Oleh: Abd. Aziz

Penulis berkesempatan bersua Mas Emil, sapaan akrab Emil Elistianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur di Kota Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (4/5) malam.

“Apa kabar, Mas Wagub? Ngomong-ngomong, _WhatsApp_ saya pekan lalu belum dibuka, ya Mas Emil? Karena kesibukan menggunung, tentunya,” tanya penulis pada suami artis Arumi Bachsin itu.

“Wah, maaf Mas Aziz. Kebetulan kemarin-kemarin padat kegiatan. Tolong kirim ulang pesannya sekarang. Segera saya respons,” jawab ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Jawa Timur, partai pemenang Pemilu (2009), ini.

Tokoh muda berusia tiga puluh sembilan tahun yang memenangi perhelatan pemilihan Kepala Daerah Jatim bersama Mbak Khofifah Indar Parawansa pada medium (2019) ini, terpilih sebagai Wakil Gubernur dengan usia yang tergolong milenial, tiga puluh lima tahun.

Hal yang tergolong _urgent_, penting dipelajari dari alumni program doktor Universitas Asia Pasifik Ritsumeikan, Jepang (2006) ini adalah kesahajaan alias kesederhanaan yang begitu kental padanya.

Bayangkan. Menggunakan kemeja putih tanpa balutan jas dengan setelan celana hitam, Wagub Jatim dengan latar belakang pengusaha yang gemar bermain piano dan gitar ini, tampak seperti masyarakat kebanyakan.

Tutur katanya pun tak muluk-muluk apalagi menampakkan sebagai orang nomor dua di Propinsi, yang kini dilirik oleh para calon Presiden karena diyakini sebagai barometer kemenangan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilu 2024 mendatang.

Baca Juga  RKUHP untuk Kepentingan Bangsa atau Oligarki Penguasa

Apakah Mas Emil tak bisa berpenampilan necis dengan gaya bicara berlebihan lazimnya para pejabat di Republik ini? Bisa! Tetapi, pria kelahiran Jakarta, 20 Mei 1984 ini tidak gagap status, yang kemudian harus berubah drastis pasca menggenggam jabatan prestisius di tangannya.

Hemat penulis, demikian sejatinya seorang yang dianugerahi rezeki dan kenikmatan berlimpah dari Tuhan. Tetap sederhana, tidak berlebih-lebihan, jauh sikap sombong, dan bisa bergaul dengan siapapun.

Ketahuilah. Hidup yang sederhana mampu membebaskan pikiran dari kerumitan dan tekanan untuk fokus pada kemewahan dunia yang tak menjanjikan kepuasan walaupun kita dapatkan. Akan merasa kurang, kurang dan kurang.

Sesungguhnya, kesederhanaan merupakan kemewahan yang terpatri dari cara berpikir, bertutur kata, bersikap dan bertindak yang dikendalikan oleh jiwa dan akal yang sehat.

Kemewahan yang demikian itu sejatinya dimiliki, utamanya oleh mereka yang karena garis tangannya, ditakdirkan sebagai pejabat yang diharapkan memberikan kemaslahatan, kebaikan bagi masyarakat. Bukan sebaliknya.

Baca Juga  Jember Mencari Keadilan

Percaya dan yakinlah, jika kita hidup sederhana akan membuat batin tenteram dan damai. Mengapa? Karena kesederhanaan itu akan melahirkan ketenangan berbonus kebahagian.

Sedangkan kebahagiaan akan menumbuhkembangkan kebermaknaan hidup, yang merepresentasikan keimanan pada sang pencipta. Betapa luar biasanya dampak signifikan dari kesederhanaan itu.

Kesederhanaan juga melahirkan sikap berani berpikir besar dan melakukan hal-hal besar. Namun, kecenderungan manusia tak mudah mempercayainya.

Karenanya, Pramoedya Ananta Toer berkata. _Jarang orang mau mengakui bahwa kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini. Suatu karunia alam. Dan yang terpenting di atas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhanaan adalah kejujuran, keberanian adalah ketulusan._

Lebih jauh, Napoleon Bonaparte (1821), mantan Kaisar Perancis menggambarkan bahwa kesederhanaan adalah dasar segala moral dan kebajikan utama manusia. Tanpa kesederhanaan, manusia tidak ada bedanya dengan binatang.

Marilah kita merawat kesederhanaan dalam segala hal agar tak terjerembab dalam kubangan gemerlapnya dunia yang sungguh menipu. Selain itu, agar kita berbeda dengan binatang, Seperti ujaran Napoleon di atas. (*)

* Penulis adalah Advokat, Legal Consultant, Lecture, Mediator, dan CEO Firma Hukum PROGRESIF LAW. Kini, Sekretaris Jenderal DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK)