UIN Maliki Malang dan KMUTT Thailand percepat program double degree Magister Biologi, perkuat riset regional dan atasi hambatan transfer kredit.
INDONESIAONLINE – Persaingan perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara kini tidak lagi sekadar diukur dari jumlah publikasi ilmiah atau peringkat akreditasi kampus. Data QS World University Rankings 2026 menunjukkan, 42 universitas di ASEAN masuk dalam daftar 500 besar dunia, naik 50% dari hanya 28 universitas pada 2020, didorong oleh percepatan kolaborasi riset lintas batas yang terintegrasi.
Salah satu langkah strategis untuk merespons tren ini datang dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, yang mempercepat peluncuran program double degree Magister Biologi bersama King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT) Thailand.
UIN Maliki Malang, yang menempati peringkat 15 besar universitas di Indonesia versi Webometrics 2025, melihat kolaborasi ini sebagai cara untuk menembus dominasi kampus besar di kawasan ASEAN dalam jejaring riset biologi global.

“Selama ini, riset biologi di perguruan tinggi Indonesia seringkali terisolasi, padahal tantangan sains modern seperti perubahan iklim dan konservasi biodiversitas membutuhkan kolaborasi lintas negara yang konkret,” ujar Dekan FST UIN Maliki Malang Prof. Dr. Evika Sandi Savitri di sela pertemuan hybrid antara kedua institusi yang digelar awal Mei 2026.
KMUTT Thailand, yang berada di peringkat 202 dunia versi QS 2026 dan masuk dalam tiga besar universitas di Thailand untuk bidang sains hayati, membawa keunggulan dalam riset bioteknologi dan fasilitas laboratorium berstandar internasional.
Data KMUTT 2026 menunjukkan, departemen Biologinya memiliki 17 laboratorium riset yang diakreditasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Riset, dan Inovasi Thailand, dengan rata-rata 4,2 publikasi terindeks Scopus per dosen setiap tahun.
Tantangan utama yang selama ini menghambat program double degree di Indonesia adalah ketidaksesuaian kurikulum dan sistem transfer kredit. Laporan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) 2024 menyebutkan, 63% program double degree di Indonesia mengalami penundaan hingga 1,8 semester lebih lama dari masa studi reguler, karena perbedaan standar akreditasi antar kampus. Persoalan ini pula yang menjadi fokus utama pembahasan dalam pertemuan kedua institusi belum lama ini.
Untuk mengatasi hal ini, tim kurikulum dari UIN Maliki Malang dan KMUTT tengah menyusun pemetaan mata kuliah yang memungkinkan 30 dari 36 kredit program Magister Biologi KMUTT dan 32 dari 38 kredit program Magister Biologi UIN Maliki Malang saling diakui.
“Mahasiswa tidak perlu mengulang mata kuliah yang sebenarnya memiliki kompetensi serupa. Kami menargetkan masa studi double degree ini tetap 2 tahun (4 semester), sama dengan masa studi reguler, agar efisien bagi mahasiswa,” jelas Ketua Program Studi S2 Biologi UIN Maliki Malang Dr. Dwi Suheriyanto.
Lebih dari sekadar peluang memperoleh dua gelar dalam satu masa studi, program ini diarahkan untuk memperkuat posisi riset biologi UIN Malang agar mampu masuk dalam jejaring akademik internasional yang selama ini masih didominasi kampus-kampus besar di kawasan Asia.
Prof. Evika menegaskan bahwa kerja sama internasional harus diarahkan pada penguatan kualitas riset dan kapasitas lulusan, bukan sekadar seremoni antar kampus. “Kami ingin kerja sama ini menghasilkan peningkatan mutu pendidikan dan riset yang nyata. Pengalaman belajar lintas negara harus mampu memperkuat kompetensi mahasiswa dan membuat lulusan lebih siap bersaing secara global,” ujarnya.
Isu pendanaan juga menjadi fokus pembahasan. Selama ini, biaya mobilitas mahasiswa seringkali menjadi hambatan utama partisipasi dalam program internasional. KMUTT membuka skema bantuan pendanaan bagi 10 mahasiswa terbaik UIN Maliki Malang per angkatan, yang menanggung 70% biaya kuliah dan living allowance di Thailand.
UIN Maliki Malang juga akan memberikan subsidi 20% dari anggaran kerja sama internasionalnya, sehingga mahasiswa hanya perlu membayar 10% dari total biaya, atau sekitar Rp4,5 juta per semester.
Selain itu, kedua kampus merancang sistem pembimbingan tesis kolaboratif, di mana setiap mahasiswa double degree akan dibimbing oleh satu dosen dari UIN Maliki Malang dan satu dosen dari KMUTT. Fokus riset yang akan didorong meliputi bioteknologi tanaman langka, konservasi mangrove, dan biologi lingkungan, yang merupakan bidang unggulan kedua institusi.
“Mahasiswa akan mendapat akses ke laboratorium KMUTT yang dilengkapi alat sekuensing generasi baru dan mikroskop konfokal, yang saat ini belum dimiliki penuh oleh laboratorium kami. Ini akan meningkatkan kualitas penelitian mereka secara signifikan,” tambah Dr. Dwi.
Kolaborasi dengan KMUTT berpotensi memperkuat kapasitas riset mahasiswa melalui akses jejaring laboratorium dan pengembangan penelitian bersama lintas negara. Dr. Dwi menyebut tantangan sains modern membutuhkan kolaborasi internasional yang lebih terbuka dan adaptif.
“Riset biodiversitas di Jawa Timur, misalnya, bisa dipadukan dengan teknologi bioteknologi KMUTT untuk pengembangan obat herbal berbasis tanaman endemik. Ini adalah nilai tambah yang tidak bisa didapatkan dari program reguler,” katanya.
Program double degree ini juga menjadi bagian dari upaya UIN Malang memperluas pengaruh akademiknya di tingkat internasional. Data ASEAN University Network (AUN) 2025 menunjukkan, jumlah program double degree lintas ASEAN meningkat 78% dari 2020 hingga 2025, dengan 62% di antaranya berfokus pada bidang STEM. Indonesia sendiri memiliki 114 program double degree aktif dengan mitra ASEAN, naik dari hanya 47 program pada 2020.
Di tengah kompetisi global perguruan tinggi yang semakin ketat, kemampuan membangun ekosistem pendidikan lintas negara akan menjadi penentu baru kualitas sebuah kampus di masa mendatang. Rencananya, angkatan pertama program double degree ini akan mulai perkuliahan pada Januari 2027, dengan kuota 20 mahasiswa dari UIN Maliki dan 10 mahasiswa dari KMUTT. UIN Maliki Malang juga menargetkan 15% lulusannya memiliki publikasi internasional terindeks Scopus dalam tiga tahun ke depan, naik dari hanya 3% pada 2025.
“Kami berharap program ini bisa menjadi jembatan bagi riset biologi Indonesia untuk lebih dikenal di kawasan ASEAN, sekaligus memperkuat posisi UIN Maliki sebagai kampus riset unggulan di Jawa Timur,” tutup Prof. Evika.













