Pemkot Malang Pacu 200 UMKM Tembus Pasar Global, Target Nilai Ekspor Melonjak ke Rp1 Triliun

Pemkot Malang Pacu 200 UMKM Tembus Pasar Global, Target Nilai Ekspor Melonjak ke Rp1 Triliun
Ilustrasi upaya Pemkot Malang Jatim tingkatkan ekspor produk UMKM ke mancanegara (io)

Pemkot Malang targetkan 200 UMKM tembus ekspor pada 2026 lewat Klinik Ekspor. Dari 40 ribu UMKM, baru 95 yang ekspor dengan nilai Rp100 miliar. Target baru: Rp1 triliun.

INDONESIAONLINE – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mengambil langkah agresif untuk mendongkrak jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mampu menembus pasar internasional. Di tengah fakta bahwa hanya 95 dari lebih 40 ribu UMKM yang berhasil ekspor, Diskopindag kini mematok target ambisius: melahirkan 200 eksportir baru sepanjang 2026.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, mengungkapkan bahwa percepatan ini ditempuh melalui program Klinik Ekspor yang dihelat secara rutin setiap pekan di Malang Creative Center (MCC). Program ini menjadi ruang inkubasi intensif bagi pelaku UMKM agar memenuhi standar kualifikasi pasar global.

“Target kami ada 200 UMKM yang bisa masuk pasar ekspor tahun ini. Kelas klinik ekspor kami jalankan seminggu sekali untuk mempercepat kesiapan mereka,” ujar Eko, dikutip dari keterangan resmi, Senin (18/5/2026)

Data Diskopindag menunjukkan bahwa Kota Malang memiliki 40.617 UMKM yang tersebar di berbagai sektor. Namun, hingga akhir 2025, baru 95 unit usaha yang berhasil mencatatkan transaksi ekspor dengan total nilai sekitar Rp100 miliar . Komoditas ekspor didominasi oleh produk makanan olahan seperti keripik tempe, serta produk kriya dan kerajinan tangan

Ratusan UMKM Dikurasi, Sektor Kriya dan Mamin Jadi Unggulan

Ratusan UMKM yang digembleng berasal dari beragam sektor, mulai dari kriya, makanan dan minuman olahan (mamin), fesyen, hingga perlengkapan rumah tangga. Kepala Bidang UMKM Diskopindag Kota Malang, Faried Suaidi, dalam kesempatan terpisah menyebut bahwa kriya dan fesyen masih menjadi primadona ekspor karena tingginya permintaan pasar internasional

“Produk UMKM yang paling diminati di pasar internasional itu masih kriya dan fashion. Kuliner juga ada, seperti aneka keripik,” ujar Faried.

Proses kurasi menjadi gerbang utama. Setiap produk yang masuk program pembinaan akan melalui pemeriksaan ketat, mencakup legalitas usaha, standar kualitas produk, desain kemasan, hingga kapasitas produksi berkelanjutan. Eko menegaskan bahwa UMKM yang belum lolos tidak akan dilepas begitu saja.

“Kalau ada yang belum sesuai standar, langsung kami dampingi lagi. Jadi tidak dilepas begitu saja,” katanya.

Pendampingan ini mencakup perluasan cakupan tim pendamping yang menyasar 50 hingga 100 UMKM per periode, dengan materi lebih detail seperti pengemasan dan pemasaran digital.

Perluas Pasar ke Jepang dan Selandia Baru, Kolaborasi dengan Diaspora

Saat ini, produk UMKM Kota Malang telah menembus sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, dan Brunei Darussalam. Beberapa produk bahkan telah merambah pasar Asia Timur seperti Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan.

Pemkot Malang kini membidik pasar baru yang lebih menantang: Jepang dan Selandia Baru. Upaya ekspansi ke Jepang menunjukkan progres positif setelah Pemkot menjalin komunikasi dengan diaspora Indonesia di sana yang memiliki akses jaringan perdagangan.

“Yang di Jepang sudah komunikasi dengan kami dan punya akses pasar di sana. Untuk Selandia Baru sedang kami upayakan juga,” ujar Eko.

Untuk Selandia Baru, strategi yang disiapkan adalah mengundang jejaring diaspora agar dapat melihat langsung potensi produk UMKM Kota Malang.

Langkah ini sejalan dengan program Klinik Ekspor Bea Cukai Malang Raya yang sejak 2025 telah aktif mendampingi UMKM. Melalui program “Ngopi Ekspor”, Bea Cukai mengundang praktisi dan fasilitator ekspor untuk membantu UMKM memahami regulasi, prosedur kepabeanan, hingga mencari pembeli potensial. Hingga pertengahan 2025, program ini telah mengantarkan 35 UMKM di Malang Raya melakukan ekspor perdana

Proyeksi Nilai Ekspor: Dari Rp100 Miliar Menuju Rp1 Triliun

Ambisi menambah 200 UMKM eksportir baru bukan tanpa kalkulasi. Jika target ini tercapai, nilai ekspor produk UMKM Kota Malang diproyeksikan melonjak signifikan dari posisi saat ini sekitar Rp100 miliar menjadi sekitar Rp1 triliun.

“Pada 2026 produk UMKM yang ekspor bisa meningkat 50 persen. Klinik ekspor dimaksimalkan karena pasarnya sudah terbuka dan kami memiliki kerja sama dengan luar negeri,” tutur Eko.

Namun, tantangan tetap mengintai. Pejabat Fungsional Pemeriksa Ahli Pertama Bea Cukai Malang, Agnita Aditya Wardani, mencatat bahwa banyak UMKM masih menghadapi kendala klasik: kesiapan produksi dalam volume besar dan konsistensi kualitas.

“Pegiat UMKM sering merasa terbebani ketika diminta memproduksi dalam jumlah besar dan kewajiban menjaga kualitas produk mereka. Ini menjadi perhatian penting dalam memperluas ekspor secara berkelanjutan,” ujarnya.

Di tengah tantangan tersebut, Pemkot Malang optimistis kolaborasi lintas sektor—Diskopindag, Bea Cukai, MCC, dan diaspora—mampu menjadi katalis bagi UMKM naik kelas. Jika target 200 UMKM eksportir terpenuhi, Kota Malang akan mencatatkan lompatan bersejarah dalam peta ekspor UMKM nasional (rw/dnv).