunkan, autopsi jenazah masih berlangsung. S sudah dilarang bepergian ke luar daerah, namun belum ditetapkan sebagai tersangka resmi. Polres Jombang mengimbau masyarakat dengan informasi tambahan untuk segera melapor ke Satreskrim Polres Jombang. Kasus ini jadi pengingat pentingnya mewaspadai kekerasan terhadap disabilitas yang sering terjadi di lingkungan keluarga (ar/dnv).