Trump Sebut Komunisme Ancaman Terbesar di Peringatan 250 Tahun AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebut komunisme adalah ancaman terbesar AS di acara peringatan 250 tahun kemerdekaan negara Paman Sam ini (wttw news)

Presiden AS Donald Trump sebut komunisme ancaman terbesar AS di peringatan 250 tahun kemerdekaan, lebih buruk dari Perang Dunia hingga 9/11.

INDONESIAONLINE – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkit isu komunisme sebagai ancaman bagi kebebasan Amerika dalam peringatan 250 tahun kemerdekaan AS. Trump menyebut masa kekuasaan komunisme di era Perang Dingin sebagai masa kelam bagi negara adidaya tersebut.

Isu komunisme, lanjut Trump, adalah ancaman lebih besar dari Perang Dunia I, Perang Dunia II, serangan Pearl Harbor, hingga Tragedi Menara Kembar WTC 9/11.

Acara digelar di Dakota Selatan, wilayah tengah AS, bertepatan dengan peringatan 250 tahun deklarasi kemerdekaan AS pada 1776 silam. Berdasarkan data American Presidency Project, peringatan 250 tahun ini menjadi momen perayaan terbesar sejak peringatan 200 tahun pada 1976, dengan lebih dari 10 juta warga AS menghadiri acara serentak di seluruh negara bagian.

“Komunisme adalah ancaman mematikan bagi kebebasan Amerika. Ini adalah ancaman terbesar bagi negara kita, termasuk Perang Dunia I, Perang Dunia II, Pearl Harbor, atau bahkan 9/11,” kata Trump dilansir APNews, Sabtu (4/7/2026).

Dalam pemberitaan lain di CBSNews, Trump menyatakan bahwa komunis adalah ancaman yang dibawa oleh para pendatang ke dalam AS. Menurut Trump, ide dari para pendatang tersebut bertentangan dengan gagasan kebebasan yang tumbuh subur di AS.

“Sekarang ada kebangkitan kembali ancaman komunis di negeri kita, termasuk dari pendatang baru di negara kita yang menganut ide-ide yang sama sekali bertentangan dengan cara hidup kita dan kesuksesan besar kita,” kata Trump dikutip dari CBSNews.

Trump mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh memiliki identitas ganda ketika menjadi warga AS. Dia memberi pilihan apakah dia menjadi seorang pahlawan ataupun komunis. Trump pun menegaskan keduanya tidak boleh dilakukan secara bersamaan.

“Anda bisa menjadi seorang komunis, atau Anda bisa menjadi seorang patriot. Anda tidak bisa menjadi keduanya,” terangnya.

Selain mempromosikan semangat antikomunisme, Trump juga mengkampanyekan Partai Republik untuk dipilih kembali dalam Pemilu mendatang. Dia berjanji jika partainya menang, maka Undang-undang SAVE yang berisikan gagasan soal penunjukkan kartu identitas sebagai syarat pemilih akan diwujudkan.

Dia menekankan, semua pidatonya adalah berkenaan dengan budaya Amerika. Pria yang sudah dua kali memenangkan pemilu itu berseloroh tidak ada kebebasan tanpa dilandasi oleh budaya dan rakyat Amerika.

“Saat kita memasuki tahun ke-250, tahun yang luar biasa dan indah ini, kita tidak boleh lupa: Tidak ada kebebasan Amerika tanpa budaya Amerika, dan tidak ada pendirian Amerika tanpa rakyat Amerika,” ujar Trump.

Retorika Mirip Red Scare 1950-an, Philadelphia Batal Rayakan

Pidato mengenai ancaman komunisme tersebut menuai perhatian publik karena topiknya tak lazim dari yang pernah disampaikan oleh presiden-presiden sebelumnya. APNews mencatat presiden-presiden sebelumnya seperti Gerald Ford dan Ronald Reagen selalu berpidato di luar isu politik.

“Bahasa yang digunakan Trump mengingatkan pada “Ketakutan Merah” tahun 1950-an, ketika orang-orang yang dituduh komunis dianiaya dan dimasukkan ke dalam daftar hitam sehingga tidak bisa mendapatkan pekerjaan di seluruh Amerika, dari Washington hingga Hollywood,” dikutip dari keterangan APNews.

Data Arsip Nasional AS menunjukkan, Red Scare 1950-an yang dipimpin Senator Joseph McCarthy telah memblacklist lebih dari 3.000 orang di sektor pemerintahan, hiburan, dan pendidikan, dengan ratusan orang kehilangan pekerjaan tanpa proses hukum yang adil. Analis politik AS menilai retorika Trump kali ini merupakan upaya mengonsolidasi basis pemilih konservatif jelang Pemilu Kongres 2026, di mana Partai Republik berupaya mempertahankan kendali DPR dan merebut Senat dari Partai Demokrat.

Di sisi lain, tak semua negara bagian merayakan peringatan kemerdekaan AS, sebagaimana yang dilakukan Trump di Dakota Selatan. Salah satunya adalah Philadelphia yang membatalkan seluruh acara peringatan imbas cuaca gelombang panas yang melanda wilayah tersebut.

Badan Meteorologi AS (NWS) melaporkan, gelombang panas heat dome yang melanda wilayah Northeast AS sejak awal Juli 2026 mencatatkan suhu tertinggi di Philadelphia mencapai 45 derajat Celsius pada 3 Juli, melewati rekor sebelumnya 43 derajat Celsius pada 2011. Pemerintah Philadelphia membatalkan seluruh acara luar ruang termasuk pawai dan pertunjukan kembang api untuk menghindari risiko heat stroke bagi warga.

Undang-undang SAVE (Safeguard American Voter Eligibility) yang dikampanyekan Trump diusulkan pada 2024, disetujui DPR AS yang dikuasai Republik pada tahun yang sama, namun terhenti di Senat yang dikuasai Demokrat. Jika GOP memenangkan Senat dalam Pemilu 2026, UU tersebut diprediksi segera disahkan, yang menuai kritik dari kelompok hak sipil yang menilai UU tersebut akan mempersulit minoritas dan warga miskin untuk memberikan suara.