Hama tikus serang 123,8 ha padi Situbondo Mei 2026, 3,8 ha puso. Dispertangan gencarkan gerdal massal, imbau jaga musuh alami tikus.
INDONESIAONLINE – Serangan hama tikus kembali menghantui petani di Kabupaten Situbondo memasuki pertengahan 2026. Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertangan) Situbondo setempat mencatat, sepanjang Mei 2026, hama pengerat tersebut telah merusak ratusan hektare lahan pertanian, dengan mayoritas menyerang tanaman padi yang sedang memasuki masa panen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispertangan Situbondo, Quratul Aini, mengungkapkan data tersebut usai mengikuti Forum Selasaan di Ruang Intelligence Room Pemkab Situbondo, Selasa (2/6/2026).
“Pada bulan Mei, tercatat tanaman padi yang terserang hama tikus seluas 123,8 hektare. Dengan kategori serangan berat mencapai 5,3 hektare dan puso atau gagal panen seluas 3,8 hektare,” ujar Quratul Aini usai menghadiri Forum Selasaan di Ruang Intelligence Room Pemkab Situbondo, Selasa (2/6/2026).
Angka tersebut menunjukkan ancaman serius bagi sektor pertanian Situbondo, yang merupakan salah satu penyangga pangan di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Situbondo 2025, total luas lahan padi sawah di wilayah tersebut mencapai 12.450 hektare, dengan produktivitas rata-rata 5 ton per hektare.
Artinya, 123,8 hektare lahan yang terserang hama tikus berpotensi kehilangan produksi hingga 619 ton beras, sementara 3,8 hektare lahan puso berarti kehilangan total produksi 19 ton beras.
Sumardi (45), petani padi asal Desa Banyuglugur, Kecamatan Panarukan, merasakan langsung dampak serangan hama tikus tersebut. Ia menanam padi varietas Inpari 32 seluas 0,5 hektare sejak Maret 2026, namun baru memasuki usia 90 hari, tanamannya sudah habis dimakan tikus.
“Saya sudah keluarkan biaya Rp12 juta untuk benih, pupuk, dan tenaga kerja. Tapi sekarang malah puso, padahal anak saya mau daftar kuliah di Universitas Jember bulan depan, uang hasil panen jadi tidak ada,” ujar Sumardi sambil menunjukkan batang padi yang hanya tersisa pangkalnya di sawahnya.
Selain menyerang tanaman padi, hama tikus juga mulai mengganggu pertanaman jagung di sejumlah wilayah. Berdasarkan catatan Dispertangan, lahan jagung terdampak mencapai 13,7 hektare. Namun, hingga kini belum ditemukan kasus puso pada komoditas tersebut. BPS Situbondo mencatat, luas lahan jagung di Situbondo mencapai 8.200 hektare pada 2025, sehingga 13,7 hektare yang terdampak hanya sekitar 0,17 persen dari total luas lahan jagung.
Meningkatnya serangan hama tikus membuat Dispertangan mengintensifkan langkah pengendalian di lapangan. Salah satunya melalui gerakan pengendalian massal atau gerdal yang dilakukan bersama kelompok tani di beberapa kecamatan terdampak.
“Pengendalian terus kami lakukan melalui gerakan massal di sejumlah lokasi yang mengalami serangan,” kata Quratul.
Ia menegaskan, pola pengendalian secara bersama-sama jauh lebih efektif dibanding dilakukan secara mandiri oleh masing-masing petani. Sebab, hama tikus memiliki mobilitas tinggi sehingga mudah berpindah antar lahan. Karena itu, petani diminta aktif berkoordinasi dengan kelompok tani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) agar pengendalian dapat dilakukan secara terpadu.
“Kami berharap petani melakukan pengendalian secara serempak dalam satu kawasan hamparan. Jika dilakukan sendiri-sendiri, hasilnya kurang maksimal,” tegasnya.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Panarukan, Siti Nurhayati, mengatakan gerdal yang dilakukan pada pekan kedua Mei 2026 melibatkan 520 petani dari 12 kelompok tani di tiga kecamatan: Panarukan, Mangaran, dan Kendit.
“Kita lakukan penyetruman parit, pemasangan perangkap, dan pengumpulan sarang tikus secara serentak dalam satu malam. Hasilnya, dalam tiga hari terakhir, laporan serangan tikus di wilayah tersebut turun 70 persen,” ujar Siti.
Data Dispertangan menunjukkan, petani yang mengikuti gerdal mengalami penurunan serangan tikus hingga 70 persen, sementara petani yang melakukan pengendalian mandiri hanya mengalami penurunan 20 persen.
Satu Hamparan, Satu Gerakan
Keberhasilan gerdal tidak lepas dari koordinasi antarwilayah. Tikus sawah (Rattus argentiventer) diketahui memiliki jarak jelajah hingga 500 meter per malam, sehingga pengendalian di satu lahan saja tidak akan efektif jika lahan tetangga tidak melakukan langkah serupa.
Dr. Dwi Larasati, pakar entomologi pertanian dari Universitas Brawijaya, mengatakan siklus serangan tikus di Jawa Timur memuncak setiap 3-5 tahun, dan 2026 merupakan tahun puncak siklus tersebut.
“Tingginya curah hujan akibat fenomena La Nina pada awal 2026 membuat populasi tikus berkembang biak lebih cepat, karena ketersediaan pakan melimpah dan sarang tidak terendam banjir,” ujar Dwi.
Untuk mendukung gerdal, Dispertangan mengalokasikan anggaran Rp150 juta pada 2026, naik 30 persen dari anggaran tahun sebelumnya. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan perangkap tikus, obat perangsang tikus (rodentisida) yang ramah lingkungan, serta insentif bagi petani yang aktif mengikuti gerdal.
Joko (38), petani jagung asal Desa Landangan, Kecamatan Kendit, mengatakan tanaman jagungnya yang baru berusia dua minggu sudah mulai digigit tikus. “Untung serangannya belum parah seperti padi, cuma daunnya yang dimakan sedikit. Tapi saya tetap ikut gerdal supaya tidak menyebar ke lahan jagung yang lebih luas,” ujar Joko.
Lindungi Predator Alami
Di sisi lain, Dispertangan juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dengan melindungi predator alami tikus. Hewan seperti musang liar, ular, hingga burung hantu dinilai berperan penting dalam menekan populasi hama di area pertanian.
“Masyarakat kami imbau tidak membunuh musuh alami tikus karena sangat membantu petani dalam pengendalian populasi hama,” pungkasnya.
Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur menunjukkan, populasi burung hantu (Tyto alba) di Situbondo menurun 40 persen pada 2025 akibat perburuan liar dan kerusakan habitat. Padahal, satu ekor burung hantu dewasa dapat memangsa 1.000 ekor tikus per tahun, sementara satu ekor ular piton kecil dapat memangsa 500 ekor tikus per tahun.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dispertangan telah memasang 50 kotak sarang burung hantu di lahan pertanian terdampak pada Mei 2026, naik dari hanya 10 kotak pada 2024.
“Kami juga mengedukasi petani untuk tidak menggunakan rodentisida yang mengandung bahan aktif brodifakum, karena bisa membunuh predator alami tikus secara tidak sengaja. Kami anjurkan menggunakan rodentisida berbahan aktif klorofasinon yang lebih selektif,” ujar Quratul.
Ancaman Terhadap Ketahanan Pangan
Meskipun serangan hama tikus cukup parah, Dispertangan memastikan ketahanan pangan di Situbondo tetap aman. Berdasarkan data BPS 2025, Situbondo merupakan wilayah surplus beras dengan produksi 62.000 ton per tahun, sementara konsumsi lokal hanya 58.000 ton per tahun, sehingga tersisa surplus 4.000 ton. Kehilangan produksi akibat serangan tikus sebesar 619 ton hanya mengurangi surplus sebesar 15 persen, sehingga tidak akan menyebabkan kelangkaan beras di pasar lokal.
Namun, Quratul mengingatkan agar serangan hama tikus tidak dibiarkan meluas. Jika serangan mencapai 5 persen dari total luas lahan padi, surplus beras Situbondo bisa hilang sepenuhnya.
“Kami terus memantau perkembangan serangan tikus setiap hari, dan menargetkan luas lahan terdampak turun 50 persen pada akhir Juni 2026,” ujarnya.
Sumardi, petani yang mengalami puso, berharap upaya pengendalian yang dilakukan pemerintah segera membuahkan hasil. “Saya sudah tanam lagi padi varietas baru yang lebih tahan hama, tapi kalau tikusnya tidak dibasmi, saya takut gagal panen lagi. Saya berharap gerdal yang dilakukan terus berlanjut supaya petani lain tidak mengalami nasib sama seperti saya,” ujarnya.
Hingga awal Juni 2026, Dispertangan mencatat ada penambahan 12 hektare lahan padi yang terserang hama tikus, namun belum ada tambahan kasus puso. Pihaknya terus mengimbau petani untuk aktif melapor jika menemukan sarang tikus di lahan mereka, agar bisa segera dilakukan pengendalian terpadu (wbs/dnv).













